Strategi PLN Genjot Konsumsi Listrik di Tengah Pemulihan Ekonomi

PLN menyiapkan strategi untuk menangkap sinyal perekonomian yang mulai pulih, untuk meningkatkan permintaan listrik.
Image title
21 September 2021, 16:44
PLN, listrik, permintaan listrik, konsumsi listrik
Arief Kamaludin|KATADATA
PLN

PLN tengah berupaya menggenjot konsumsi listrik yang sempat terpukul akibat pandemi Covid-19. Seiring dengan sinyal pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik, konsumsi listrik hingga Agustus 2021 mencapai 166,7 terawatt hour (TWh), tumbuh 4,5% dalam setahun.

Perusahaan setrum pelat merah ini pun akan memanfaatkan momentum tersebut. "PLN menyiapkan empat strategi untuk menangkap peluang ini," kata Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril melalui keterangan tertulis, Selasa (21/9).

Pertama, memastikan pelanggan mendapatkan pasokan listrik berapapun daya yang mereka butuhkan. Besarnya daya mampu listrik PLN saat ini mencapai 57 gigawatt (GW), dan akan bertambah lagi dengan selesainya pembangkit dari proyek-proyek 35.000 MW.

Kedua, mempercepat semua proses, dari sisi sambung baru hingga tambah daya listrik dengan menggunakan aplikasi PLN Mobile. "Dengan PLN Mobile, layanan PLN semakin mudah dan cepat didapatkan oleh pelanggan," ujarnya.

Ketiga, selain menyasar industri dan rumah tangga, PLN juga sedang menangkap captive market seperti sektor pertanian, budidaya ikan, perkebunan. Selama ini, sektor ini masih kerap menggunakan BBM sebagai bahan bakar peralatan produksinya.

"Dari segi biaya dan efisiensi kita pastikan lebih andal dengan memakai listrik. Sehingga masyarakat bisa meningkatkan produktivitasnya," ujar Bob. Simak tren kenaikan konsumsi listrik nasional sebelum terjadinya pandemi Covid-19 pada databoks berikut:

Keempat, bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan konsumsi listrik. PLN terus memberikan kemudahan dan stimulus listrik bagi pelanggan. Mulai dari diskon tambah daya dan dikson pemakaian listrik saat malam hari bagi Industri.

PLN juga menyambut baik akan dijalankannya aturan baru terkait tarif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) kendaraan listrik, termasuk mobil listrik yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2021. Beleid yang diteken Presiden Jokowi dan diundangkan pada 2 Juli 2021 ini akan berlaku per tanggal 16 Oktober 2021.

Hadirnya aturan ini menurut Bob akan menurunkan harga jual kendaraan listrik di Indonesia, yang tentunya dapat meningkatkan penggunaan dan investasi kendaraan listrik di Indonesia. "Dengan adanya kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan konsumsi listrik lebih baik lagi," katanya.

PLN pun memastikan telah siap menyediakan listrik untuk pemilik kendaraan listrik. PLN memberikan insentif kepada pengguna kendaraan listrik berupa seperti biaya penyambungan guna tambah daya listrik di rumah, diskon tarif listrik selama tujuh jam dari pukul 22.00-05.00 WIB untuk pengisian daya kendaraan listrik di rumah.

Untuk mendorong ekosistem kendaraan listrik, PLN juga telah menyediakan 42 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun ini PLN merencanakan penambahan 168 unit SPKLU baru secara total. Sebanyak 67 unit SPKLU di antaranya bakal dibangun oleh PLN sendiri, sementara sebanyak 101 unit SPKLU diharapkan bisa dibangun oleh swasta.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ida Nuryatin Finahari optimistis pemulihan ekonomi yang mulai terasa bisa mendorong perbaikan konsumsi listrik. ESDM terus mengawal PLN dalam memberikan pelayanan yang terbaik untuk para pelanggan.

"Kami berharap seluruh sektor bisa berjalan normal. Dengan adanya program hidup bersama pandemi dan ekonomi mulai bergeliat, kami berharap konsumsi listrik juga mulai membaik," kata Ida.

Konsumsi listrik di wilayah DKI Jakarta dan Tangerang sempat anjlok pada masa awal pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, simak databoks berikut:

Untuk diketahui, sektor industri bahkan mencatatkan pertumbuhan konsumsi listrik yang cukup signifikan mencapai 10,5% selama Agustus 2021. Adapun sektor industri yang mengalami pertumbuhan khususnya di industri besi baja, pengolahan kimia dan pengolahan makanan.

Sektor tekstil juga cukup menggembirakan karena berkontribusi 23,4% dari pertumbuhan sektor ini. Sedangkan industri baja berkontribusi 21,7% dan sektor rumah tangga tumbuh 2,3%.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait