Sistem Sirkular Nestle Indonesia Raih Penghargaan Katadata Green

Image title
Oleh Yandi M. Rofiyandi
1 Desember 2022, 11:50
Direktur Sustainability Nestlé Indonesia, Prawitya Soemadijo (kiri) menerima piagam penghargaan Katadata Green kategori Consumer Goods pada acara Regional Summit 2022 di Aryanusa Ballroom, Menara Danareksa, Jakarta Pusat, Kamis (1/12).
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Direktur Sustainability Nestlé Indonesia, Prawitya Soemadijo (kiri) menerima piagam penghargaan Katadata Green kategori Consumer Goods pada acara Regional Summit 2022 di Aryanusa Ballroom, Menara Danareksa, Jakarta Pusat, Kamis (1/12).

Nestle Indonesia menerima Katadata Green Initiative Awards untuk kategori consumer goods. Penghargaan ini merupakan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang menerapkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan dampak positif bagi lingkungan dan menciptakan sistem yang berkelanjutan.  

“Nestlé Indonesia menerima award karena komitmen pada sistem pangan regeneratif dan sistem sirkular secara berkelanjutan,” demikian keterangan Katadata Insight Center (KIC) dalam pengumuman penghargaan pada 1 Desember 2022 di Jakarta.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan KIC dalam penghargaan ini di antaranya komitmen dan inovasi perusahaan dalam aksi hijau seperti transisi energi bersih. Demikian juga aksi korporasi dalam merealisasikan langkah produksi yang rendah emisi, pembiayaan berkelanjutan, dan sebagainya.

Selain sektor consumer goods, ada tiga kategori lain dalam "Katadata Green Initiative Awards". Ketiga kategori tersebut yakni perbankan; energi dan pertambangan; dan teknologi dan transportasi.

Penghargaan ini juga masuk rangkaian Regional Summit 2022. Acara tersebut merupakan kegiatan tahunan Katadata sejak 2020 untuk mempertemukan para stakeholder dari pemerintah pusat, daerah, pelaku bisnis, dan civil society agar berkolaborasi mewujudkan pembangunan daerah berkelanjutan. 

Sistem Pangan Regeneratif 

Nestlé Indonesia mendapat penghargaan atas komitmen pada sistem pangan regeneratif. Nestlé memperkenalkan sistem pangan regeneratif kepada mitra peternak dan petani untuk melindungi dan memulihkan lingkungan, serta meningkatkan kesejahteraan komunitas petani.

Pertanian regeneratif adalah pendekatan metode pertanian yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah bersamaan dengan melindungi sumber daya dan keanekaragaman hayati. Memulihkan kesehatan tanah akan membantu mengurangi kadar karbon dan menangkap peningkatan kadar karbon dalam tanah dan biomasa tanaman.

Perusahaan telah bekerja sama dengan lebih dari 500 ribu petani dan 150 ribu pemasok guna mendukung mereka menerapkan praktik pertanian regeneratif. Nestlé menyiapkan investasi Rp18,3 triliun untuk mendukung pertanian regeneratif ini.

Nestlé menawarkan kepada para petani untuk membeli produk pertanian mereka dengan harga premium, membeli dalam jumlah lebih besar dan ikut berinvestasi di modal yang diperlukan. Nestlé akan memerlukan lebih dari 14 juta ton bahan baku yang diperoleh melalui pertanian regeneratif pada 2030, meningkatkan permintaan untuk bahan baku tersebut.

Nestlé juga memperluas program penghutanan kembali (reforestation) dengan menaman 20 juta pohon setiap tahun untuk 10 tahun ke depan di daerah di mana Nestlé mendapatkan bahan baku. Melalui upaya-upaya tersebut, Nestlé membangun kemitraan jangka panjang dan memberikan kepastian yang lebih besar serta penghasilan yang lebih besar bagi komunitas pertanian. 

Di Indonesia, tim AgriService Nestlé memanfaatkan pengetahuan lokal untuk mengembangkan dua model tumpang sari kopi yang memperkuat penghidupan petani kecil dan meningkatkan kualitas bentang alam kebun kopi di Sumatera. Untuk lima tahun ke depan, Tim AgriService mempromosikan tumpang sari kopi sebagai model praktik pertanian regeneratif untuk mencapai target Net Zero Nestlé.

Sistem Sirkular Secara Berkelanjutan

Nestlé Indonesia menerapkan ekonomi sirkular dengan menjaga agar sumber daya dapat dipakai selama mungkin, menggali nilai maksimum dari penggunaan, kemudian memulihkan dan meregenerasi produk dan bahan. Dengan model itu, keberadaan limbah sebisa mungkin dihapuskan karena ekonomi sirkular berupaya untuk menggunakan energi terbarukan.

Advertisement

Konsep circular economy tidak hanya mendesain model industri menggunakan prinsip zero waste, juga mementingkan faktor sosial dan penyediaan sumber daya serta energi yang berkelanjutan. Upaya pengelompokkan limbah dari limbah yang berbahaya hingga limbah yang tidak berbahaya dapat membantu implementasi konsep ekonomi ini. Limbah yang telah dikelompokkan atau dipilah membantu pengolahan dengan mudah dan cepat.

Nestlé Indonesia telah mengimplementasikan konsep sirkular itu dengan bermacam inisiatif. Mulai dari penurunan waste disposal rate di semua pabrik hingga di angka 47% dari 2010-2017, inisiatif segregasi sampah organik dan anorganik, hingga kolaborasi dengan PRAISE (Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment) untuk mengembangkan solusi manajemen sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan di Indonesia.

Pada akhir tahun 2016, sudah ada 182 pabrik Nestlé di seluruh dunia yang melakukan zero waste untuk membuang limbah. Nestlé juga berupaya melakukan praktik kemasan yang berkelanjutan, misalnya dengan memberdayakan bank sampah, daur ulang, pengurangan berat kemasan, kampanye pengelolaan sampah (3R – Reuse, Reduce, Recycle), hingga konservasi lingkungan lainnya seperti pembersihan pantai dan sungai secara rutin. Nestlé Indonesia pun merupakan perusahaan yang pertama menggunakan sedotan kertas untuk minuman kemasan NESCAFÉ Ready-to-Drink di Indonesia.

Nestlé Indonesia meraih Penghargaan Bisnis Berkelanjutan (SBA) dari Global Initiatives, untuk kategori Waste & Resource Management; Climate Change & Emissions pada 2020/2021.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait