Pelibatan TNI dalam Gerakan Menanam Padi Menuai Kritik

Lahan pertanian sebaiknya tidak terus-menerus ditanami padi, melainkan diberi jeda dengan palawija.
Pingit Aria
13 Maret 2017, 19:12
TAMBAH LUAS TANAM PADI
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Petani di lahan sawah Sambiroto, Ngawi, Jawa Timur, Senin (13/3).

Pemerintah semakin intensif menggenjot produksi beras. Pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk bertanam padi yang digagas Menteri Pertanian pun mendapat dukungan di daerah-daerah. Meski, ada juga suara kontra.

Yang terbaru adalah surat edaran Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno yang menggerakkan petugas terkait, termasuk jajaran TNI Angkatan Darat untuk mengajak petani agar segera menanam padi sehabis panen.

Surat No.521.1/1984/Distanhorbun/2017 itu bahkan menyertakan ancaman. “Jika 30 hari setelah panen tidak dikerjakan petani, maka diusahakan pengelolaannya diambil alih oleh Koramil bekerja sama dengan unit pelayanan terpadu pertanian di kecamatan setempat,” demikian bunyi poin kedua dalam surat yang diteken pada 6 Maret 2017 itu.

(Baca juga:  Menteri Amran Bahas Dana Sawit dan Asuransi Pertanian dengan KPK)

surat edaran tanam padi

Jagat maya pun ramai bereaksi. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Alex Indra Lukman menyebut kebijakan itu sebagai “Tanam paksa”. Alex merupakan anggota fraksi PDI Perjuangan dari daerah pemilihan Sumatera Barat.

Hanya dua hari berselang, Irwan merilis surat edaran baru No.521.1/2088/Distanhorbun/2017 yang berisi penjelasan dari edaran sebelumnya. Dalam surat ini, menyatakan bahwa tak akan ada pengambilalihan lahan petani oleh aparat secara sepihak untuk menanam padi.

Grafik: Impor Beras Indonesia 2000-2016

Sementara, penggunaan lahan nganggur untuk menanam padi, menurutnya akan dilakukan atas usulan petani, sesuai peraturan yang berlaku. “Pengelolaan sebagaimana dimaksud pada angka 2, dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan para pihak (Petani dan Pengelola) berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan,” demikian isi poin ketiga surat itu.

Toh program ini tetap menuai kritik. Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa menyatakan bahwa sebaiknya tanah tidak digunakan untuk menanam padi secara terus-menerus. “Tanah itu butuh jeda,” ujarnya.

Menurut Dwi, jika ada tiga masa tanam dalam satu tahun, sebaiknya hanya dua kali tanah itu ditanami padi. Di antaranya, petani sebaiknya menyelinginya dengan palawija.

(Baca juga: Harga Gabah Merosot, Solusi Pemerintah Dinilai Rugikan Bulog)

Dengan begitu, nutrisi yang terkandung dalam tanah bisa terjaga. Selain itu, siklus hidup hama pengganggu akan terputus. “Kalau tanah ditanami padi terus-menerus, wereng juga akan terus bereproduksi sehingga lama-kelamaan akan merajalela,” katanya.

Dwi menyatakan bahwa pola tanam semacam ini sebenarnya telah lama dijalankan oleh petani di daerah-daerah. Penggunaan aparat untuk mengubahnya secara paksa menurut dia tak akan efektif. “Jika dipaksakan, saya khawatir aparat akan mendapat penolakan dari rakyat,” tuturnya.

Pelibatan TNI dalam gerakan menanam padi dimulai Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada Januari 2015 lalu. Saat itu, ia menerjunkan 50 ribu Bintara Pembina Desa (Babinsa) sebagai penyuluh pertanian.

(Baca juga: Bulog Siapkan Rp 30 Triliun untuk Serap Gabah Petani)

Kini, fungsi aparat pun diperluas. Di Jawa Barat misalnya, TNI akan menyiapkan barak sebagai gudang sementara Bulog untuk menampung hasil serapan gabah dari petani. Hal itu dikatakan Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman dalam kunjungannya ke Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (10/3) lalu.

“Saya bersama teman-teman di lapangan sudah menyiapkan gudang dan barak yang berada di wilayah Ciamis untuk jemput bola dalam rangka menyerap gabah hasil panen para petani secara langsung,” katanya seperti rilis Kabidpenum Puspen TNI, Kolonel Inf Bedali Harefa.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait