Anak Bunuh Satu Keluarga di Magelang, Dampak Generasi Sandwich?

Polisi menetapkan DD yang merupakan anak kedua sebagai tersangka pembunuhan setelah menemukan kejanggalan dari hasil olah TKP yang telah dilakukan.
Ira Guslina Sufa
30 November 2022, 11:51
Anak
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/YU
Ilustrasi pengungkapan pelaku pembunuhan oleh kepolisian

Polisi menetapkan DD (22 tahun) sebagai tersangka kasus pembunuhan satu keluarga di Dusun Prajenan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. DD merupakan anak dari dua korban yaitu  Abbas Ashar (58 tahun) dan Heri Iryani (54 tahun). Selain membunuh kedua orang tua, DD juga disebut membunuh kakaknya Dhea Chairunnisa (24 tahun).

Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah Kombes Pol Djuhandhani Rahardjo Puro di Magelang menyatakan DD merupakan anak kedua korban yang meninggal. DD diduga membunuh keluarganya dengan memberikan racun. 

"Perbuatan ini dikenakan pasal pembunuhan berencana, ancamannya bisa seumur hidup ataupun hukuman mati," kata Djuhandhani usai melakukan asistensi hasil penyidikan di Magelang.

Pelaksana Tugas Kapolresta Magelang AKBP M. Sajarod Zakun membenarkan terjadi pembunuhan yang mengakibatkan tiga korban meninggal dunia. Dari hasil olah tempat kejadian perkara polisi mencurigai DD. 

“Waktu kemarin melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) ada beberapa kejanggalan yang menguatkan kami untuk menduga anak kedua dari korban meninggal dunia sebagai pelaku. Ditambah lagi kemarin kami temukan sisa zat kimia yang diduga digunakan untuk membunuh tiga korban," kata Sajarod.

Menurut Sajarod usai olah TKP, kepolisian langsung membawa DD ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Dari pemeriksaan, kepolisian mendapatkan dugaan kuat keterlibatan DD dalam pembunuhan keluarganya. 

"Kejanggalan-kejanggalan dari TKP yang ada korban meninggal karena keracunan biasanya ada sisa muntahan, tetapi saat kami temukan di TKP 'clear' tidak ada," kata Sajarod.

Lebih jauh ia menjelaskan, keluarga dan saudara dekat dari korban meninggal telah meminta untuk dilakukan autopsi kepada ketiga korban. Namun, DD yang merupakan anak kedua menolak dilakukan autopsi. Hal ini membuat polisi merasa janggal. Meski begitu, Sajarod mengatakan polisi tetap akan melakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian. 

Selain itu ia mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara dari keterangan pelaku dan informasi dari tetangga kepolisian memperkirakan motif pembunuhan karena DD sakit hati. DD merasa kesal karena diberi beban untuk menanggung kebutuhan keluarga.

"Orang tua terduga pelaku dua bulan lalu baru saja pensiun, kebutuhan rumah tangga cukup tinggi karena orang tua terduga pelaku kebetulan memiliki penyakit sehingga butuh biaya pengobatan,” kata Sajarod lagi. 

Ia menjelaskan DD merasa terbebani karena menganggap dapat beban yang lebih besar dibanding anak pertama. Rasa sakit hati yang menurut Sajarod memunculkan niat untuk menghabisi orang tua maupun kakak kandungnya sendiri.



Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait