Baru Terealisasi 46%, Target DMO Batu Bara Tahun Ini Sulit Tercapai

Realisasi DMO batu bara hingga September 2021 mencapai 63,47 juta ton atau hanya 46% dari target 137,5 juta ton.
Image title
18 Oktober 2021, 12:22
batu bara, dmo batu bara
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/hp.
Foto udara tempat penumpukan sementara batu bara di Muarojambi, Jambi.

Serapan kebutuhan batu bara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) pada tahun ini diprediksi tidak akan tercapai. Menurut data Kementerian ESDM hingga akhir September 2021 realisasinya baru mencapai 63,47 juta ton atau 46% dari kuota DMO batu bara yang ditetapkan tahun ini sebanyak 137,5 juta ton.

"Jadi realisasi DMO cukup jauh dari yang diharapkan, dengan waktu yang tersisa 3 bulan lagi saja realisasi kita belum bisa teroptimalkan," kata Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan, dalam Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (18/10).

Belum maksimalnya realisasi DMO sepanjang tahun ini terjadi lantaran beberapa faktor. Salah satunya yakni faktor kebutuhan listrik turun cukup signifikan. Hanya selang beberapa hari lalu saja PLN mengumumkan beban puncak listrik Jawa Bali mencetak rekor tertinggi.

Sehingga, kebutuhan baru bara dalam negeri untuk kelistrikan masih belum terdongkrak. Ini menyebabkan serapan batu bara lokal tidak signifikan.

Di samping itu, Mamit setuju dengan adanya disparitas harga DMO dengan harga ekspor, pemerintah memang perlu mengatur terkait perubahan pembatasan harga DMO. Meski demikian, di tengah konsumsi yang terus menurun dan pertumbuhan listrik yang belum naik signifikan.

Maka hal ini sudah tentu berpotensi memberatkan kondisi PLN. Apalagi kondisi oversupply untuk Jawa Sumatera saat ini telah mencapai 50%. "Diskusi dengan pemerintah terkait kenaikan harga DMO sebisa mungkin tidak memberatkan PLN karena dampaknya akan ke masyarakat," ujar Mamit.

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Batu Bara dan Energi Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengatakan pihaknya selama ini telah menjalin komunikasi yang baik dengan Kementerian ESDM untuk mengamankan pasokan batu bara di dalam negeri.

Dalam komunikasi tersebut, dia meminta agar harga DMO dapat bersifat fleksibel. Pasalnya dengan harga DMO yang telah dikunci di level US$ 70 per ton terdapat disparitas harga ekspor yang cukup tinggi.

"Ini perlu ada rumusan baru di tengah situasi yang sangat dinamis ini. Yang terpenting adalah, ekosistem di supplier, kan ada penambang, ada ekosistem supplier dan sistem penambang besar ini harus menjadi sesuatu hal yang kita atur agar bisa menjamin kepastian supply dalam negeri," ujarnya.

Dia berharap tidak hanya penambang besar aja yang dapat memasok kebutuhan batu bara untuk dalam negeri untuk saat ini. Namun kedepan penambang kecil juga diberikan kesempatan yang sama menyuplai batu bara untuk kebutuhan DMO.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait