Waspadai Gelombang Tinggi, Kemenhub Terbitkan Maklumat Pelayaran

Maklumat dikeluarkan menyusul adanya prediksi cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi di beberapa wilayah dalam tujuh hari ke depan.
Image title
13 Agustus 2021, 11:11
cuaca ekstrem, kementerian perhubungan
ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/foc.
Kapal cepat yang berangkat menuju Pulau Nusa Penida tetap beroperasi saat gelombang pasang di Pantai Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (28/5/2021). Kementerian Perhubungan hari ini, Jumat (12/8) mengeluarkan maklumat pelayaran karena cuaca ekstrem.

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menerbitkan Maklumat Pelayaran Nomor 81/Phbl/2021 tanggal 12 Agustus 2021. Maklumat tersebut dikeluarkan menyusul adanya prediksi cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi di beberapa wilayah dalam tujuh hari ke depan.

Adapun Maklumat Pelayaran menginstruksikan kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Kepala Kantor Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) , Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP), Kepala Kantor KSOP Khusus Batam, Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP), serta Kepala Distrik Navigasi di seluruh Indonesia untuk mewaspadai bahaya cuaca ekstrem selama satu pekan ke depan dan perkiraan adanya gelombang ekstrem di atas 6 Meter yang diperkirakan akan terjadi di Perairan Timur Enggano (Sumatera), Perairan Selatan Banten, Samudera Hindia Barat Bengkulu hingga selatan Jawa Timur.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad menyampaikan Maklumat Pelayaran ini dikeluarkan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi tersebut.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG tanggal 11 Agustus 2021, diperkirakan terjadinya cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi di beberapa wilayah pada tanggal 11 sampai dengan 18 Agustus 2021," kata Ahmad dalam keterangan tertulis, Jumat (13/8).

Advertisement

Sehubungan dengan hal tersebut, Ahmad menegaskan bahwa seluruh Syahbandar telah diinstruksikan, untuk setiap hari, melakukan pemantauan ulang kondisi cuaca melalui bmkg.go.id, serta menyebarluaskanya kepada pengguna jasa, termasuk publikasi di terminal atau tempat embarkasi debarkasi penumpang.  Selain itu, Syahbandar juga diminta untuk menunda Surat Persetujuan Berlayar (SPB) sampai kondisi cuaca benar-benar aman untuk berlayar.

Ia mengatakan, kegiatan bongkar muat barang juga akan diawasi untuk memastikan kegiatan dilaksanakan dengan tertib dan lancar, muatan dilashing, kapal tidak overdraft serta stabilitas kapal tetap baik.

“Apabila terjadi tumpahan minyak di laut agar segera berkoordinasi dengan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) terdekat untuk membantu penanggulangan tumpahan minyak,” katanya.

Kepada operator kapal, khususnya nakhoda, diimbau agar melakukan pemantauan kondisi cuaca sekurangnya enam jam sebelum kapal berlayar dan melaporkan hasilnya kepada Syahbandar pada saat mengajukan Surat Perijinan Berlayar (SPB)

Selama pelayaran di laut, nakhoda wajib melakukan pemantauan kondisi cuaca setiap enam jam dan melaporkan hasilnya kepada Stasiun Radio Pantai terdekat serta dicatatkan ke dalam Log Book pelayaran.

“Bagi kapal yang berlayar lebih dari empat jam, nahkoda diwajibkan melampirkan berita cuaca yang telah ditandatangani sebelum mengajukan SPB kepada Syahbandar,” imbuhnya.

Ahmad menambahkan, jika pada saat kapal dalam pelayaran mendapat cuaca buruk, agar segera berlindung di perairan yang aman dengan ketentuan kapal harus tetap siap digerakkan. Setiap kapal yang berlindung wajib segera melaporkan kepada Syahbandar dan Kepala Stasion Radio Pantai ( SROP) terdekat dengan menginformasikan posisi kapal, kondisi cuaca dan kondisi kapal serta hal-hal penting lainnya.

Selain itu, setiap nahkoda juga diperintahkan untuk melakukan pemantauan atau pengecekan terhadap kondisi kapal untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal yang dapat menyebabkan terjadi tumpahan minyak di laut.

“Jika terjadi kecelakaan, kapal harus segera berkoordinasi dengan Syahbandar setempat dan melakukan penanggulangan tumpahan minyak dan akibat lain yang ditimbulkan termasuk penandaan dan kegiatan salvage,” jelas Ahmad.

Ahmad juga menginstruksikan kepada seluruh Kepala Pangkalan Penjaga Laut dan Pantai (PLP) dan Kepala Distrik Navigasi agar kapal-kapal negara seperti kapal patroli dan kapal perambuan, untuk tetap bersiaga dan segera memberikan pertolongan kepada kapal yang berada dalam keadaan bahaya atau mengalami kecelakaan.

Ia juga menginstruksikan kepada Kepala SROP dan nahkoda kapal negara untuk melakukan pemantauan dan penyebarluasan kondisi cuaca dan berita marabahaya. "Apabila terjadi kecelakaan kapal maka Kepala SROP dan Nahkoda kapal negara harus berkoordinasi dengan Pangkalan PLP," ujarnya.

Adapun prediksi gelombang ekstrem hingga rendah yang akan terjadi di perairan Indonesia periode 11 - 18 Agustus 2021, sebagai berikut:

1. Gelombang Ekstrem Diatas 6 Meter

Diperkirakan akan terjadi di Perairan Timur Enggano, Perairan Selatan Banten, Samudera Hindia Barat Bengkulu hingga Selatan, Jawa Timur.

2. Gelombang Tinggi Diatas 4.0 – 6.0 Meter

Diperkirakan Akan Terjadi Di Perairan Utara Sabang, Perairan Barat Aceh Hingga Kepulauan Mentawai, Perairan Bengkulu, Perairan Barat Lampung, Samudra Hindia Barat Aceh Hingga Mentawai, Selat Sunda Bagian Barat Dan Selatan, Perairan Selatan Jawa Barat Hingga Peraian Pulau Sumba, Selat Bali - Lombok - Alas Bagian Selatan, Selat Sumba Bagian Barat, Samudra Hindia Selatan Bali Hingga NTT.

3. Gelombang Tinggi 2.5 – 4.0 Meter

Diperkirakan Akan Terjadi Di Perairan Selat Malaka Bagian Utara, Perairan Timur Simeulue, Teluk Lampung Bagian Selatan, Selat Sape Bagian Selatan, Perairan Pulau Sawu - Pulau Rotte - Kupang, Laut Sawu, Laut Jawa, Selat Karimata Bagian Selatan, dan Laut Arafu.

4. Gelombang Sedang 1.25 - 2.50 Meter

Diperkirakan Akan Terjadi Di Perairan Timur Kep. Nias Hingga Mentawai, Selat Sumba Bagian Timur, Selat Ombai, Perairan Selatan Kepulauan Anambas, Perairan Timur Bintan - Lingga, Laut Natuna, Perairan Utara Bangka, Perairan Belitung - Selat Gelasa, Selat Karimata Bagian Utara, Perairan Utara Pulau Jawa Hingga Kepulauan Kangean, Perairan Selatan Kalimantan.

Kemudian, gelombang sedang juga diperkirakan terjadi di Perairan Kotabaru, Selat Makassar Bagian Selatan Dan Tengah, Laut Bali - Laut Sumbawa, Selat Lombok Bagian Utara, Perairan Sabalana - Selayar, Teluk Bone Bagian Selatan, Laut Flores, Perairan Baubau - Wakatobi, Laut Sulawesi Bagian Timur, Perairan Selatan Pulau Buru - Pulau Seram, Laut Banda, Perairan Kepulauan Sermata - Kepulauan Tanimbar, Perairan Kepulauan Kei - Kepulauan Aru, Perairan Jayapura - Sarmi, dan Samudra Pasifik Utara Jayapura.

"Seluruh temuan terjadinya gangguan dan atau kecelakaan kapal dapat dilaporkan ke Puskodalops melalui nomor telepon 081196209700 atau email puskodalops_hubla@yahoo.co.id," pungkas Ahmad.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait