BI Dorong Korporasi Terbitkan Surat Berharga untuk Modal Kerja

Potensi instrumen kredit seperti NCD, SPN, repo antarbank ataupun investasi lain cukup besar, karena likuiditas yang terparkir di BI mencapai Rp 300 triliun - Rp 350 triliun.
Desy Setyowati
24 Oktober 2016, 17:46
Bank Indonesia
Donang Wahyu|KATADATA

Bank Indonesia (BI) tengah mempersiapkan instrumen jangka pendek, seperti  surat berharga komersial (commercial paper). Tujuannya agar korporasi nonbak memiliki alternatif pendanaan jangka pendek untuk membiayai kebutuhan modal kerjanya. Sebab, bank sentral melihat kebutuhan tersebut tidak bisa seluruhnya dipenuhi oleh perbankan.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, korporasi selama ini banyak bergantung pada utang luar negeri untuk pembiayaan modal kerja. “Negara ini tidak bisa hidup atau membangun kalau tidak ada pembiayaan luar negeri,” kata Mirza saat acara diskusi terkait commercial paper di Gedung BI, Jakarta, Senin (24/10).

Dengan adanya  instrumen jangka pendek seperti commercial paper, BI berharap korporasi bisa meminjam dana di dalam negeri. Hal ini juga bertujuan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Mirza mencatat, kredit modal kerja telah mencapai 30-40 persen dari total kredit perbankan yang sebesar Rp 4 ribu triliun. Total kredit bank tersebut baru berkisar 32-35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlahnya lebih kecil dibandingkan rasio kredit bank negara-negara tetangga yang mencapai 80 persen dari PDB.

Advertisement

(Baca juga: Pacu Kredit, BI Agresif Pangkas Bunga Acuan Jadi 4,75 Persen)

Belakangan, BI menerbitkan peraturan tentang pasar uang. Tujuannya untuk memuluskan penerbitan instrumen-instrumen terkait. Dalam aturan tersebut, BI mensyaratkan adanya pemeringkatan atas instrumen yang diterbitkan korporasi sehingga dapat melindungi kepentingan investor. 

Rencananya peraturan tersebut bakal disusul dengan peraturan tentang instrumen-instrumen terkait, salah satunya commercial paper. “Dengan adanya nanti PBI (Peraturan BI) commersial paper itu korporasi nonbank bisa dapat pendanaan jangka pendek,” ujar Mirza. Jika di luar negeri tenor instrumen tersebut hanya 270 hari, di Indonesia jangka waktunya setahun.

BI meyakini potensi penerbitan commercial paper cukup besar. Apalagi, jumlah perusahaan yang melantai di bursa saham lebih dari 500 emiten. Mirza yakin instrumen ini akan banyak peminatnya. “Korporasi di luar bank itu potensial terbitkan commercial paper. Mereka pasti butuh untuk keperluan kerja,” katanya.

(Baca juga: Banyak Perusahaan Berburu Pendanaan Murah dari Pasar Modal)

Lebih lanjut, Mirza menjelaskan, otoritas perbankan dan keuangan bisa memantau jumlah penerbit instrumen tersebut. Lembaga seperti Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan mencatat penerbitan surat berharga baik commercial paper, Negotiable Commercial Deposit (NCD), Medium Term Note (MTN), dan lainnya.

Sejauh ini, KSEI mencatat ada 10 bank yang telah menerbitkan NCD dengan nilai penerbitan mencapai Rp 13,82 triliun. NCD adalah produk bank berupa deposito yang sertifikat bukti penyimpanannya dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan. NCD tersebut bisa jadi sumber dana bank. (Baca juga: BI Segera Atur Perdagangan Sertifikat Deposito)

Ke depan, Mirza juga melihat potensi besar likuditas masuk ke instrumen kredit seperti NCD, Surat Perbendaharaan Negara (SPN), repo antar bank ataupun investasi lainnya. Apalagi, likuiditas yang terparkir di BI masih sangat besar yaitu mencapai Rp 300 triliun hingga Rp 350 triliun.

 “SPN outstanding Rp 39 triliun, kalau pemerintah mau manfaatkan likuditas yang ada di pasar maka pemerintah bisa dapat lebih dari Rp 390 triliun. Memang ada kerjaan untuk roleover tapi memang seperti itu di luar negeri juga,” kata Mirza. 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait