BI Anggap Normal Arus Keluar Dana Asing dari Pasar Modal

Berdasarkan data RTI, sejak awal tahun hingga Jumat (20/10), investor asing mencatatkan penjualan bersih saham sebesar Rp 18,62 triliun.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
20 Oktober 2017, 19:16
Pasar saham
Arief Kamaludin | Katadata

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengakui terjadi arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar modal Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Namun, ia menilai hal tersebut normal. Sebab, investor memang tengah menunggu kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data RTI, sejak awal tahun hingga Kamis (19/10), investor asing mencatatkan penjualan bersih (net foreign sell) saham sebesar Rp 19,24 triliun di keseluruhan pasar (all market). Adapun pada Jumat (20/10), investor asing tampak kembali  masuk sehingga net foreign sell sepanjang tahun membaik menjadi Rp 18,62 triliun.

"Memang kami lihat beberapa minggu terakhir ada adjustment (penyesuaian) di portofolio, misalnya, di pasar saham dan di obligasi. Surat Berharga Negara (SBN) ada sedikit outflow, tapi menurut kami itu normal," kata dia di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (20/10). (Baca juga: IHSG Perkasa Meski Investor Asing Jual Bersih Saham Rp 19 Triliun)

Menurut dia, investor asing tengah menanti kejelasan mengenai kepemimpinan di The Fed dan arah kebijakan moneternya ke depan apakah cenderung ketat atau longgar. "Pasar masih menunggu Gubernur the Fed-nya siapa, apakah masih Yellen?” ujarnya. Mirza yakin pasar akan kembali stabil setelah ada kejelasan soal itu. (Baca juga: Pasca Diperingatkan Moody’s, BI Pertahankan Bunga Acuan 4,25%)

Menurut dia, bagi negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market) seperti Indonesia, kecenderungan kebijakan moneter yang longgar di negara maju, seperti AS, Eropa, dan Jepang, lebih baik. Sebab, hal itu akan membuat adanya aliran modal masuk (capital inflow).

Namun, jika terus longgar, hal itu juga bukan petanda baik. Sebab, bisa jadi menunjukkan ekonomi di negara maju belum bisa tumbuh lebih tinggi. "Yang penting adalah pada waktu bank bank sentral Eropa, AS, Jepang menarik kembali ekses likuiditasnya itu dikomunikasikan dengan baik kepada pasar sehingga negara emerging market yang membutuhkan aliran modal dari luar negeri itu tidak shock (kaget), kata dia.

Selain kebijakan moneter, menurut Mirza, investor asing juga mengamati kebijakan fiskal di Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Meski begitu, Mirza yakin, rilis kinerja keuangan kuartal III emiten pasar modal Indonesia bisa menjadi faktor yang mendorong kembalinya dana asing.

Video Pilihan

Artikel Terkait