Mantan Menteri ESDM Jonan Dinilai Cocok Jadi Dirut Garuda

Jonan dianggap berhasil saat memimpin PT Kereta Api Indonesia.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
8 Desember 2019, 08:34
Warga mengabadikan karangan bunga ucapan terima kasih hingga dukungan kepada Menteri BUMN di halaman Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (6/12/2019).
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Warga mengabadikan karangan bunga ucapan terima kasih hingga dukungan kepada Menteri BUMN di halaman Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (6/12/2019).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mencopot beberapa Direksi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terkait kasus penyeludupan Harley Davidson dan Brompton menggunakan pesawat baru perusahaan. Salah satu yang dicopot yaitu Direktur Utamanya, I Gusti Ngurah Ashkara alias Ari Ashkara.

Langkah tersebut mendapatkan banyak dukungan, baik dari pengusaha, serikat pekerja, termasuk pengamat. Salah satunya Peneliti Alpha Research Database Indonesia, Ferdy Hasiman. Ia bahkan menilai Erick perlu merombak total jajaran direksi Garuda Indonesia.

Sebelumnya, pada Sabtu (7/12), Dewan Komisaris Garuda Indonesia menyepakati pemberhentian sementara direksi yang terindikasi terlibat dalam penyelundupan Harley Davidson dan dua sepeda Brompton.

Selain Ari Askhara, tiga anggota direksi Garuda memang diketahui turut dalam penerbangan pesawat baru Airbus A330-900 Neo dari Prancis tersebut. Ketiganya adalah Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal, Direktur Human Capital Hery Akhyar, dan Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto.

(Baca: Komisaris Berhentikan Direksi Garuda yang Terkait Penyelundupan Harley)

Bagaimanapun, posisi Ari Askhara kini masih diisi oleh Anggota direksi lama, yakni Fuad Rizal yang ditunjuk sebagai Plt Direktur Utama. Fuad sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan Garuda Indonesia.  

Sedangkan, Ferdy menilai, perombakan direksi harus dilakukan agar Garuda menjadi perusahaan yang sehat secara bisnis dan mampu memperbaiki kinerja keuangan perseroan.

"Jika jajaran Direksi Garuda tidak dirombak, saya pesimis bisnis dan pelayanan penerbangan Garuda akan menjadi lebih baik," kata Ferdy dalam sebuah keterangan baru-baru ini.

Ferdy pun memiliki penilaian tersendiri terhadap nama-nama yang disebut sebagai calon pimpinan maskapai pelat merah tersebut. Dia mendukung Ignasius Jonan mengisi posisi Direktur Utama Garuda karena memiliki pengalaman dan kinerja apik saat menjabat sebagai Direktur Utama Kereta Api Indonesia (KAI).

Usai sukses di KAI, Jonan pun ditunjuk Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Perhubungan, sebelum akhirnya digeser menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

(Baca: Erick Thohir Terbitkan Larangan Pemberian Cinderamata Saat RUPS BUMN)

Jonan yang pada periode kedua kepemimpinan Jokowi ini tidak ditunjuk "mengurus" negara lagi. "Untuk menyelamatkan keuangan Garuda, saya berharap Jonan bersedia menakhodai Garuda agar menjadi perusahaan penerbangan yang bersih," katanya.

Kasus penyelundupan yang melibatkan Ari Ashkara dinilainya kecelakaan besar karena sebelumnya dia pernah terlibat dalam rekayasa laporan keuangan 2018. Setelah terkuak, jajaran Direksi, Komisaris, maupun perusahaan didenda oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Garuda pun harus memperbaiki laporan keuangannya. Tercatat Garuda mengalami kerugian tahun berjalan US$ 175 juta atau setara Rp 2,4 triliun (kurs: Rp 13.995 per dolar). Padahal, dalam laporan keuangan sebelumnya, maskapai tersebut tercatat mengantongi laba tahun berjalan senilai US$ 5 juta. 

"Ironisnya, menteri BUMN waktu itu, Rini Soemarno tak mencopot Ari dari posisi Direktur utama. Padahal, manipulasi akuntasi adalah kejahatan korporasi paling besar," katanya. 

(Baca: Video: Skandal Garuda, dari Laporan Keuangan hingga Bromptongate)

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait