Wawancara

Penetrasi Go-Pay Harusnya Bisa Lebih Cepat daripada Alipay

Selama ini mimpi Bung Hatta susah dicapai karena teknologi belum sampai. Susah mengorganisasi massa untuk bisa kolektif saling membantu.

Yuliawati

CEO Go-Pay Aldi Haryopratomo
Ilustrator Katadata/Betaria Sarulina
CEO Go-Pay Aldi Haryopratomo

PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Go-Jek memfokuskan pada pengembangan Go-Pay sejak setahun terakhir. Fokus itu terlihat dengan mengakuisisi tiga startup layanan teknologi keuangan lokal yakni Kartuku, Midtrans, dan Mapan untuk memperkuat Go-Pay pada akhir 2017.

CEO Go-Jek Nadiem Makarim kemudian mengangkat pendiri Mapan, Aldi Haryopratomo, sebagai CEO Go-Pay. Aldi dan Nadiem sama-sama alumni Universitas Harvard. “Misi kami sama, membangun Indonesia dari bawah," kata Aldi dalam wawancara khusus dengan Tim Katadata.co.id di kantornya, Jakarta Selasa (8/1).

(Baca juga: Go-Pay Rangkul 240 Ribu Mitra, Sepertiganya UMKM)

Ia memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan usaha keuangan ekonomi mikro. Pada 2009, dia membangun startup RUMA atau Rekan Usaha Mikro Anda untuk menjangkau pedagang kecil yang berjualan pulsa listrik, telepon seluler, hingga layanan cicilan kredit. Belakangan, lahir Arisan Mapan yang kini memiliki 2,3 juta orang pengguna dan terbagi dalam 180 ribu kelompok arisan.

(Baca juga: Mapan, Aplikasi Arisan Barang yang Memikat Gojek)

Lewat Go-Pay dan Mapan, Aldi hendak merealisasikan cita-cita tokoh idolanya Bung Hatta dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan. “Selama ini mimpi Bung Hatta susah dicapai karena teknologi belum sampai,” kata Aldi. Go-Pay saat ini memiliki sekitar 240 ribu mitra, di antaranya 85 ribu merupakan UMKM.  Berikut wawancara lengkap Aldi dengan Katadata.co.id:

Apa yang membuat Anda menerima tawaran Go-Jek mengakuisisi Mapan? 

Pertama karena satu misi untuk membangun ekonomi Indonesia dari bawah. Kedua, bergabung dengan Go-Jek menjadi semakin komplet sebagai organisasi karena fokus bukan pada satu produk tapi pada UMKM yang mau kami tumbuhkan.

Saat saya membangun Arisan Mapan, fokusnya sudah dari bawah. Saya sudah bergerak di usaha mikro sejak 2006, sejak masih bekerja di Kiva (perusahaan keuangan mikro berbasis di San Fransisco, AS). Saya melihat bahwa bila hendak membangun ekonomi Indonesia dari bawah harus mengetahui budaya Indonesia yakni gotong royong antar masyarakat.

Sebenarnya rasa kekeluargaan itu ada harganya. Sebagai contoh, sebuah keluarga di desa yang terdiri dari tujuh bersaudara harus bergantian menggunakan panci selama tujuh hari untuk masak rendang saat lebaran.

Dengan ikut Arisan Mapan, mereka kemudian mengumpulkan Rp 50 ribu per bulan selama lima bulan untuk mendapatkan panci. Sementara bila membeli panci yang sama dengan kredit mereka harus membayar Rp 650 ribu. Dari arisan panci kami bergerak ke barang yang lain, seperti rice cooker, lemari, bahkan kami sampai menjual pakaian dalam.

Kami tidak hanya membantu dengan menjual barang tapi juga membuat kebiasaan keuangan yang berbeda. Sekarang mereka terbiasa menabung (untuk mendapatkan barang), bukan dengan kredit.

Pengalaman dan pemahaman di Arisan Mapan dibawa juga ke Go-Pay?

Betul. Arisan Mapan juga berevolusi, awalnya kami menjual pulsa telepon dan listrik dan berkembang menjadi bermacam-macam. Barang yang tersedia melibatkan produksi dari desa, seperti seprai yang dijual antar anggota arisan lainnya. Bayangkan kalau ekonomi Indonesia bisa dari desa ke desa.

Nah semua ini membuat saya terekspos dengan beragam jenis UMKM. Saya mendapatkan pemahaman bagaimana UMKM me-manage sebuah jaringan besar dan membuat ekonomi yang riil, bukan hanya dari atas ke bawah, tapi dari bawah ke atas. Hal ini yang saya bawa ke Go-Pay.

Indonesia berbeda dengan negara lain, mayoritas masyarakatnya masih banyak unbanked. Di negara lain di mana e-money dimulai, kebanyakan mayarakatnya sudah memiliki akses ke perbankan. Sehingga otomatis e-money dan bank saling bersaing.

Di sini terbalik, justru kesempatan terbesarnya untuk membuat ekonomi digital naik dari bawah. Jadi misi kami di Go-Pay bagaimana membangun ekonomi Indonesia dari bawah.

Seperti apa tantangan mendekati masyarakat menengah ke bawah?

Menurut saya yang pertama adalah kepercayaan. Saya pernah menemui warga satu desa di Ungaran, Semarang yang menabung selama setahun buat lebaran. Namun uang desa sekitar Rp 80 juta dibawa kabur. Warga desa rentan termarginalisasi. Sehingga saat kami memulai bisnis harus menjaga kepercayaan.

Kedua, membuat mereka punya mimpi yang lebih besar. Seperti tempat makan favorit saya Nasi Goreng Apjay, kini ada di foodcourt Pasaraya, juga kuliner lokal lainnya. Kami beri mereka kesempatan ke mal, dan menggunakan sistem pembayaran digital, sehingga mereka tidak pusing uangnya hilang. Mereka juga bisa mendapat pinjaman. 

Karena kami perusahaan Indonesia, yang kami inginkan bagaimana membuat yang di bawah bisa naik.  Membuat sebuah siklus dengan juara lokal membuat juara-juara lokal lainnya.

Ada target jumlah UMKM yang akan menjadi bagian ekosistem Go-Pay?

Mimpi saya semuanya bergabung. Indonesia kan hampir 90% pekerjanya di sektor UMKM dan bagaimana mereka memakai Go-Pay.

Dengan begitu bisa tercipta sistem membuat UMKM dapat maju. Bagi kami, yang penting bukan penggunaan Go-Pay tapi dampak Go-Pay terhadap kemajuan UMKM termasuk keluarga dan karyawan UMKM tersebut.

Dengan DNA usaha kami, Go-Jek kan awalnya bukan perusahaan transportasi tapi membantu driver untuk berkembang. Mapan bukan perusahaan panci tapi membantu kelompoknya maju.

Saya sejak dari dulu terobsesi dengan UMKM dan pasarnya juga sangat besar. Apalagi sekarang , saya lihat pemerintah dan bank sangat mendukung. Jadi ibaratnya Mestakung, Semesta Mendukung.

Nadiem pernah menyatakan “tahun 2018 adalah tahunnya Go-Pay.” Sejak ada QR Code, Go-Pay dapat digunakan online dan offline. Bagaimana strategi selanjutnya?

Menurut saya kami baru mulai tahun kemarin. Memang tahun lalu kami berkembang sangat pesat, awalnya Go-Pay hanya di aplikasi sekarang ada di mana-mana. UMKM sekarang sudah mulai memakai Go-Pay. 

Ke depan, saya rasa temanya masih sama. Bukan mengubah yang sudah ada, tapi membuat Go-Pay lebih banyak lagi yang menggunakan. Sekarang mungkin baru berapa persen dari yang kami targetkan.

Kami masih bisa tumbuh berlipat-lipat. Terutama yang kelas menengah ke bawah. Karena bagaimana pun produk yang baru muncul pasti digunakan kalangan menengah dulu.

Dibandingkan dengan dompet digital lain, kami sangat fokus di UMKM. Selama kami fokus ke misi yang sama, kami membantu UMKM, kami akan tumbuh.

Bila ditanya tahun ini tahun apa, saya rasa ini tahun untuk membantu UMKM. Tahun lalu, tahun mereka menerima kami. Sekarang bagaimana membuat mereka maju. Tahun UMKM buat Indonesia. 

Apa visi Go-Pay dalam lima tahun ke depan. Apakah akan seperti Alipay yang memberi kredit secara langsung?

Kami lihat posisi Go-Pay yang paling pas sebagai jembatan. Kalau di Tiongkok, sebenarnya 90% masyarakat saat Alipay masuk, sudah punya rekening di bank. Di Indonesia terbalik, di sini ada bank yang mau membantu ke bawah tapi sulit karena tertekan regulasi.

Misi saya mau membangun sebuah ekosistem keuangan inklusi yang lengkap dan untuk semua orang. Mimpi saya ekonomi yang dibangun tidak hanya dari atas.

Kemungkinan bank akan berbeda 10 tahun lagi.  Mungkin produk tabungan berupa investasi ke bawah seperti bonds untuk restoran atau hal-hal yang fokus untuk kebutuhan UMKM.

Menurut saya kalau itu terjadi, benar-benar sesuai DNA Indonesia, ekonomi kita adalah ekonomi kerakyatan. Menurut saya, salah satu jalan ke sana adalah Go-Pay, Go-Jek, dan juga Go-Food.

Ada rencana Go-Pay ekspansi ke luar negeri?

Kami sebagai sebuah perusahaan pasti mau ke luar negeri. Bangga bila ada budaya seperti arisan, ojek atau apa yang kita jalani di sini dibawa ke luar negeri Menurut saya, itu salah satu refleksi dari sebuah bangsa yang tak hanya peduli sama bangsanya tapi juga dengan tetangganya.

Pemerintah dan Go-Pay sudah bekerja sama, misalnya untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di Semarang. Bagaimana ke depannya?

Kami dan pemerintah sama-sama visinya, pemerintah mau membuat rakyatnya sejahtera dan setara. Kami juga sama. Setiap kali saya bicara dengan regulator atau pemda, mereka pasti punya rambu-rambu yang harus mereka patuhi. Kami juga punya bisnis model yang harus kami jalankan. Tapi selama misi kami sama untuk membantu rakyat sejahtera dan setara, justru ketemu dan membuat kami dekat. Banyak sekali peluang untuk bekerja sama dengan pemerintah. 

Berapa lama waktu yang diperlukan fintech pembayaran untuk menyasar seluruh pasar di Indonesia?

Saya sih mau secepatnya sehingga banyak yang bisa dilakukan. Kalau kita lihat sejarah lainnya misalnya Alipay saja hidup sejak 2004, sudah 14 tahun dan belum meng-cover seluruh populasi di Tiongkok.

Harusnya di Indonesia bisa lebih cepat karena seperti handphone, negara yang sudah punya telepon rumah itu lebih lama untuk mengadopsi handphone. Nah Indonesia dengan mayoritas penduduknya belum punya, jadi bisa langsung lompat.  Jadi ada hal yang bisa membuat kami bisa lebih cepat. Harapan saya dari Sabang sampai Merauke, ada Go-Pay.

Mengenai cashless society, apakah perkiraannya bisa terbentuk 100% cashless di Indonesia?

Bisa sih, seperti saat ini yang sudah 100% contohnya Swedia. Tapi menurut saya musuh kami bukan cash.  Tapi ketidakadaan akses, baik itu layanan keuangan bank, pegadaian, manapun. Menurut saya, cash itu masih punya fungsi seperti untuk bayar parkir Rp 2.000.

Ada dua faktor membuat cash akan berkurang. Pertama, teknologi dan adopsi masyarakat menerima uang elektronik. Kedua, tempat di mana cash itu masih tetap dipakai.

Kayak timbanganlah. Kalau semakin banyak dan semakin cepat penggunaan uang elektronik, cash juga akan pindah. Mungkin suatu saat semua orang bayar bakso akan lebih memilih bayar pakai Go-Pay dibandingan pakai cash.

Anda pernah punya pengalaman keliling beberapa negara dengan mengendarai motor seperti Che Guevara, adakah pengalaman buruk?

Kalau lihat film The Motorcycle Diaries, kan seru banget ya perjalanan Che Guevara. Ternyata setelah sebulan tidur di lantai tuh sakit punggung juga sih.

Tapi yang paling membuat saya sedih, saat saya melihat ada seorang ibu yang mendapat pinjaman saat saya kunjungi sebuah negara di Asia, bukan Indonesia. Nah dia turun gunung untuk membeli handphone ke kota. Karena pakaiannya tidak terlihat seperti orang kota, dia mendapat harga jauh lebih mahal. Ibaratnya tertipu. Itu membuat saya sedih dan berpikir bagaimana menyambungkan dua hal ini, antara orang yang memiliki produk dengan orang yang butuh akses. 

Selain itu saya juga bertemu beberapa kali dengan keluarga yang terlilit pinjaman. Saya lumayan terguncang, karena saat itu hidup saya adalah memberi pinjaman. Saya pikir Muhammad Yunus yang menjadi pemenang Nobel Prize, memberikan pinjaman untuk membantu orang. Tapi kemudian saya melihat, pinjaman itu seperti pisau bermata dua. Bisa positif dan juga negatif.

Nah dari situ saya sempat galau dan mencari cara. Alhamdulilah menemukan teorinya Bung Hatta tentang gotong royong, akhirnya mendirikan Arisan Mapan. Itu sih pertama kali mendapatkan ide bahwa kami harus membantu UMKM dan keluarga secara menyeluruh.

Sejak kapan Anda mengenal pemikiran mengenai pengembangan ekonomi masyarakat bawah?

Dari pengalaman Bapak yang sejak kecil mengajak saya ke pelosok desa. Papa bilang, padi itu kan semakin berat semakin menunduk, itu artinya bukan hanya harus rendah hati. Tapi juga semakin tinggi, kamu harus semakin sering bantu yang di bawah.

Nah sekarang saya mengajarkan hal yang sama kepada dua anak saya. Bila ada acara-acara arisan, anak saya bawa. Jadi pada akhirnya kita di sini bukan untuk diri kita saja, tapi untuk generasi berikutnya.

Dan kalau kita bisa membuat nilai Indonesia ini diangkat kembali dan menjadikannya sebagai fondasi yang kuat, why not? That’s why we are here.

Siapa yang menjadi tokoh panutan dan paling mempengaruhi hidup Anda? 

Tokoh panutan saya Muhammad Hatta. Kenapa Bung Hatta, karena saat bicara struktur ekonomi Indonesia dengan gotong royong dan ekonomi kerakyatan dan asas-asas kekeluargaan itu sebenarnya sudah tertata. Tinggal bagaimana kita sebagai sebuah generasi menggunakan itu. Selama ini mimpi Bung Hatta susah dicapai karena terknologi belum sampai. Susah kan mengorganisasi massa sebanyak ini untuk bisa kolektif saling membantu. 

Tapi Arisan Mapan buktinya telah menggandeng 2 juta keluarga atau lebih, yang saling membantu untuk membeli kebutuhan seperti panci. Jadi kami mengambil daya beli rakyat yang kecil dan banyak, sehingga menjadi kuat. Nah itu kan azasnya dari Bung Hatta itu. Kalau kami bisa menciptakan itu, menurut saya insya Allah mimpinya beliau bisa tercapai.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha