Bappenas: Angka Kelahiran Perlu Dijaga Agar Indonesia Kaya Lebih Lama

“Keluarga Berencana tetap harus didorong, tapi jangan sampai tingkat fertilitas di bawah dua (kelahiran per wanita)," kata Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro.
Desy Setyowati
11 Juli 2017, 19:32
Gerakan Masyarakat Sehat
ANTARA FOTO/Feny Selly
Salah satu warga menunjukkan Makanan Pendamping ASI di Puskesmas Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (14/3).

Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan Indonesia bakal memasuki masa kejayaan ekonomi mulai 2038, sebab pada masa itu penduduk muda yang saat ini berjumlah besar bisa menikmati pendapatan tinggi alias keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). Sayangnya, masa kejayaan tersebut bisa berlangsung singkat lantaran penduduk yang dimaksud bakal pensiun pada 2045.

Maka itu, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro berharap tingkat kelahiran atau fertilitas jangan sampai di bawah 2 kelahiran per wanita, supaya bonus demografi berupa besarnya populasi masyarakat muda bisa terjaga. Dengan begitu, masa kejayaan Indonesia bisa dipertahankan lebih lama. Saat ini, tingkat fertilitas di Indonesia berada pada posisi 2,28 kelahiran per wanita.

"Ada tingkat fertilitas yang ingin kami pertahankan untuk jaga kesinambungan bonus demografi tanpa menciptakan beban berlebih. Keluarga Berencana tetap harus didorong, tapi jangan sampai tingkat fertilitas di bawah dua. Bagaimana jaga tingkat fertilitas relatif konstan di 2,1," kata Bambang saat membuka acara dialog kebijakan bertajuk 'Demografi Indonesia dan Masa Depan yang Diinginkan" di kantornya, Jakarta, Selasa (11/7).

Pada 2045, tingkat fertilitas Indonesia diperkirakan berada di bawah 2 kelahiran per wanita tepatnya 1,97 kelahiran per wanita. Sebanyak lima daerah diproyeksi bakal memiliki tingkat fertilitas yang lebih rendah di antaranya Yogyakarta (1,46), DKI Jakarta (1,57), Jawa Timur (1,62), Bali (1,88), dan Jawa Tengah (1,95).

Ini artinya, di wilayah-wilayah tersebut nantinya hanya ada satu atau bahkan tidak ada anak dalam satu keluarga. Sementara di wilayah timur Indonesia, seperti Maluku, Papua Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur akan mencapai lebih dari 2,44 kelahiran per wanita.

Maka itu, Bambang mengatakan, Presiden Joko Widodo juga meminta agar program Keluarga Berencana (KB) dipertimbangkan kembali. Sebab, Jokowi ingin masyarakat menikmati masa-masa menjadi kaya dalam kurun waktu yang lama. Jika masyarakat baru keluar dari jebakan pendapatan menengah pada 2038, lalu pensiun pada 2045, hanya tujuh tahun waktu bagi masyarakat untuk menikmati kekayaan.

"Kok negara ini kaya-nya baru sebentar, sudah pensiun," ujar dia. Sementara di Jepang, masyarakatnya merasakan kekayaan dalam waktu yang lama sebelum penduduknya didominasi masyarakat berusia tua pada 1990-an. (Baca: Jokowi: Ekonomi Indonesia Bakal Jadi Terbesar Keempat Dunia pada 2045)

Adapun perhitungan pemerintah soal masa kejayaan Indonesia dengan asumsi pertumbuhan ekonomi terjaga di kisaran 5 persen saban tahun. Bambang menjelaskan, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 320 juta pada 2045. Bila rata-rata pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen saban tahun maka jumlah penduduk konsumtif (consumming class) bisa terus membesar. Alhasil, Indonesia bisa berkembang menjadi negara maju.

"Kalau pertumbuhan ekonomi rata-rata lima persen, maka consuming class-nya bisa 250 juta," kata dia. Saat ini, jumlah penduduk konsumtif hanya 40 juta. (Baca juga: Sri Mulyani: Urbanisasi Bisa Dorong Indonesia Jadi Negara Maju)

Video Pilihan

Artikel Terkait