Gejolak Selat Hormuz dan Momentum Beralih ke Kemasan Biodegradable

Rika Mayasari Harahap
Oleh Rika Mayasari Harahap
7 Mei 2026, 08:05
Rika Mayasari Harahap
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz kembali menegaskan rapuhnya fondasi industri plastik global. Plastik konvensional seperti polyethylene, polypropylene, dan polyethylene terephthalate berasal dari turunan minyak dan gas. Ketika harga minyak melonjak, biaya produksi resin plastik ikut terdorong naik. 

Bagi Indonesia, dampaknya terasa lebih dalam karena tingginya ketergantungan pada impor nafta dari kawasan Timur Tengah sebagai bahan baku utama industri petrokimia.

Implikasi kenaikan biaya ini menjalar ke berbagai sektor. Industri makanan dan minuman menghadapi lonjakan biaya kemasan, sementara pelaku ritel dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga atau menekan margin keuntungan. Di sektor manufaktur, kenaikan biaya input mempersempit ruang efisiensi. Pada akhirnya, beban tersebut bermuara pada konsumen melalui kenaikan harga barang.

Kondisi ini menegaskan bahwa plastik bukan sekadar komponen pelengkap, melainkan elemen strategis dalam struktur biaya ekonomi. Ketergantungan pada bahan baku berbasis fosil menjadikan industri domestik sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Posisi Indonesia yang cenderung sebagai price taker semakin mempersempit ruang kebijakan saat terjadi disrupsi global.

Struktur penggunaan plastik di dalam negeri memperlihatkan kerentanan tersebut. Data OECD menunjukkan bahwa sektor kemasan menyerap porsi terbesar penggunaan plastik di Indonesia, mencapai sekitar 31% pada 2022. 

Tren ini bahkan meningkat, dengan beberapa laporan industri memperkirakan kontribusi sektor kemasan mendekati 48% pada 2025. Artinya, setiap guncangan harga bahan baku plastik akan langsung berdampak luas pada sektor yang bersentuhan langsung dengan konsumsi masyarakat.

Kelompok yang paling terdampak adalah pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan dan minuman. Ketergantungan tinggi pada kemasan plastik membuat mereka sulit menghindari kenaikan biaya. 

Kementerian UMKM mencatat lonjakan harga plastik hingga 40%-60% tidak hanya menggerus margin keuntungan, tetapi juga menekan omzet hingga 50%. Dalam jangka pendek, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah mengamankan pasokan bahan baku dari kawasan alternatif seperti Afrika, India, dan Amerika. 

Dalam perspektif jangka panjang, diversifikasi bahan baku menjadi keniscayaan. Salah satu opsi yang semakin relevan adalah pengembangan kemasan biodegradable berbasis biomassa. Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang kuat, yakni ketersediaan singkong sebagai sumber pati, rumput laut, serta limbah pertanian seperti ampas tebu dan residu kelapa sawit. 

Bahan-bahan ini dapat diolah menjadi biopolimer melalui berbagai proses, mulai dari ekstraksi pati hingga fermentasi menjadi asam laktat, yang kemudian diaplikasikan dalam produk kemasan.

Langkah diversifikasi ini sangat memungkinkan untuk didorong, mengingat industri kemasan biodegradable bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah pelaku usaha dalam negeri telah mengembangkan inovasi kemasan ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal, dan sebagian bahkan telah menembus pasar ekspor. 

Peran riset domestik juga semakin nyata dalam mendorong transisi ini. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan berbagai inovasi kemasan biodegradable, mulai dari bioplastik berbasis PLA melalui bioproses, pemanfaatan biomassa seperti aren dan selulosa, hingga kemasan aktif dengan sensor pH.

Fakta ini menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi kapasitas produksi dan inovasi yang cukup untuk membangun industri kemasan berkelanjutan secara lebih sistematis. Lebih jauh, pengembangan kemasan biodegradable membuka ruang bagi transformasi struktur ekonomi. Indonesia berpeluang naik kelas dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk industri berbasis biomassa bernilai tambah. 

Arah ini sejalan dengan agenda hilirisasi dan penguatan industri domestik. Nilai tambah diperkirakan dapat meningkatkan nilai ekspor secara signifikan, bahkan hingga beberapa kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah.

Prospek tersebut semakin kuat seiring meningkatnya permintaan global terhadap kemasan berkelanjutan. Tren pelarangan plastik sekali pakai di berbagai negara telah mendorong pergeseran preferensi pasar. 

Laporan Sustainable Packaging Market Analysis and Forecast 2026 - 2033 memperkirakan nilai pasar kemasan berkelanjutan global mencapai sekitar US$462,69 miliar pada 2026 dan terus meningkat hingga melampaui US$772 miliar pada 2033. Dalam lanskap ini, kemampuan menyediakan kemasan biodegradable berpotensi menjadi salah satu faktor penentu daya saing ekspor Indonesia di masa depan.

Dari sisi lingkungan, pengembangan ini sejalan dengan komitmen lingkungan Indonesia, baik nasional maupun global. Secara domestik, hal ini didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut, serta Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon yang mendorong pengurangan sampah dan emisi. 

Di tingkat global, Indonesia berkomitmen melalui Paris Agreement, terlibat dalam negosiasi polusi plastik di United Nations Environment Assembly, serta berpartisipasi dalam inisiatif seperti Global Plastic Action Partnership, yang secara keseluruhan memperkuat arah transisi menuju ekonomi sirkular dan posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi global.

Namun, transisi ini tidak akan terjadi secara otomatis dan memerlukan intervensi kebijakan yang terarah. Langkah pengembangan dapat dimulai dari hulu dengan memetakan bahan baku berbasis biomassa sebagai substitusi plastik konvensional, sekaligus mengoptimalkan keunggulan daerah. Bahan-bahan tersebut perlu dipetakan berdasarkan wilayah produksi utama guna menekan biaya logistik dan memperkuat rantai pasok domestik.

Sebagai contoh, Nusa Tenggara Timur memiliki potensi rumput laut sekitar 51.870 hektare dengan produksi 1,8 juta ton per tahun, yang dapat menjadi sumber biopolimer. Jawa Timur dengan bahan baku pati dan tebu, serta Sumatra dengan biomassa kelapa sawit. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kemasan biodegradable dapat didorong melalui pendekatan berbasis potensi wilayah yang terintegrasi.

Di sisi lain, akselerasi industri memerlukan insentif fiskal dan kepastian regulasi agar inovasi yang saat ini masih terbatas dapat naik ke skala produksi massal. Integrasi riset dan industri juga menjadi kunci, termasuk melalui pendanaan dan standardisasi yang jelas. 

Dalam konteks ini, langkah Kementerian Perindustrian yang tengah menyiapkan peta jalan, rencana aksi, dan Rancangan Standar Nasional Industri (RSNI) menjadi krusial untuk memastikan produk biodegradable tidak hanya layak secara lingkungan, tetapi juga kompetitif di pasar global.

Lebih lanjut, Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan geografis dan sumber daya alamnya untuk menarik investasi, baik domestik maupun asing, termasuk melalui kerja sama alih teknologi dan kebijakan perdagangan yang mendukung produk kemasan berkelanjutan. 

Keunggulan geografis Indonesia di kawasan Asia-Pasifik memberikan akses langsung ke pasar besar dan berkembang seperti negara-negara ASEAN, Tiongkok, India, dan Australia, memungkinkan Indonesia terintegrasi dalam rantai pasok regional dan global untuk material biodegradable

Krisis di Selat Hormuz memberi pelajaran bahwa ketergantungan pada plastik berbasis fosil menyimpan risiko laten yang kerap tak terlihat dalam kondisi normal. Transisi menuju kemasan biodegradable menawarkan salah satu jalur strategis untuk memperkuat ketahanan industri sekaligus meningkatkan daya saing. 

Pada akhirnya, arah kebijakan hari ini akan menentukan posisi Indonesia dalam lanskap industri global ke depan. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi tersebut.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Rika Mayasari Harahap
Rika Mayasari Harahap
Analis Perdagangan di Kementerian Perdagangan

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...