April 2016, Deflasi Terbesar Selama Masa Reformasi

Penurunan harga BBM dan tarif listrik mempengaruhi deflasi April 2016. Selain itu, tidak ada kenaikan drastis dari komoditas pangan (komponen volatile food).
Image title
4 Mei 2016, 16:52

Kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif daya listrik (TDL) dan beberapa harga bahan kebutuhan pokok berperan besar memicu deflasi pada April lalu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada April 2016 terjadi deflasi sebesar 0,45 persen dibanding bulan sebelumnya. Ini merupakan deflasi terbesar dalam kurun waktu 16 tahun terakhir dan menyamai deflasi pada Maret 2000. Deflasi tertinggi terjadi pada Juli 1999 sebesar 1,06 persen setelah meredanya krisis moneter.

Secara kumulatif, inflasi Januari-April 2016 mencapai 0,16 persen, sedangkan inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 3,6 persen. Menurut riset Bank Mandiri dalam Daily Economic and Market Review, tingkat inflasi masih tetap terkontrol meskipun akan terjadi kenaikan harga bahan makanan dan barang kebutuhan pokok menjelang bulan Puasa dan Lebaran.

Bank Indonesia memprediksikan bahwa target inflasi tahun ini 4±1 persen dapat dicapai dengan dukungan penguatan koordinasi kebijakan pengendalian inflasi di tingkat pusat dan daerah. Tim Riset Ekonomi Bank Mandiri Grup memprediksi inflasi akan mencapai 4,5 persen hingga akhir 2016, lebih tinggi dari inflasi tahun lalu sebesar 3,35 persen.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.