Aliran Deras Dana Asing Buat Rupiah Menguat Hampir Rp 1.000 Sebulan

“Penguatan rupiah yang disebabkan derasnya aliran hot money bersifat rentan terhadap issue global dan domestik,” kata Direktur Eksekutif CORE.
Martha Ruth Thertina
4 Desember 2018, 13:32
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Dana asing kembali mengalir deras ke pasar surat utang negara (SUN). Kementerian Keuangan mencatat kepemilikan asing atas SUN bertambah Rp 36,27 triliun sepanjang November lalu. Seiring perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat nyaris Rp 1.000 dalam sebulan.

Kepemilikan asing atas SUN tercatat sebesar Rp 900,59 triliun per akhir November, atau yang tertinggi sepanjang tahun ini. Ini artinya, ada penambahan Rp 36,27 triliun dari posisi akhir Oktober yang sebesar Rp 864,32 triliun. Dengan perkembangan tersebut, maka porsi kepemilikan asing menjadi sebesar 37,85% dari total SUN yang diperdagangkan.

Adapun dari jumlah tersebut, SUN yang dimiliki oleh pemerintah ataupun bank sentral negara lain tercatat sebesar Rp 164,17 triliun. Kepemilikan ini disebut-sebut lebih bersifat jangka panjang sehingga semestinya tidak akan mudah dilepas untuk memeroleh untung jangka pendek yang membuat nilai tukar rupiah rentan gejolak.

(Baca juga: Perang Dagang Mereda, Menko Darmin Lihat Peluang Rupiah Kian Perkasa)

Seiring derasnya aliran masuk dana asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat menguat tajam. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah ditutup pada level 15.203 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot akhir Oktober. Sedangkan pada akhir November lalu rupiah ditutup pada level 14.302 per dolar AS. Dengan demikian, terjadi penguatan sebesar Rp 901 dalam sebulan.

Kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah masih berlanjut ke Desember ini. Pada Senin (3/12), nilai tukar rupiah ditutup pada level 14.244 per dolar AS. Ini artinya, penguatannya telah mencapai Rp 959. Meskipun, nilai tukar rupiah terpantau sedikit melemah pada perdagangan Selasa (4/12) siang ini. Saat berita ini ditulis, rupiah berada di level 14.277 per dolar AS.

Melihat perkembangan ini, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengisyaratkan nilai tukar rupiah masih rentan gejolak. Sebab, dana asing di saham dan surat utang mudah keluar masuk.

(Baca juga: Masuknya Dana Asing Giring Rupiah ke Level 14.270 per Dolar AS)

“Penguatan rupiah yang disebabkan derasnya aliran hot money bersifat rentan terhadap issue global dan domestik,” kata dia. Maka itu, perlu diwaspadai ancaman sudden revearsal atau pembalikan dana asing secara tiba-tiba yang akan menyebabkan rupiah kembali melemah.

Ia menjelaskan, untuk membuat nilai tukar rupiah lebih berdaya tahan terhadap gejolak diperlukan perbaikan struktur ekonomi dan ini membutuhkan waktu panjang. Caranya. dengan memperbesar investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) yang sifatnya jangka panjang dan memperkuat investor domestik.

“FDI kita justru cenderung turun walaupun pemerintah kita sudah berupaya keras memperbaiki iklim investasi mempermudah perizinan,” ujarnya. Ia pun menekankan, pemerintah dan BI harus benar-benar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan-kebijakan yang ada, termasuk sistem insentif yang tercipta.

Reporter: Rizky Alika
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait