Dengung Propaganda Politik di Media Sosial

Oleh Andrea Lidwina, 8/10/2019, 12.11 WIB

Menurut riset University of Oxford, propaganda politik di medsos aktif pada masa pemilihan umum, tapi bisa berlanjut jika ada agenda politik baru.

Unduh Infografik
Share

Media sosial telah menjadi arena pertempuran propaganda politik di Indonesia.  Politisi, partai politik, dan perusahaan konsultan komunikasi membayar pasukan siber (buzzer) untuk turun di arena tersebut. Lewat serangkaian teknik dan strategi komunikasi mereka serangan ke pihak oposisi.

(Baca: Moeldoko Nilai Aktivitas Para Buzzer Rugikan Jokowi)

Berdasarkan riset University of Oxford bertajuk The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation, strategi yang mereka jalankan dapat bisa memanipulasi opini publik.

(Baca: Tren Hoaks Meningkat Jelang Pemilu)

Di Indonesia, pasukan siber melakukan disinformasi—melalui meme, video, dan berita bohong—serta menyebarluaskan pesan menggunakan tagar atau hashtag. Tak hanya para influencer, strategi ini memanfaatkan akun-akun bot di berbagai media sosial.

(Baca: Orang Indonesia Peringkat 3 Dunia yang Paling Sering Bermedsos)

Menurut riset tersebut, penyebaran propaganda politik di media sosial biasanya bersifat sementara, terutama aktif pada masa pemilihan umum. Namun itu bisa berlanjut jika ada agenda politik lain.