Setahun Dikelola Pertamina, Produksi Blok Rokan Akan Salip Blok Cepu

Proyeksi produksi Blok Rokan hingga akhir tahun ini mencapai 177,5 ribu barel per hari. Adapun, pada Oktober mendatang, produksinya diproyeksikan sebesar 171,2 ribu barel.
Yura Syahrul
9 Agustus 2022, 17:50
Blok Rokan
Dokumentasi Pertamina
Dirut Pertamina Hulu Rokan Jaffee A. Suardin menyerahkan draf rencana pengembangan (POD) proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Tahap 1 di Lapangan Minas Wilayah Kerja (WK) Rokan, Riau, kepada Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto di Rumbai, Senin (8/8).

Satuan Kerja Khusus Hulu Migas (SKK Migas) bersama para kontraktor migas terus berupaya mencapai target produksi siap jual (lifting) minyak sebesar 703 ribu barel per hari (bph) tahun ini. Salah satu andalannya adalah Wilayah Kerja (WK) atau Blok Rokan yang diharapkan bisa menyalip produksi Lapangan Banyu Urip Blok Cepu dan menjadi kontributor terbesar minyak nasional.

Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan Jaffee A. Suardin menyatakan bakal terus memacu produksi di WK Rokan untuk menopang target produksi minyak nasional. Sejak hari pertama alih Kelola pada 9 Agustus 2021, PHR langsung tancap gas dengan rencana kerja yang masif dan agresif melalui target pengeboran 400 hingga 500 sumur baru tahun ini.

Alhasil, hingga 9 Agustus tahun ini yang bertepatan dengan satu tahun alih kelola Blok Rokan dari Chevron, PHR berhasil melakukan 370 pengeboran atau lebih tiga kali lipat dari sebelumnya.

"Jumlah rig pengeboran aktif pun meningkat menjadi lebih dua kali lipat dari 9 menjadi 21 rig dan akan terus meningkat menjadi 27 rig pada akhir tahun ini,” kata Jaffee dalam acara peringatan satu tahun alih kelola WK Rokan ke tangan Pertamina di Riau, Senin (8/8). 

Advertisement

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyatakan,  pengeboran yang masif dan agresif tersebut menghasilkan peningkatan produksi migas dari  rata-rata 158,7 ribu barel per hari sebelum alih kelola menjadi 161 ribu barel saat ini. Artinya, sudah berkontribusi 26% terhadap total produksi minyak nasional saat ini.

Pencapaian per akhir Juli lalu tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan prediksi awal yang berkisar 142 ribu barel. Adapun, volume cadangan meningkat dari 320,1 MMBOE pada awal transisi menjadi 370,2 MMBOE setelah satu tahun alih Kelola Blok Rokan.

Mendengar pemaparan hasil tersebut, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto yang turut hadir dalam acara itu, melemparkan sebuah tantangan. “Pencapaian ini sudah bagus, tapi kalau bisa naik lagi sehingga bisa melampaui produksi Lapangan Banyu Urip (Blok Cepu) pada akhir tahun ini,” katanya.

Dwi Soetjipto menyebut, produksi Blok Cepu saat ini sekitar 170 ribu barel per hari. Adapun, per akhir kuartal I tahun ini, produksi Blok Cepu sempat mencapai 175 ribu barel.

Menanggapi tantangan tersebut, Nicke optimistis produksi Blok Rokan akan melampaui Blok Cepu sebelum akhir tahun. “Kalau targetnya akhir tahun, Pak Jaffee bakal senang, karena sebenarnya target itu bisa dicapai sebelum akhir tahun,” kata Nicke.

Jaffee pun memaparkan proyeksi produksi Blok Rokan hingga akhir tahun ini mencapai 177,5 ribu barel per hari. Adapun, pada Oktober mendatang, produksinya diproyeksikan sebesar 171,2 ribu barel alias sudah melampaui produksi Blok Cepu saat ini.

Berdasarkan catatan SKK Migas, Blok Cepu yang dioperatori oleh ExxonMobil dan Pertamina Hulu Rokan memang merupakan dua kontraktor migas terbesar penyumbang lifting minyak nasional saat ini. Per akhir kuartal I, produksi ExxonMobil Cepu Limited mencapai 175 ribu barel, disusul oleh Pertamina Hulu Rokan sebesar 157 ribu barel per hari.

Nicke mengatakan pencapaian produksi migas Pertamina secara umum berkat sejumlah upaya optimal yang dilakukan. Pertama, peningkatan aktivitas pengeboran dan kerja ulang sebagai upaya optimasi sumur eksisting.

Kedua, peningkatan aktivitas pada fasilitas produksi dan sarana pendukung. Ketiga, implementasi teknologi  dan transformasi digital di Subholding Upstream Pertamina.

Menurut Nicke, Pertamina Hulu Rokan mampu melewati proses transisi, mencakup cultural engagement yang meliputi penyesuaian proses bisnis, budaya kerja dan sistem manajemen keselamatan, serta berbagi pengalaman dengan entitas Pertamina lain sehingga operasional Blok Rokan berjalan lancar.

Bahkan, Nicke mengklaim, dengan kompleksitas tinggi dan skala terbesar di regional Asia Tenggara (SEA), pengelolaan Blok Rokan oleh PHR menjadi model alih kelola terbaik. Selain pengeboran massif untuk menggenjot produksi, Blok Rokan mampu menyerap 60% Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk menggerakkan perekonomian nasional.

Namun, selain menuai dampak positif dari kenaikan harga minyak global untuk Pertamina di bisnis hulu, kondisi ini memberikan tekanan di bisnis penyediaan BBM.

Nicke menjelaskan, tekanan di bisnis penyediaan BBM dipengaruhi banyak faktor, di antaranya faktor geopolitik luar negeri yang semakin berkembang dan permintaan produk BBM dalam negeri yang terus meningkat. Padahal kilang eksisting Pertamina belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

"Untuk itu, kami berupaya mempertahankan intake sesuai rencana optimasi hilir, meningkatkan keandalan melalui program preventif, predictive maintenance dan turn around, serta pengembangan dan pembangunan kilang sesuai amanat pemerintah melalui proyek RDMP dan GRR," katanya. 

Editor: Redaksi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait