Jauh di Sana, Terasa di Sini

Bhaskara Adiwena
Oleh Bhaskara Adiwena
8 September 2026, 07:05
Bhaskara Adiwena
Katadata/ Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Krakatau pernah meletus pada 1883 dan menewaskan puluhan ribu orang. Dampaknya terasa jauh hingga ke berbagai belahan dunia, termasuk menurunkan suhu bumi. Sebuah gunung di Selat Sunda ternyata dapat memengaruhi kehidupan orang yang tinggal ribuan kilometer darinya. Dalam ekonomi, hubungan semacam ini juga terjadi. 

Contoh terbaru datang dari Amerika Serikat (AS). Pada Agustus 2026, jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls) bertambah 162 ribu. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata bulanan selama setahun sebelumnya, yakni 31 ribu. Tingkat pengangguran juga masih bertahan di 4,1%.

Bagi masyarakat AS, ini tentu kabar baik. Lebih banyak pekerjaan berarti lebih banyak orang mendapat penghasilan. Ada uang untuk membayar rumah, membeli makanan, dan menyekolahkan anak. Pemerintah pun punya alasan untuk merayakannya.

Namun, investor di pasar keuangan belum tentu ikut senang. Mengapa?

Menunggu Bunga Turun

Saat ini, pasar masih menanti satu hal, yaitu penurunan suku bunga AS.

Suku bunga yang lebih rendah membuat pinjaman lebih murah. Perusahaan bisa lebih leluasa membuka usaha atau menambah produksi. Masyarakat juga lebih ringan mencicil rumah dan kendaraan. Kegiatan ekonomi bergerak, dan keuntungan perusahaan berpeluang meningkat. Harapan seperti ini biasanya disukai pasar saham.

Hanya saja, bank sentral AS, The Fed, juga harus menjaga agar harga-harga tidak naik terlalu cepat. Jika inflasi masih tinggi, menurunkan bunga terlalu cepat bisa membuat belanja kembali meningkat dan harga semakin sulit dikendalikan.

Ketika pekerjaan masih bertambah cukup banyak, The Fed memiliki alasan untuk tidak terburu-buru menurunkan suku bunga. Ekonomi dianggap masih mampu berjalan meskipun pinjaman belum murah.

Investor kemudian menghitung ulang. Era bunga rendah yang ditunggu mungkin datang lebih lama. Jika inflasi memburuk, bunga bahkan bisa naik lagi.

Inilah yang disebut good news is bad news. Kabar baik tentang pekerjaan bisa menjadi kabar buruk bagi investor yang berharap suku bunga segera turun.

Tentu, tambahan pekerjaan tidak otomatis membuat suku bunga naik. The Fed tetap harus melihat berbagai data. Namun, pasar sering bergerak lebih dahulu, berdasarkan perkiraan tentang apa yang akan terjadi.

Keinginan Trump

Donald Trump menginginkan pekerjaan bertambah sekaligus bunga turun. Secara politik, keinginan ini mudah dimengerti. Siapa yang tidak ingin ekonomi tumbuh, lapangan kerja tersedia, dan cicilan murah?

Namun, sebagian kebijakannya dapat mempersulit keinginan itu. Tarif impor dapat menaikkan harga barang maupun bahan baku. Pembatasan imigrasi dapat mengurangi tambahan pasokan pekerja, sehingga perusahaan lebih sulit memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Perang Iran mendorong kenaikan harga energi. 

Bukan berarti semua kebijakan tersebut pasti membuat inflasi terus naik. Perusahaan bisa menanggung sebagian biaya, mencari pemasok lain, atau meningkatkan efisiensi. Namun, risikonya tetap ada.

Ada keinginan yang sulit dipertemukan. Trump meminta bunga rendah, sementara sebagian kebijakannya dapat membuat The Fed lebih berhati-hati menurunkan bunga.

Indonesia Ikut Merasakan

Bagi Indonesia, akibatnya dapat datang dari dua arah: dolar dan minyak. Jika tekanan inflasi membuat bunga AS bertahan tinggi, investor bisa lebih tertarik menempatkan dana di sana. Rupiah pun berpotensi melemah. Pada saat yang sama, gangguan pasokan minyak bisa membuat energi yang kita impor menjadi lebih mahal. Artinya, kita menghadapi pelemahan rupiah, sekaligus kenaikan harga barang-barang.

Biaya tambahan itu harus ditanggung seseorang. Bisa oleh perusahaan melalui margin keuntungan yang berkurang, pemerintah melalui anggaran subsidi, atau masyarakat melalui kenaikan harga.

Bank Indonesia pun harus mempertimbangkan kondisi rupiah sebelum menurunkan bunga. Akibatnya, ruang untuk membuat pinjaman lebih murah di dalam negeri bisa ikut terbatas.

Saat ini, pasar barangkali berharap ekonomi AS melambat secukupnya agar inflasi turun, tanpa membuat terlalu banyak orang kehilangan pekerjaan. Harapan yang mudah diucapkan, tetapi sulit diatur.

Seperti Krakatau, dampak sebuah peristiwa bisa berjalan jauh dari tempat asalnya. Tambahan pekerjaan di AS memang membawa kelegaan bagi keluarga di sana. Namun, melalui suku bunga dan dolar, kabar yang sama bisa menambah biaya bagi pengusaha dan pembeli di Indonesia.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Bhaskara Adiwena
Bhaskara Adiwena
Peneliti Group Riset, Lembaga Penjamin Simpanan

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...