Dana Cina, Grup Sinar Mas Peminjam Terbesar Tiga Bank Pemerintah

Muchamad Nafi
16 Maret 2016, 17:13
rupiah dolar arief.jpg
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Semestinya, uang US$ 3 miliar atau sekitar Rp 40 triliun dari Bank Pembangunan Cina (CDB), yang ditanam di tiga bank pemerintah, akan dialokasi untuk menutup biaya proyek infrastruktur. Nyatanya, ketiga bank penerima pinjaman -Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Negara Indonesia- malah mengalokasikan sebagian besar dana tersebut untuk industri manufaktur. Grup Sinar Mas mendapat kredit paling besar.

Karena pergesaran peruntukan ini anggota Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat mempertanyakannya kepada jajaran direksi ketiga lembaga keuangan itu. Dalam rapat dengar pendapat pada Selasa, 15 Maret 2016, anggota Komisi Keuangan DPR dari Fraksi Partai Golkar Muhammad Sarmuji mempertanyakan peruntukan uang pinjaman dari Cina tersebut. Sebab, data yang disuguhkan tiga bank justru menunjukkan mayoritas dana diberikan ke manufaktur.

“Pinjaman ini untuk infrastruktur, tapi saya ragu. Perusahaan yang menerima saja manufaktur, perkebunan gula. Krakatau Steel ini dapat pinjaman US$ 110 juta. Padahal kinerjanya tidak baik-baik amat dan sedang rugi,” kata Sarmuji dalam rapat tersebut. (Baca: Utang Bank BUMN dari Cina Banyak Mengalir ke Sektor Manufaktur)

Pada 16 September 2015, CBD memang sepakat memberi utang senilai US$ 3 miliar kepada BRI, Mandiri, dan BNI. Masing-masing bank mendapat US$ 1 miliar dengan denomenasi dolar Amerika Serikat 70 persen, dan sisanya renminbi. Pinjaman ini bertenor satu dasawarsa. Tingkat bunga yang ditawarkan 2,85 persen di atas London Interbank Offered Rate enam bulan untuk pinjaman dolar. Sedangkan yang renminbi diberikan bunga 3,3 persen di atas Shanghai Interbank Offered Rate.

Ketika itu, pinjaman ini sempat memicu kontroversi. Ada informasi yang berkembang bahwa pemerintah menjaminkan aset ketiga bank pelat merah ini untuk mendapatkan pinjaman. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas pun membantah isu tersebut. Sebab, pinjaman itu bersifat business to business. (Baca: Ini Alasan Tiga Bank BUMN Pinjam Dana dari Cina).

Rohan menjelaskan, bank asal Cina itu memberi syarat bahwa pinjaman ini untuk pembiayaan infrastruktur yang membutuhkan dana besar dan berjangka panjang. Misalnya, untuk membangun pembangkit listrik program 35 giga watt yang total kebutuhannya Rp 1.200 triliun dalam lima tahun. Maka per tahunnya mencapai Rp 240 triliun.

Nyatanya, setelah dana tersebut masuk brangkas bank, uang itu tak semuanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Seperti yang disampaikan oleh anggota DPR, berkas yang diperoleh Katadata pun menunjukkan hal seperti itu.

Misalnya, dalam lembaran “Alokasi Kredit kepada Debitur Posisi Januari 2016” menunjukkan bahwa Grup Sinar Mas yang bergerak di manufaktur menerima kredit paling besar hingga ratusan juta dolar Amerika melalui anak usahanya. Sebagai contoh, BRI meminjamkan ke PT Pindo Deli yang bergerak di Pulp and Paper sebesar US$ 221 juta dan PT Indah Kiat US$ 175 juta.

Dari Bank Mandiri, Indiah Kiat Pulp and Papers berutang US$ 50 juta, Pindo Deli Pulp and Papers US$ 15 juta, dan Dian Swastatika Sentosa yang bergerak di lini pembangkit listrik US$ 100 juta. Adapun BNI meminjamkan Rp 1,067 triliun kepada PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Total jenderal, setidaknya Grup Sinar Mas mendapat dana segar dengan plafon US$ 561 juta dan Rp 1,067 triliun.

Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinar Mas Group membenarkan adanya pinjaman tersebut. “Benar,” katanya kepada Katadata dalam pesan singkatnya melalui layanan WhatsApp, Rabu, 16 Maret 2016. (Lihat juga: Tiga Bank Besar Pemerintah Akan Tambah Utang ke Cina).

Sementara itu, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Indah Kiat Pulp and Paper Agustian Rachmansjah Partawidjaja menyatakan belum mendapat informasi terkait pinjaman dana dari CDB melalui tiga bank pemerintah tersebut. “Saya belum mendapat info dari Direktur Keuangan. Yang saya tahu PT OKI Pulp and Paper di Sumatera Selatan yang dapat pinjaman kredit dari CDB,” ujarnya.

Indah Kiat merupakan perusahaan kertas dan kayu yang memproduksi hingga 100 ton per hari. Pada 1968, sebanyak 67 persen saham perusahaan ini dibeli oleh Sinar Mas Group atas instruksi Singgih Wahab Kwik atau disapa Kowik.

Reporter: Safrezi Fitra, Arnold Sirait, Yura Syahrul, Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait