PHRI Ingin Subsidi Harga Hotel, Sertifikasi CHSE Untungkan Surveyor

Proses sertifikasi CHSE sekarang digratiskan tetapi pengelola hotel tetap harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dalam proses pembuatan sertifikasinya.
Image title
28 September 2021, 21:43
subsidi, hotel, CHSE
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Ilustrasi hotel. Pengusaha hotel menilai sertifikasi CHSE memberatkan dan kurang menguntungkan.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai subsidi pemerintah akan lebih berguna jika dialokasikan untuk memberikan potongan harga hotel daripada dihabiskan untuk subsidi sertifikasi Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) PHRI Jakarta Sutrisno Iwantono mengatakan CHSE hanyalah marketing gimmick dan tidak mampu menjadi daya tarik pengunjung hotel.

"Subsidi harga lebih bisa dinikmati konsumen. Kalau ada potongan harga, itu menarik pengunjung dan hotel pun dapat tamu. Dua-duanya untung. Kalau sertifikat CHSE itu duitnya ke surveyor. Hotel tidak dapat untung, pengunjung juga,"tutur Sutrisno Iwantono, saat dihubungi Katadata.co.id, Selasa (28/7).

Program sertifikasi CHSE sudah dilakukan sejak tahun lalu. Sertifikasi ini bertujuan untuk memberikan jaminan kepada wisatawan terhadap pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

Usaha pariwsisata yang memerlukan sertifikasi CHSE di antaranya usaha kawasan pariwisata, usaha jasa transportasi wisata, usaha hotel, homestay/pondok wisata, restoran, rumah makan, dan MICE (meetings, incentives, conferences and exhibitions).

Pelaksanaan sertifikasi dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi yang menunjuk dan menugaskan tim auditor.
Sertifkasi CHSE rencananya akan dijadikan kewajiban bagi mereka yang bergerak di bidang pariwisata. Sertifikasi ini akan terhubung kepada Online Single Submission (OSS).

"CHSE tidak usah dipaksakan. Jadikan itu sebagai insentif saja. Misal, hotel yang sudah mendapatkan CHSE diberikan reward,"tuturnya.

Dia menambahkan proses sertifikasi CHSE sekarang memang digratiskan tetapi pengelola hotel tetap harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dalam proses pembuatan sertifikasinya.

Hotel, misalnya, harus mengeluarkan biaya untuk mengganti beberapa perlengkapan seperti tirai untuk memastikan mereka mendapatkan penilaian yang bagus.

"Hotel juga harus mempersiapkan diri. Ini juga mahal. Ibaratnya kalau orang mau dinilai ya harus beli bedak, lipstick biar dapat penilaian bagus. Tapi buat apa ada sertifikasi kalau industrinya mati?,"tambahnya.

Saat ini, proses sertifikasi CHSE masih disubsidi sepenuhnya oleh Kemenparekraf. Namun, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan pemerintah nantinya hanya akan memberikan subsidi sertifikasi CHSE kepada pelaku UMKM.

"Ke depan tentu pemerintah tidak bisa menanggung semua, akan didistribusikan sehingga harga terjangkau dan jadi pola penerapan protokol kesehatan dan pada nantinya pemerintah hanya memberikan bantuan ke pihak yang membutuhkan yaitu UMKM,"tutur Sandiaga dalam weekly press briefing, Senin (27/9/2021).

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sudah terdapat 8.422 usaha pariwisata yang tersertifikasi CHSE. 

Pada hari Senin (27/9), PHRI secara tegas menolak kewajiban sertifikasi CHSE karena bertentangan dengan upaya pemulihan bisnis perhotelan di tengah pandemi.

PHRI mengatakan sertifikasi CHSE akan memberatkan pengelola usaha pariwisata karena biaya sertifikasinya tidak murah. Dengan asumsi sertifikasi di kisaran Rp 10 juta untuk hotel dan terdapat 29,243 hotel di Indonesia maka total pengeluaran sertifikasi mencapai Rp292 miliar per tahun.

Terlebih, sudah banyak sertikasi untuk industri perhotelan seperti sertifikasi usaha, sertifikasi laik sehat, sertifikasi profesi, sertifikasi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).

"Praktik Clean, Health, Safety, Environment sudah menjadi best practice hotel dan juga sudah termasuk dalam penerapan standar laik sehat, food safety management system. Hotel dan Restoran adalah sektor yang paling siap dalam mengimplementasikan prokes tersebut,"tutur Sutrisno saat menggelar konferensi pers, Senin (27/9).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait