Antam Tunjuk Wika-Kawasaki Bangun Pabrik Feronikel di Maluku

Dana Penyertaan Modal Negara (PMN) tidak cukup untuk membangun pabrik ini.
Miftah Ardhian
21 Desember 2016, 19:14
Antam
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Aneka Tambang (Persero) Tbk., akan merealisasikan pembangunan pabrik feronikel di Halmahera Timur. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telah menunjuk konsorsium PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan Kawasaki Heavy Industries menggarap EPC (engineering, procurement, and construction).

Direktur Utama Aneka Tambang (Antam) Tedy Badrujaman mengatakan pembangunan pabrik Feronikel ini merupakan langkah perusahaan melakukan hilirisasi, sesuai arahan pemerintah. Pabrik ini akan mengolah bijih nikel menjadi feronikel.

Selama ini Antam mengekspor hasil tambangnya yang masih mentah. Dengan adanya pabrik ini, Antam bisa menciptakan nilai tambah dari bahan mentah hasil tambang Antam menjadi barang setengah jadi. Negara pun bisa mendapatkan nilai tambah dari hasil produksi pabrik ini.

"Kami adalah perusahaan pertambangan yang memilki wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) di daerah. Maka, di daerah tersebut wajib untuk membangun pabrik pengolahan," ujar Tedy dalam acara penandatanganan kontrak kerjasama dengan konsorsium Wika-Kawasaki, di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (21/12).

(Baca: Jonan: Freeport Harus Bangun Smelter)

Pembangunan pabrik ini juga merupakan sinergi antar BUMN untuk mendukung program pembangunan industri dengan nilai kontrak mencapai Rp 3,43 triliun. Dana pembangunan pabrik ini menggunakan Penyertaan Modal Negara (PMN) Antam yang diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015.

Menurut Tedy, Antam menetapkan Konsorsium Wika-Kawasaki tender kontrak EPC proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH) berdasarkan hasil evaluasi pada 19 Agustus 2016. Evaluasi ini mencakup administrasi, teknis, harga, kualifikasi, dan verifikasi perusahaan yang ikut tender.

Pabrik memiliki kapasitas produksi sebesar 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun. Targetnya proyek ini akan selesai pembangunannya pada 2018. Konsorsium akan melakukan pekerjaan seperti desain rekayasa, pengadaan, konstruksi, memulai pelaksanaan proyek, dan pengujian operasi pabrik.

(Baca: Bangun Smelter Akhir 2017, Medco Berharap Newmont Masih Bisa Ekspor)

Tedy menjelaskan, proyek ini merupakan pembangunan tahap 1. Rencananya, pabrik ini akan dibangun sebanyak tiga tahap dengan nilai kontrak yang diperkirakan hampir sama dengan saat ini. Antam telah merencanakan untuk menambah kapasitas produksi dari 27.000-30.000 TNi per tahun, menjadi 40.500-43.500 TNi per tahun. 

"Ini merupakan persyaratan untuk membangun pabrik baja stainless stell," ujar Tedy.

Meski begitu, dana PMN dari pemerintah ternyata tidak cukup untuk pembangunan pabrik ini. Makanya Antam masih membutuhkan suntikan pendanaan yang cukup besar melalui pinjaman. Menteri BUMN Rini Soemarno pernah menyatakan tidak akan memberikan PMN lagi kepada BUMN.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Bagya Mulyanto mengatakan pemerintah sangat mendukung pembangunan pabrik ini. Proyek ini sangat mendukung program pemerintah dalam hal hilirisasi pertambangan. Pembangunan pabrik di wilayah kerja pertambangan juga turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

Karena menggunakan dana PMN, kata Bagya, Kementerian BUMN akan melakukan pengawasan ketat dengan meminta laporan kemajuan pembangunan proyek ini. "Proyek ini harus dilakukan dengan tepat waktu. Kami akan melakukan pengawasan setiap bulan," ujar Bagya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait