Pensiunkan 2 PLTD di Kalteng, PLN Hemat Anggaran Rp 20,6 Miliar/Tahun

PLN mempensiunkan dua pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Kalimantan Tengah setelah merampungkan pembangunan gardu induk Gunung Mas.
Image title
7 Februari 2022, 08:24
pln, pembangkit listrik, pltd, gardu induk,
PLN
Gardu Induk Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

PLN merampungkan kontruksi gardu induk 150 kilovolt (KV) Kalselteng 1 Town Freeder Transformator (TFT) di Desa Tumbang Kajuei, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang akan menghubungkan sistem kelistrikan di wilayah tersebut dengan sistem kelistrikan Kalimantan.

Dengan beroperasinya GI tersebut, PLN akan mempensiunkan dua pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Tumbang Jutuh dan Tumbang Telaken. Selain meningkatkan keandalan pasokan listrik, penghentian operasional kedua PLTD ini akan membuat PLN dapat menghemat biaya hingga Rp 20,6 miliar per tahun.

“Gardu induk ini akan mengalirkan pasokan listrik dari PLTU IPP Kalselteng 1 berkapasitas 200 megawatt (MW),” kata General Manager Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Barat, Didik Mardiyanto, melalui keterangan tertulis, dikutip Senin (7/2).

Nantinya, GI Kalselteng 1 TFT akan dapat menyuplai listrik warga yang berada di Kecamatan Rungan dan Kecamatan Manuhing, di Kabupaten Gunung Mas, serta juga warga lain di sekitarnya.

Advertisement

“Dengan hadirnya infrastruktur ini tentunya akan meningkatkan keandalan listrik bagi pelanggan. Kami berharap dengan suplai listrik yang maksimal dapat meningkatkan geliat ekonomi warga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Didik.

Sebelumnya, 2.850 warga di kedua Desa tersebut hanya menikmati listrik 18 jam per hari. PLN mengoperasikan PLTD Tumbang Jutuh dan Tumbang Telaken untuk bisa melistriki masyarakat dengan biaya operasional mencapai Rp 20,6 miliar per tahun.

Dengan telah tersambung dengan sistem Kalimantan, pelanggan di wilayah tersebut bisa menikmati listrik 24 jam. Sedangkan PLN bisa menekan penggunaan PLTD sehingga bisa menghemat biaya operasional.

"Dengan hadirnya listrik PLN ini kami berharap aktivitas warga jadi semakin mudah, dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Desa Tumbang Jutuh dan Desa Tumbang Telaken, serta desa-desa disekitarnya," kata Didik.

Adapun pembangunan GI ini menelan investasi sebesar Rp 12 miliar dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 31,82%.

Selain itu, Didik menjelaskan, GI ini juga telah memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO) dari PLN Pusat Sertifikasi. SLO merupakan bukti pengakuan formal suatu instalasi listrik telah berfungsi sesuai persyaratan yang ditentukan dan dinyatakan siap dioperasikan.

“Alhamdullilah GI 150 kV Kalselteng 1 TFT ini sudah mendapatkan SLO. Hal ini juga bermanfaat untuk memastikan instalasi listrik yang beroperasi sesuai standar keselamatan berlaku,” ujar Didik.

Selain memperoleh SLO untuk GI 150 kV Kalselteng 1, PLN juga memperoleh SLO untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bangkanai (Peaker) Stage 2 Unit 13 berkapasitas 140 MW.

PLN juga menargetkan untuk menyelesaikan pembangunan jaringan interkoneksi antara sistem kelistrikan Barito di Kalimantan Tengah dan sistem Khatulistiwa di Kalimantan Barat yaitu proyek SUTT 150 kV Pangkalan Bun-Sukamara dan Sukamara-Kendawangan.

Hadirnya interkoneksi sistem kelistrikan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat bertujuan agar setiap sistem kelistrikan di Kalimantan dapat terhubung dan saling menopang satu dengan lainnya.

Menurut data Direktorat Ketenagalistrikan Kementerian ESDM per 18 Januari 2022, Indonesia memiliki kapasitas total PLTD sebesar 4,99 (MW) dan merupakan sumber pembangkitan listrik terbesar kelima. Simak databoks berikut:

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait