Wawancara

Ibarat Mal, E-Commerce Tak Hanya Tempat Belanja

Operasional bisnis kami dijalankan berdasarkan data atau istilahnya data driven atau data inform. Setiap keputusan kami lihat terlebih dulu datanya.

Tim Redaksi

Co-Founder & President Bukalapak Fajrin Rasyid
Ilustrator Betaria Sarulina
Co-Founder & President Bukalapak Fajrin Rasyid

Setelah meraih status unicorn yang memiliki nilai valuasi di atas US$ 1 miliar tahun lalu, Bukalapak terus membesarkan usahanya. Terbaru, e-commerce ini berhasil mengumpulkan gross merchandise value (GMV) sebesar Rp 4 triliun per bulan. Seperlima dari GMV tersebut disumbangkan dari penjualan melalui Mitra Bukalapak yang telah berjumlah lebih dari 300 ribu kios/warung.

Bukalapak termasuk dalam jajaran top lima e-commerce di Indonesia berdasarkan trafik dan popularitas. Laporan iPrice pada kuartal ketiga 2018 menempatkan Bukalapak di nomor dua setelah Tokopedia, dengan 95,9 juta kunjungan per bulan.

Co-Founder sekaligus Presiden Bukalapak Muhamad Fajrin Rasyid menyatakan perusahaan yang dipimpinnya tak pernah berhenti melakukan perbaikan dan inovasi. "Agen atau pemilik warung (Mitra Bukalapak) adalah salah satu inovasi kami tahun ini (2018). Akan ada inovasi-inovasi baru ke depan," kata Fajrin dalam wawancara khusus dengan  Tim Katadata.co.id, Jumat (2/11) lalu.

(Baca juga: Fajrin Rasyid Ditunjuk jadi Presiden Bukalapak)

Bukalapak tahun ini pun telah membangun pusat riset teknologi yang akan mengembangkan AI (artificial intelligence), drone delivery, machine learning, IoT, dan blockchain.  Berikut petikan wawancaranya. 

Bukalapak dibangun dari kamar kos dan menjadi unicorn dalam 7 tahun. Apa kunci sukses Bukalapak?

Sama seperti bisnis pada umumnya, kami selalu berusaha fokus pada pelanggan. Dalam bisnis marketplace, pelanggan ada dua yakni pembeli dan penjual. Salah satu yang bisa menjadi contoh, rating pelanggan di Playstore atau Appstore, Bukalapak termasuk yang tertinggi dibandingkan e-commerce lain di Indonesia.

Perjalanan Bukalapak
Perjalanan Bukalapak (Katadata)

 

Apa yang membedakan Bukalapak dengan e-commerce lain?

Kami berusaha mendengarkan pelanggan sehingga apabila ada masalah kami selalu berusaha menjawab dan menemukan solusi. Kami menggunakan data dalam bisnis operasional, sehingga apabila ada masalah atau kekurangan, kami bisa tepat mengatasinya. 

Apakah ada unit khusus untuk mengatasi permasalahan pelanggan?

Kami punya unit khusus customer satisfaction. Tapi di Bukalapak itu kami tidak hanya melayani kebutuhan pelanggan, kami gabungkan dengan data. Kami bisa tahu misalnya dari 100 keluhan, kami bisa mem-breakdown ternyata 30% di bidang A, dan 30% lainnya di bidang B.

Sehingga kami bisa menganalisis permasalahan. Dari permasalahan tadi kemudian dilempar ke divisi terkait.  Secara rutin, setiap hari kami pantau data. Kami membuat pertemuan mingguan di tingkat manajemen di mana salah satunya membahas insight atau temuan maupun masukan pelanggan.

Masukan apa saja dari pelanggan yang paling dominan?

Lumayan banyak, misalnya logistik karena masalah ini melibatkan pihak ketiga. Kebanyakan e-commerce, termasuk Bukalapak lebih banyak bekerja sama dengan pihak ketiga yakni perusahaan logistik. Maka terkadang, keluhan yang banyak diterima dari pelanggan di antaranya misalnya barang yang belum sampai. Jadi kami berkoordinasi dengan perusahaan logistik untuk mengetahui status pengiriman tersebut.

(Baca juga: Tokopedia dan Bukalapak Dominasi Pasar E-Commerce Indonesia)

Seberapa besar pemanfaatan big data dalam bisnis Bukalapak?

Sangat besar karena kami perusahaan teknologi maka kami sadar data bukan lagi hal penting, tapi hal yang inti dalam bisnis kami. Sehingga hampir setiap tim development di Bukalapak ada orang atau tim terkait data.

Operasional bisnis kami dijalankan berdasarkan data atau istilahnya data driven atau data inform. Setiap keputusan kami melihat terlebih dulu melihat datanya seperti apa. Itu lah bisa dibilang seberapa penting data.

Apakah ada peluang startup baru mengikuti jejak model e-commerce yang ada saat ini?

Pelaku baru yang mau membuat e-commerce semacam Bukalapak, maka perlu memiliki diferensiasi atau keunikan sendiri. Saya beberapa kali menjadi mentor kompetensi startup, ada yang memiliki ide membuat marketplace tapi khusus dari produk-produk daerah.

Pertanyaan saya, apa bedanya dengan Bukalapak atau e-commerce lain? Dia bilang itu khas daerah saya. Tapi keunikan itu bukan karena khas daerah ini atau lainnya, tapi harus ada perbedaan yang spesifik. Bila tidak bisa sediakan perbedaan itu jangan buat e-commerce, tapi buat startup lain yang belum ada.

Tips buat startup baru agar berhasil?

Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan pelanggan. Jangan membuat sesuatu yang baru tapi tidak dibutuhkan pelanggan. Ada baiknya bila mau buat startup perlu riset dulu mengenai kebutuhan pelanggan. Katakan semacam target pasarnya. Misalnya startup dengan target mahasiswa, buat survei tanyakan apakah mahasiswa membutuhkan solusi yang mau kita bangun.

Bagaimana sebaran penjual dan pembeli di Bukalapak, apa masih terpusat di Jawa?

Di Pulau Jawa masih lumayan besar karena faktor geografis, lebih mudah mengirim ke Pulau Jawa apalagi antarkota. Tapi persentase di luar Pulau Jawa ini naik. Artinya orang dari daerah lain mulai menyadari pentingnya e-commerce. Di saat yang sama kondisi infrastruktur Internet semakin baik sehingga mendorong penetrasi e-commerce yang lebih baik.

Berapa persen sebaran penjual dari Jawa?

Yang bisa saya share masih di atas 60%. Secara persentase yang luar Jawa naik lebih cepat dibanding dengan Pulau Jawa.

Pemerintah sedang berusaha membatasi peredaran produk impor di marketplace, bagaimana kesiapan Bukalapak?

Bukalapak sebagai tempat penjualan, tidak berbeda dibanding mal atau pasar offline. Barang yang dijual di Bukalapak, apabila ada barang impor itu pun sudah berlokasi di Indonesia.

Jadi permasalahannya bukan membatasi barang impor di Bukalapak, tapi bagaimana kebijakan ekspor impor di negara ini sendiri. Selain itu, bagaimana pemerintah bisa memberikan insentif bagi lebih banyak produsen lokal untuk memanfaatkan platform online seperti Bukalapak.

Ada beberapa wacana untuk menekan impor, seperti kuota barang impor maksimal 20%, kewajiban SNI hingga insentif bagi e-commerce yang mengutamakan produk lokal. Apa yang paling efektif?

Saya kira, semuanya perlu dianalisis lebih dalam lagi. Misalnya kuota, saya masih belum yakin implementasinya akan seperti apa. Begitu pun dengan SNI.

Insentif sesuatu hal yang baik, tapi yang menjadi masalah bukan bagaimana e-commerce menjual lebih banyak barang lokal. Tapi bagaimana produsen barang lokal semakin banyak.

Jadi bagaimana mendorong produsen dalam negeri memproduksi lebih banyak. Selain itu bagaimana produsen lokal semakin banyak mau bergabung dengan platform online seperti Bukalapak.

Bagaimana Bukalapak mendorong pelapak produsen bersaing dengan para importir?

Bukalapak memberi penghargaan bagi penjual yang sekaligus jadi produsen. Kami sering mengadakan kegiatan penghargaan, peliputan, sosialisasi profil pelapak dengan harapan bisa menjadi inspirasi bagi pelapak lain atau orang yang belum berjualan.

Bagaimana perkembangan pusat riset teknologi yang sedang dibangun Bukalapak di Bandung?

Pusat riset ini hampir selesai, semoga dalam satu-dua bulan ke depan. Sekarang sedang dalam tahap development pembangunan gedungnya. Pusat riset ini akan penting bagi pertumbuhan teknologi di Bukalapak maupun industri pada umumnya. Kami bekerja sama dengan kampus di Bandung, sehingga harapan kami bisa memunculkan temuan-temuan baru yang bisa bermanfaat bagi Bukalapak dan industri pada umumnya.

Apa target pusat riset ini?

Bila membicarakan riset, targetnya tentu jangka panjang. Targetnya lebih ke temuan baru untuk kemudian temuan ini bisa improve sehingga bisa diproduksi atau bisa diimplementasikan dalam bisnis.

Jadi tidak serta merta, misalnya tiga bulan lagi Bukalapak bisa melayani pengiriman barang dengan drone. Tapi (dari pusat riset) bisa diketahui drone apa yang paling tepat untuk mengirim barang atau kerugian yang mungkin timbul dan sebagainya.

Bukalapak baru saja mengakuisisi startup Prelo yang khusus melayani jual beli barang bekas. Apa rencana akuisisi yang lain? 

Kami terbuka dengan setiap kemungkinan tersebut. Bicara akuisisi atau investasi kami bicara banyak hal, bagaimana itu berdampak positif atau sinergi dengan bisnis perusahaan jangka panjang.

Kami memang sudah akuisisi beberapa startup, tapi yang baru kami publish satu ini. Kami akan cek apakah kami akan publish atau tidak.

Berapa investasi untuk akuisisi startup?

Belum bisa saya share. Haha...

Akuisisi itu bagian dari rencana Bukalapak mempertahankan bisnis jangka panjang?

Iya dalam hal visi jangka panjang. Bicara akuisisi itu kan bentuk investasi yang kami keluarkan. Kalau kita punya satu visi bisa kami mengerjakan sendiri. Atau kalau mau bekerja lebih cepat, bisa gandeng pihak lain yang terkait. Tentu ada investasi yang dikeluarkan.

Bursa Efek Indonesia (BEI) hendak menggaet e-commerce masuk bursa. Apa yang menjadi pertimbangan Bukalapak untuk IPO?

Sampai saat ini Bukalapak belum berencana IPO. Yang mungkin perlu dipertimbangkan pihak BEI ketika sebarkan informasi ke startup lebih banyak bicara soal kemudahan prosesnya. Biasanya yang jadi pertanyaan startup, setelah IPO, sebenarnya hak dan kewajiban perusahaan seperti apa?

Banyak yang beranggapan, "Wah kalau sudah IPO perlu sampaikan berbagai macam data kepada publik. Apa saja?" Itu (informasi) yang perlu disampaikan. Setahu saya itu jarang disampaikan (oleh BEI).

Bukalapak tertarik mendapatkan dana dari bursa?

Kami pertimbangkan. Dampak positifnya Bukalapak dapat pendanaan dari masyarakat. Tapi negatifnya soal keterbukaan publik dan sebagainya. Kami mau tahu, apa yang jadi kewajiban kami setelah IPO nantinya.
Karena kami tidak tahu data apa saja yang akan dibuka.

Kalau kita bicara perusahaan yang sudah IPO sekarang, mungkin saya dapat gambaran. Tapi kan perusahaan yang sudah IPO jenisnya berbeda (dengan Bukalapak), jadi yang diinformasikan juga beda. Ada yang detail sekali, ada yang kurang detail. Jadi kami mau tahu kewajiban IPO seperti apa.

Perjalanan Bukalapak
Perjalanan Bukalapak (Katadata)

 

Bagaimana perizinan e-wallet Bukalapak? Mengapa belum mendapat izin Bank Indonesia (BI)?

Kami sedang dalam proses, karena kemarin BI membuat aturan baru. Di aturan baru ada hal-hal yang menjadi persyaratan tambahan. Sehingga dari yang sudah disampaikan sebelumnya, ada yang perlu direvisi.

Beberapa e-commerce bekerja sama dengan fintech: Bukalapak dengan DANA, Tokopedia dengan OVO. Apakah ini tren model kerja sama ke depan?

Kami memiliki visi bisa mengerjakan sendiri atau berinvestasi dengan perusahaan lain. Investasi ini dalam bentuk akuisisi, investasi dana, atau kerja sama. Kami pertimbangkan positif dan negatifnya. Tidak semua hal bisa kami kerjakan sendiri, perlu kerja sama dengan yang lain. Masing-masing punya pertimbangannya.

Trennya memang akan kerja sama antara e-commerce dengan fintech?

Saya pikir e-commerce akan kerja sama dengan beberapa pihak apabila e-commerce mau berekspansi tidak hanya di bidangnya saja, dan mau melebarkan bisnisnya. 

Go-Jek dan Grab telah menyediakan sendiri konten video. Apakah Bukalapak lewat BukaNonton akan mengembangkan ke arah sana?

Konten adalah sesuatu yang potensial, tetapi bentuknya seperti apa perlu kami periksa. Bila buat film sendiri akan butuh biaya yang besar, maka sekarang kami ber-partner dengan pihak-pihak yang membuat film. Kami jadi sponsor atau partner untuk streaming sehingga bisa menonton di Bukalapak. Tapi untuk bikin film sendiri, sampai sekarang belum. Tidak tahu kalau tahun depan.

Apakah layanan film, games dan musik di Bukalapak seperti BukaNonton, BukaTalks, BukaMusik berhasil mendatangkan banyak pengunjung?

Itu salah satu cara memenuhi kebutuhan pelanggan. Ibaratnya seperti mal, dulu kan hanya tempat belanja. Sekarang menjadi one stop family destination, bukan hanya belanja tapi arena bermain, hiburan dan sebagainya.

Arahnya Bukalapak seperti itu menjadi one stop family destination?

Itu hanya analoginya. Bagaimana ke depannya Bukalapak, belum bisa kami share.

(Baca juga: Bukalapak Rilis Fitur Nonton Film Gratis dan Tanpa Kuota

Apakah Bukalapak kesulitan mencari talent seperti keluhan beberapa perusahaan teknologi?

Mendapatkan talent itu tidak mudah. Tapi kami sadari ini bahwa investasi yang tidak sebentar. Dengan kondisi  supply -demand kurang berimbang, demand dari perusahaan teknologi sudah sangat tinggi, sementara supply belum terlalu banyak.

Kami juga lakukan langkah-langkah yang mungkin berdampak agak jangka panjang tadi. Pusat riset ini juga salah satu caranya. Cara lain menjaring komunikasi ke kampus-kampus supaya kebutuhan antara industri dengan yang diajarkan akademisi atau kampus-kampus itu sesuai. Tidak hanya di Jawa, ada beberapa di pulau lain.

Berapa banyak tenaga kerja asing yang direkrut?

Kami punya 2.300 karyawan, tidak sampai lima orang pekerja asing. Separuh dari jumlah karyawan tersebut bekerja di bidang Informasi Teknologi (IT)

Bagaimana tingkat turn over Bukalapak?

Lebih rendah dibanding rata-rata industri. Bahkan banyak, ada kasus yang resign setahun kemudian mau masuk lagi. Kami tetap interview lagi, karena memang karyawan yang kami terima memang yang bagus. Sepanjang tidak ada masalah apapun ya kami terima. Dari sisi karyawan mereka kan juga jadi paham di luar sana belum tentu lebih bagus dari Bukalapak. (Tertawa)

Rata-rata pegawai kebanyakan milenial?

Karena faktor kebutuhan skill, contoh untuk pekerjaan digital marketing, yang lebih paham yang milenial karena selama ini hidup mereka sangat technology savvy.  Karyawan yang bekerja di teknologi juga banyak yang senior,  tapi yang milenial lebih banyak. Milenial lebih adopted dengan teknologi baru. Milenial lebih terekspos dengan teknologi seperti mobile dan AI. 

 Outlook bisnis Bukalapak di 2019?

Kami akan lihat peluang-peluang baru. Kami akan berusaha untuk terus berinovasi. Agen atau pemilik warung adalah salah satu inovasi kami tahun ini. Kalau ini berhasil mungkin akan ada inovasi-inovasi baru ke depannya.

Apa saja kejutan yang disiapkan di 2019?

Kami belum finalisasi, masih dibahas hingga akhir tahun. Yang jelas kami terus berusaha berinovasi, memberikan pelayanan-pelayanan baru.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler