Bahlil Minta Industri Migas Fokus Hilirisasi: Arahan Presiden
Pemerintah berencana menggarap proyek hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) secara lebih serius, dengan proyeksi kebutuhan pendanaan mencapai US$ 68,1 miliar atau setara Rp 1.021 triliun sampai tahun 2040.
Rencana tersebut diharapkan serupa dengan perkembangan aktivitas hilirisasi komoditas tambang bijih nikel sebagai pionir pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan rencana tersebut kerap dibahas dalam rapat terbatas (ratas) yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ratas tersebut dihadiri oleh otoritas energi dan investasi, seperti SKK Migas dan Kementerian Investasi.
Besaran pendanaan hilirisasi migas itu cenderung tinggi, menyentuh 12% dari rencana pendanaan hilirisasi pada 21 komoditas yang senilai US$ 548,5 miliar.
Menurut Bahlil, Presiden Jokowi mendorong produk minyak mentah dan gas bumi dari sumur-sumur migas domestik dapat diolah di kilang dalam negeri untuk menghasilkan produk hilir, seperti amonia untuk industri pupuk domestik.
"Arahan bapak presiden agar sumur-sumur gas dan minyak bisa bangun hilirisasinya dan bangun di sini, karena kita masih banyak impor," ujar Bahlil.
Selain itu, ujar Bahlil, pemerintah juga berupaya untuk mendorong peningkatan pengolahan minyak mentah dan gas bumi menjadi bahan bakar minyak (BBM) dan liquified petroleum gas alias LPG. Hal itu bertujuan untuk menekan porsi impor BBM dan LPG.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor BBM sepanjang 2022 mencapai 347.625 barel per hari (bph) dengan nilai mencapai US$ 19,76 miliar atau sekira Rp 299,41 triliun.
Impor BBM terdiri dari bensin atau gasoline 275.214 bph, dan solar atau gasoil 72.411 bph. Secara volume, impor BBM 2022 naik 26% dari tahun sebelumnya sebesar 275.861 bph dengan rincian 226.431 bph bensin dan 49.430 bph solar.
Porsi impor LPG masih menyentuh 7 juta ton per tahun. Pemerintah juga masih mengimpor 80% metanol untuk menutup konsumsi dalam negeri.
Bahlil menjelaskan sejumlah perusahaan migas global telah memulai proyek hilirisasi migas di dalam negeri, seperti proyek LNG Tanggung di Teluk Bintuni, Papua Barat.
Pengolahan lanjutan migas juga dilakukan oleh Genting Oil Kasuri lewat komitmen penyaluran menyalurkan gas ke parbik pupuk Amuera milik PT Pupuk Kaltim di Papua Barat.
"Sumur-sumur yang sudah dibor dan sudah dapat cadangannya tapi belum dapat pasarnya jangan dijadikan alasan untuk ekspor mentah. Tanyakan dulu kepada investor dalam negeri yang membangun industri hilirnya dan prioritaskan kepada mereka agar ada nilai tambah di dalam negeri," kata Bahlil.
