Efek Domino Krisis Utang Evergrande ke Bursa Saham Indonesia

Pelaku pasar akan terus memberi perhatian khusus, terutama terkait peran pemerintah Tiongkok dalam menangani kasus gagal bayar Evergrande, demi mencegah krisis ekonomi yang lebih besar.
Image title
22 September 2021, 15:02
Evergrande, saham, indeks saham, bursa, Hong Kong
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hp.
Pekerja melintas di depan layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (3/8/2021).

Potensi gagal bayar utang jumbo lebih dari US$ 300 miliar atau setara Rp 2.437 triliun (kurs: Rp 14.246) milik perusahaan properti asal Tiongkok, Evergrande Group, dianggap tidak hanya berefek pada bursa saham di Negeri Panda, tetapi juga pasar saham Indonesia.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi mendapat sentimen negatif dari Evergrande yang sedang di ujung tanduk itu. Pelaku pasar akan terus memberi perhatian khusus. Salah satu fokusnya adalah peran pemerintah Tiongkok dalam menangani kasus ini demi mencegah krisis ekonomi yang lebih besar.

"Perhatian pelaku pasar dan investor akan terfokus kepada bagaimana Presiden Tiongkok Xi Jinping akan mencoba untuk mengatasi masalah Evergrande. Turbulensi mungkin akan semakin kencang, dan tentu saja akan menambah tekanan terhadap para pemimpin Tiongkok," kata Nico Demus dalam risetnya.

Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi menyampaikan, jika Evergrande benar-benar gagal bayar, maka hal itu bisa berdampak negatif pada saham Tanah Air. Pasalnya, dengan adanya gagal bayar, investor asing akan menyesuaikan kembali portofolio kepemilikan sahamnya di bursa efek Indonesia.

"Jika gagal bayar, efeknya negatif buat IHSG. Mulai dari rebalancing (menyeimbangkan kembali) portofolio investor asing yang kena dampak gagal bayar, sampai masing-masing emiten yang kena dampak operasional bisnis dari gagal bayar," ujar Wafi kepada Katadata.co.id.

Namun, potensi gagal bayar Evergrande sangat kecil karena pemerintah Tiongkok akan turun tangan memberikan jaminan. Dengan demikian, kasus Evergrande ini berbeda dengan kasus gagal bayar Subprime Mortgage Lehman Brothers yang membuat terjadinya krisis ekonomi pada 2008 karena peran pemerintah baru datang setelah kejadian.

"Kalau yang Evergrande ini, backing pemerintahnya kuat supaya tidak sistemik. Jadi, saat ini dampaknya hanya sekedar sentimen dan paranoid sementara," kata Wafi menambahkan.

Hal berbeda disampaikan oleh lembaga pemeringkat kredit S&P Global Ratings yang menilai pemerintah Tiongkok mungkin tidak turun tangan memberikan dukungan langsung kepada Evergrande. Menurut lembaga tersebut, kegagalan bayar Evergrande tidak akan menghasilkan kegagalan sistemik pada perekonomian.

“Kami percaya Beijing hanya akan dipaksa untuk turun tangan jika ada penularan yang luas yang menyebabkan banyak pengembang besar gagal dan menimbulkan risiko sistemik terhadap ekonomi. Kegagalan Evergrande saja tidak akan menghasilkan skenario seperti itu," kata analis S&P dalam riset yang dikutip Katadata.co.id dari CNBC International, Rabu (22/9).

Senior Vice President Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan, kasus Evergrande memang berdampak pada pasar saham Indonesia tapi lebih spesifik pada konglomerasi dan emiten-emiten yang kadar utangnya tinggi. Emiten berkadar utang tinggi menurutnya berasal dari sektor properti, konstruksi, dan infrastruktur.

Janson mengatakan rasio tingkat utang terhadap pendapatan perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (debt to EBITDA ratio) dari IHSG saat ini di level 4,6 kali, naik dua kali lipat dari rata-rata 10 tahun terakhir. Sektor-sektor yang disebutkan sebelumnya, memiliki debt EBITDA ratio tinggi.

"Itu artinya, menjauhlah dari sektor-sektor properti, konstruksi, dan infrastruktur," kata Janson kepada Katadata.co.id.

Menurut Janson, meski terdapat risiko terhadap sektor tersebut, jangka waktunya tidak akan lama dan tidak akan separah Lehman Brothers pada 2008 lalu. Pasalnya, kasus Evergrande tidak melibatkan institusi keuangan yang produk derivatifnya adalah produk keuangan.

"Sedangkan di Tiongkok, yang terlibat adalah perusahaan properti yang memang tingkat utangnya luar biasa besar," kata Janson.

Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, kasus tersebut memang berdampak pada pasar saham Tanah Air. Meski begitu, faktor tersebut diimbangi dengan situasi ekonomi dalam negeri yang masih kondusif.

"Karena dari dalam negeri situasi masih cukup kondusif, maka diharapkan tidak memberi dampak besar terhadap pasar saham kita," kata Ivan kepada Katadata.co.id.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait