Dekarbonisasi Sasar Industri Perkapalan, Siapkah Pertamina Shipping?

Pertamina Shipping telah menyiapkan peta jalan atau roadmap untuk mengurangi jejak emisi karbonnya di industri perkapalan,
Image title
28 Desember 2021, 15:39
pertamina international shipping, industri kapal, emisi karbon, dekarbonisasi
Pertamina
Kapal tanker Pertamina International Shipping.

Pemerintah terus mendorong perusahaan untuk melakukan upaya dekarbonisasi untuk pengurangan emisi karbon, tak terkecuali pada industri perkapalan dan pelabuhan yang salah satu pemainnya di Indonesia adalah Pertamina International Shipping (PIS).

Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro Kementerian Investasi/BKPM Indra Darmawan menyebut, setahun belakangan ini isu pengurangan emisi menjadi bahasan penting para pemimpin di dunia. Cepat atau lambat isu dekarbonisasi ini menurut dia juga akan menyasar pada sektor perkapalan.

Sehingga, hal tersebut harus menjadi perhatian para pelaku usaha yang bergerak di sektor pelayaran. Utamanya untuk mulai melakukan transformasi bisnis ke dalam upaya pengurangan emisi karbon.

"Bisa berupa pengurangan bahan bakar yang kotor menjadi lebih bersih bisa juga efisien energi dan juga efisiensi perusahaan. kira kira begitu. kita harus menanamkan optimisme," kata dia dalam Linking Investment and Business Prospect of Integrated Marine Logistics in Indonesia AN OUTLOOK 2022, Selasa (28/12).

Direktur Utama Pertamina International Shipping Erry Widiastono menyadari dunia saat ini memang berubah sangat cepat. Saat ini, banyak perusahaan dunia bergerak untuk mengadopsi prinsip berkelanjutan karena tuntutan pada Environmental, Social dan Governance (ESG).

Untuk menghadapi tantangan tersebut, PIS sendiri telah merumuskan peta jalan untuk menjadi green integrated marine logistics company. Hal tersebut untuk mendukung upaya Pertamina dalam mengurangi jejak karbonnya.

Setidaknya, peta jalan ini dibagi menjadi tiga tahap. Untuk kegiatan operasi di tahap pertama, hingga 2030 perusahaan menargetkan pengurangan carbon footprint dengan menggunakan BBM bersulfur rendah (Low Sulfur Fuel Oil - LSFO), lalu pengunaan Marine Diesel Oil (MDO).

Selanjutnya, pihaknya juga akan melakukan pengurangan konsumsi bahan bakar melalui pengurangan kecepatan kapal, pembersihan lambung kapal secara berkala, minimum ballast navigation, dan pengoptimalan rencana pelayaran.

Tak ketinggalan, perusahaan juga akan menerapkan ballast water treatment system, dan penerapan instalasi scrubber.

"Kami juga mengarah pada green cargo. Ke depan kami akan berkonsentrasi pada kargo-kargo yang lebih hijau, dalam hal ini LPG dan LNG yang tentu sejalan dengan program pemerintah nantinya yakni DME," katanya.

Pada tahap ke dua mulai dari tahun 2030-2040, perusahaan juga akan menggunakan Teknologi Dual Fuel Vessels (LPG dan LNG carrier). Di tahap ini, PIS juga akan menerapkan kapal-kapal yang eco friendly atau ramah lingkungan.

Beberapa diantaranya yakni dengan mengurangi konsumsi bahan bakar dengan mengintegrasikan panel surya-kapal, pengoptimalan propeller, injektor kecepatan, dan teknologi cat baru. Selain itu, perusahaan juga akan mengurangi zat berbahaya bagi lingkungan.

Kemudian pada tahap ketiga setelah 2040, perusahaan mempunyai target netral karbon, di antaranya dengan menerapkan penggunaan baterai, hydrogen fuel cell, ammonia-fueled tanker, dan electric tanker. "Lalu penggunaan bahan bakar netral karbon di infrastruktur pelabuhan dan meminimalkan kebocoran minyak dari produk," ujarnya.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait