Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kurang dari tiga pekan setelah suku bunga acuan Bank Indonesia naik 50 bps, BI menaikkan lagi suku bunga acuannya 25 bps menjadi 5,5% dalam rapat mingguan pada Selasa (9/6). Keputusan yang sebenarnya tak lazim dilakukan, tetapi dinilai perlu ditempuh BI di tengah anjloknya nilai tukar rupiah. 

Keputusan ini juga muncul hanya berselang dua hari usai konferensi pers dadakan di Gedung DPR yang dihadiri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad Sabtu (6/6). Kemunculan mereka bertujuan untuk menenangkan pasar yang bergejolak sepanjang pekan lalu. 

Ada dua poin penting yang disampaikan dalam konferensi pers tersebut. Pertama, Perry  menjanjikan imbal hasil investasi portofolio di Indonesia akan dibuat lebih menarik. Menurut dia, hal ini dibutuhkan karena kenaikan tingkat suku bunga di luar negeri telah menyebabkan terjadinya aliran modal asing keluar dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia atau SRBI.

Kedua, menurut Perry, BI dan pemerintah sepakat menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Salah satunya melalui pengelolaan kas pemerintah di BI dengan peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan bank sentral kepada pemerintah.

Dengan demikian, menurut Perry, operasi moneter diharapkan tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sedangkan operasi fiskal juga diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Mengapa Suku Bunga BI Perlu Naik Lagi?

Namun, iming-iming yang disampaikan para pejabat dalam konferensi dadakan di DPR itu  tampaknya belum cukup memulihkan kepercayaan pelaku pasar di awal pekan. Pada perdagangan Senin (8/6), tekanan di pasar keuangan masih berlanjut. Investor asing tetap melakukan aksi jual besar-besaran di pasar saham. Kurs rupiah juga semakin terpuruk.

Kejatuhan IHSG pada Senin (8/6) sebenarnya terjadi akibat faktor global, yakni meningkatnya konflik antara Iran dengan Israel. Israel kembali melancarkan serangan ke wilayah Beirut pada Minggu (7/6). Sebagai balasan, Iran menembakkan rentetan rudal ke sejumlah target di Israel.

Aksi saling serang tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa upaya perdamaian yang tengah dijajaki AS dan Iran akan terganggu. Gejolak pun terjadi di bursa saham global yang juga berdampak ke IHSG dan nilai tukar rupiah. 

Kurs rupiah pada Senin (8/6) terperosok hingga mendekati 18.200 per dolar AS. 

"Dalam berbagai evaluasi hari ini, kami melihat pelemahan nilai tukar rupiah telah melebihi yang kami proyeksikan dulu. Karenanya, langkah-langkah kebijakan lanjutan dibutuhkan untuk penguatan nilai tukar rupiah," ujar Gubernur Perry Warjiyo di Gedung DPR pada Selasa (9/6). 

Usai BI menaikkan suku bunga acuan, rupiah kembali menguat, meski masih di level 18.000 per dolar AS. 

Perry menjelaskan, keputusan BI menaikkan suku bunga juga merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah. 

Menurut Perry, kebijakan BI akan diarahkan untuk meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik sehingga dapat menarik kembali aliran masuk investasi portofolio asing ke Indonesia. Selain menaikkan lagi suku bunga, BI antara lain, menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan. 

BI juga memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging) bagi investor asing sebesar 10%. Perry menyatakan, kebijakan ini bertujuan meningkatkan minat investor asing sekaligus mengompensasi kewajiban biaya yang selama ini ditanggung investor.

“Sebagaimana diketahui, selama ini Bank Indonesia memberikan fasilitas swap lindung nilai bagi masuknya investasi asing melalui bank-bank di Indonesia yang kemudian meneruskan kepada Bank Indonesia. Sementara itu, penentuan tingkat swap yang reguler tetap terus diberikan Bank Indonesia sesuai mekanisme pasar yang berlaku,” kata Perry. 

Di sisi likuiditas, BI juga kembali membuka peluang lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan agar pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap berada pada level dua digit.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai kenaikan suku bunga BI memang dibutuhkan untuk meningkatkan kembali daya tarik aset rupiah yang sudah tertinggal dibandingkan negara-negara lain pada peringkat yang sama. 

"Apalagi ekspektasi ke depan itu. memang inflasi akan meningkat, jadi wajar banyak negara itu imbal hasil surat berharganya sudah tinggi. Negara-negara yang setara kita, misalnya dengan rating mirip-mirip, sudah jauh lebih tinggi," ujar dia.

Apakah BI Rate Masih Akan Naik Lagi?

David menilai bunga acuan BI masih berpotensi naik hingga 75 bps pada tahun ini seiring tekanan di pasar keuangan global yang belum mereda. Meski demikian, menurut David, pertumbuhan ekonomi masih dapat terjaga pada kisaran 5% pada tahun ini. 

"Bank Indonesia juga ada beberapa kebijakan untuk menjaga likuiditas tetap aman supaya pertumbuhan  juga tidak terlalu turun, 5% kemungkinan masih akan bisa dicapai," kata David.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank Faisal Rachman juga  memperkirakan Bank Indonesia masih berpotensi menaikkan suku bunga lagi pada kuartal ketiga tahun ini sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Hal ini seiringg ketidakpastian global dan domestik yang terus-menerus kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat, sehingga menimbulkan risiko berkelanjutan terhadap stabilitas rupiah. 

"Secara eksternal, konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah terus menimbulkan risiko kenaikan yang signifikan terhadap inflasi global dan jalur suku bunga kebijakan global," ujar dia.

Selain itu, menurut dia, kerentanan domestik juga tetap tinggi, terutama terkait potensi efek limpahan dari harga energi dan bahan bakar global yang lebih tinggi terhadap prospek inflasi, posisi fiskal, dan neraca eksternal Indonesia. Risiko-risiko ini, menurut dia, dapat berkontribusi pada pelebaran defisit kembar.

Efek BI Rate Naik

Kenaikan suku bunga BI akan mendorong kenaikan bunga deposito dan membuat bunga oblogasi menjadi lebih menarik. Hal ini, menurut David, diharapkan membuat aliran modal asing kembali masuk dan rupiah semakin menguat. 

Di sisi lain, menurut dia, kenaikan suku bunga tentu akan membebani fiskal karena pembayaran beban bunga utang yang berpotensi meningkat. Tanpa memperhitungkan kenaikan suku bunga, alokasi untuk pembayaran bunga utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencapai Rp 599,6 triliun. 

Selain itu, kenaikan suku bunga BI biasanya akan direfleksikan oleh perbankan terhadap suku bunga deposito hingga bunga kredit mulai dari kredit investasi, modal kerja, hingga konsumsi seperti kredit kendaraan hingga kredit pemilikan rumah. 

Sooner or later, kenakan bunga BI akan berdampak terhadap kenaikan biaya dana dan juga bunga kredit. Namun tidak serta merta segera, karena akan tergantung dari permintaan kredit yang saat ini masih lemah” ujar Direktur Utama CIMB Niaga Lani Darmawan beberapa waktu lalu saat menanggapi kenaikan suku bunga BI sebesar 50 bps. 

Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu sebelumnya juga menyebut, penyesuaian suku bunga deposito akan dilakukan berdasakan jadwal jatuh tempo. Sedangkan penyesuaian bunga kredit membutuhkan lebih banyak waktu dan dipengaruhi beberapa faktor lain, termasuk permintaan kredit.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman

Cek juga data ini