Jerman Perpanjang Operasi Pembangkit Listrik Batu Bara hingga 2024

Sepertiga produksi listrik Jerman dihasilkan dari PLTU batu bara. Pada kuartal ketiga, listrik dari bahan bakar naik 13,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Muhamad Fajar Riyandanu
27 Desember 2022, 12:07
listrik, batu bara, pltu
123rf.com/Jeeraphun Juntree
Ilustrasi PLTU

Jerman bersiap untuk kembali meningkatkan penggunaan batu bara sebagai sumber energi nasional. Aksi ini dipertegas usai perusahaan energi yang berbasis di Dusseldorf, Uniper SE menyatakan bakal memperpanjang operasi komersial dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Jerman, paling lambat hingga Maret 2024.

Langkah ini ditujukan dalam upaya untuk menghemat gas alam di musin dingin yang diperkirakan datang sejak Akhir Desember tahun ini hingga Maret 2023. Selain itu, eksploitasi batu bara saat ini urgen dilakukan untuk menghidupkan kembali beberapa pabrik yang tidak beroperasi sepanjang masa krisisi energi. 

Produsen mobil Volkswagen AG juga menunda rencana untuk beralih dari batu bara di fasilitas perusahaan di Wolfsburg. Bloomberg mencatat, Jerman menjadi negara Eropa yang siap menjadi salah satu dari sedikit negara yang meningkatkan impor batu bara tahun depan.

Lewat stategi tersebut, Negeri Bavaria secara bertahap akan kembali meningkatkan ketergantungan pada batu bara, demi menekan dampak krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Langkah ini pun menjadi ancaman bagi target iklim nasional yang berencana menghentikan penggunaan batu bara secara bertahap pada 2030 hingga 2038.

Penjabat Kepala Gas, Batu Bara dan Pembangkit di Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), Carlos Fernandez Alvarez, mengatakan bahwa keputusan Rusia untuk membatasi pasokan gas akibat konflik dengan Ukraina menimbulkan krisis energi dan krisis ekonomi di Eropa. Menurutnya, Jerman sekarang mencoba untuk menyeimbangkan prioritas jangka pendek untuk memperkuat keamanan energi dengan tujuan jangka panjang net-zero emission (NZE) pada 2045.

“Semua orang menjaga target iklim mereka, tetapi memang benar bahwa ketika Anda menghadapi dilema untuk tetap menyalakan lampu atau mengurangi emisi karbon, pilihannya adalah tetap menyalakan lampu,” kata Alvarez, dikutip dari Bloomberg pada Selasa (27/12).

Bloomberg juga mencatatkan komoditas batu bara kembali naik daun di seluruh dunia karena menjadi sumber energi yang relatif murah meski sangat berpolusi. Batu bara kembali populer karena negara-negara berusaha mencegah kenaikan biaya energi yang memicu krisis ekonomi.

Di sebagian besar negara, sejumlah kapasitas pasokan energi batu bara kian dinaikan ke batas layanan. IEA mencatat bahwa Jerman mengembalikan kapasitas yang signifikan hingga 10 giga watt (GW). Menurut Bloomberg, besaran daya tersebut mampu memberi daya listrik kepada sekitar 5 juta rumah.

Meningkatnya Listrik Energi Fosil

Kantor Statistik Federal Jerman, Destanis mencatatkan bahwa sepertiga produksi listrik Jerman dihasilkan dari PLTU batu bara. Pada kuartal ketiga, listrik dari bahan bakar naik 13,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Penghapusan batu bara idealnya pada tahun 2030 tidak perlu dipertanyakan lagi,” kata juru bicara Kementerian Ekonomi Jerman dalam sebuah pernyataan. Dia menambahkan, dengan situasi krisis, hal terpenting adalah mengurangi konsumsi energi secara signifikan pada 2022, terutama gas alam.

Konsultan Energi Perret Associates, Guillaume Perret mengatakan bahwa stasiun batu bara darurat Jerman diperkirakan akan terus terhubung secara siaga atau online hingga Desember 2024. Dia juga mencatat bahwa Uni Eropa dan Turki menjadi pihak pengguna energi utama di dunia yang diperkirakan akan meningkatkan impor batu bara pada tahun 2023.

“Batu bara akan kembali sebagai generator baseload, karena batu bara tetap menghasilkan banyak uang dibandingkan gas dan masih ada kekurangan gas," kata Perret.

Desember ini, listrik Jerman menjadi berpolusi, sama seperti listrik yang diproduksi di Afrika Selatan dan India. Hal itu terjadi setelah kecepatan angin yang lebih rendah membatasi kinerja pembangkit terbarukan, di tengah konsumsi batu bara yang melonjak, menurut Electricity Maps dalam sebuah aplikasi yang mengumpulkan data jaringan.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait