PLN Anggap Jaringan Listrik Bersama Belum Cocok di Indonesia, Mengapa?

Mekanisme power wheeling atau jaringan listrik bersama dinilai tak cocok diterapkan di Indonesia karena PLN membangun seluruh infrastruktur kelistrikan.
Image title
20 Agustus 2021, 16:19
pln, jaringan listrik, listrik
ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Pekerja melakukan perawatan jaringan listrik di Jakarta, Jumat (12/7/2019).

PLN menilai skema power wheeling atau pemanfaatan bersama jaringan listrik belum cocok untuk diterapkan di Indonesia. Terlebih, akan banyak tambahan pasokan listrik dengan beroperasinya proyek 35 ribu megawatt (MW).

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Syahril, menilai power wheeling kurang tepat jika diterapkan dalam sistem ketenagalistrikan di Indonesia saat ini. Pasalnya, perusahaan setrum pelat merah ini telah menyediakan pembangunan dalam bentuk infrastruktur kelistrikan.

Menurut dia skema daripada industri ketenagalistrikan di Indonesia saat ini bukan seperti mekanisme pasar. Sejumlah produsen listrik swasta atau IPP memiliki kontrak jangka panjang yang telah disepakati dengan PLN.

"IPP dan PLN dianggap sebagai single buyer. Jadi kalau kita berbicara dengan power wheeling kita kan membukakan akses pada pembangkit pada pasarnya, maka di dalam sistem ketenagalistrikan saat ini tidak cocok," ujar dia kepada Katadata.co.id, Jumat (20/8).

PLN sendiri mengusulkan agar pemerintah menunda penerapan skema power wheeling. Mengingat mekanisme di dalam bisnis ketenagalistrikan di Indonesia sangat berbeda dengan pasar listrik yang ada di luar negeri. "Kami mengusulkan jangan dulu, urgensinya belum ada," katanya.

Kementerian ESDM saat ini memang tengah menyiapkan draft aturan terbaru mengenai mekanisme pemanfaatan bersama jaringan listrik. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam menggenjot pemanfaatan dari sumber energi terbarukan.

Koordinator Penyiapan Usaha Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Gigih Atmo mengatakan pemerintah sedang menyusun aturan main agar skema ini dapat diterapkan di Indonesia. Pasalnya, potensi pasar dengan menggunakan skema ini sangat besar dan terbuka lebar.

"Masih disiapkan draftingnya. Akhir Agustus sudah mulai konsultasi publik," ujarnya kemarin dalam diskusi secara virtual.

Menurut dia power wheeling memberi kesempatan bagi perusahaan global yang tergabung dalam RE100 untuk dapat melistriki fasilitas mereka dari sumber energi bersih.

Adapun negara tetangga seperti Singapura telah menyatakan ketertarikannya untuk membeli listrik dari Indonesia, utamanya bersumber dari PLTS. Sehingga, Gigih menilai ini tergantung pemerintah dalam melihat peluang dan memfasilitasinya.

Sebagai informasi, power wheeling merupakan mekanisme yang dapat memudahkan transfer energi listrik dari sumber energi baru terbarukan atau pembangkit listrik swasta ke fasilitas operasi PLN secara langsung. Khususnya dengan memanfaatkan jaringan transmisi yang dimiliki dan dioperasikan oleh PLN.

Mekanisme ini sebenarnya telah tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Kerja Sama Penyediaan Tenaga Listrik dan Pemanfaatan Bersama Jaringan Tenaga Listrik. Namun hingga kini implementasi dari aturan tersebut tak kunjung jalan.

"Kita sudah punya permen power wheeling Nomor 1 2015. Kenapa itu tidak jalan? Ya tentu saja ada penyebabnya. Nah itu sedang kami cari," ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana Kementerian ESDM beberapa waktu lalu.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait