Ekonomi 2018 Berisiko, BI: Kecil Peluang Suku Bunga Turun

"Kami jaga suku bunga akan tetap stay (bertahan)," kata Asisten Gubernur BI Dody Budi Waluyo.
Desy Setyowati
14 Desember 2017, 21:24
BI bank
Arief Kamaludin|KATADATA

Bank Indonesia (BI) melihat ruang untuk memangkas bunga acuan, BI 7 Days Repo Rate semakin terbatas ke depan. Hal ini lantaran adanya risiko yang bersumber dari global dan domestik yang bisa mendorong inflasi serta menekan nilai tukar rupiah. Adapun mulai September lalu, bunga acuan berada di level 4,25% setelah dipangkas 2% sejak tahun lalu.

"Room (ruang) untuk penurunan suku bunga itu relatif terbatas karena kami lihat ke depan risiko masih akan tetap muncul dari eksternal dan domestik yang bisa berpengaruh ke nilai tukar," kata Asisten Gubernur BI Dody Budi Waluyo saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (14/12).

Risiko eksternal yang dimaksud yaitu terkait normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju dan risiko geopolitik. Bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Federal Reserve (The Fed) misalnya, kembali menaikkan bunga dananya alias Fed Fund Rate sebesar 0,25% menjadi 1,25-1,5% pada Rabu (13/12).

Menyusul kenaikan tersebut, bank sentral Tiongkok mengerek bunga acuannya sebesar 5 basis poin. "Ke depan (kami) tetap akan hati-hati karena dari sisi normalisasi moneter di negara maju tetap berlangsung," kata Dody. Tahun depan, BI memprediksi Fed Fund Rate bakal naik sebanyak tiga kali lagi.

Adapun BI masih memutuskan untuk mempertahankan bunga acuan di level 4,25% pada Desember ini. Dody menjelaskan, BI merujuk pada dua indikator dalam mengambil kebijakan moneter yakni inflasi dan nilai tukar rupiah. Adapun kenaikan lanjutan Fed Fund Rate sebesar 0,25% diklaim belum berpengaruh terhadap inflasi maupun nilai tukar rupiah.

"Kalau data tersebut (inflasi dan nilai tukar rupiah) belum menunjukkan tekanan tidak ada perubahan policy rate," kata dia. (Baca juga: BI Tahan Bunga Acuan Guna Dorong Ekonomi dan Antisipasi Risiko Global)

Tahun depan, inflasi diperkirakan lebih rendah yaitu sebesar 3,5%, sedangkan nilai tukar rupiah diharapkan terkendali seiring dengan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan di bawah 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). (Baca juga: BI Tahan Suku Bunga, IHSG Cetak Rekor Tertinggi Baru 6.113)

"Kami lihat kondisi domestik yang dipengaruhi eksternal belum akan menekan inflasi ke depan. Rupiah, defisit transaksi berjalan yang sehat di bawah 2% (tahun ini). Dengan kondisi itu kami jaga suku bunga akan tetap stay (bertahan)," ujar dia.

Video Pilihan

Artikel Terkait