Banjir Pasokan, Harga Minyak Indonesia Januari 2016 Tumbang

Harga minyak Rata-rata ICP Januari tercatat hanya US$ 27,49 per barel, dibandingkan Desember tahun lalu di level US$ 35,47 per barel
Safrezi Fitra
2 Februari 2016, 20:59
Kilang Minyak
KATADATA
Kilang Minyak

KATADATA - Setelah tercatat menyentuh titik terendah sejak tahun 2004 pada tahun lalu, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) kembali mengalami penurunan pada Januari 2016. Rata-rata ICP Januari tercatat hanya US$ 27,49 per barel, dibandingkan Desember tahun lalu di level US$ 35,47 per barel.

Tim Harga Minyak Indonesia mengungkapkan ada beberapa faktor yang membuat ICP Januari anjlok. Pasokan minyak membanjiri pasar dunia sepanjang bulan lalu. Sebaliknya permintaan justru mengalami penurunan. (Baca: Harga Minyak Indonesia Tahun Lalu Anjlok, Terendah Sejak 2004)

Sanksi ekonomi negara-negara barat terhadap Iran telah dicabut pada 16 Januari 2016. Salah satu produsen terbesar dunia ini mulai bisa menjual produksi minyaknya ke pasar dunia. “Pasokan minyak mentah dunia meningkat 500.000 barel per hari, terutama setelah dicabutnya sanksi ekonomi Iran,” ujar Tim Harga Minyak Indonesia, dalam keterangannya, Selasa (2/2).

OPEC memperkirakan pasokan minyak dari negara-negara di luar OPEC meningkat 230.000 barel per hari. Sementara Lembaga Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA) menyatakan hingga akhir Januari, ada peningkatan stok minyak mentah sebanyak 7,5 juta barel di negara tersebut. Pasokan produk turunan minyaknya juga tercatat naik. Pasokan distillate naik 7,4  barel dan stok gasoline naik 27,1 juta barel dibandingkan Desember 2015. (Baca: Harga Minyak Anjlok, Pemerintah Akan Revisi Asumsi APBN)

Dari sisi permintaan juga mengalami penurunan. Kebutuhan minyak Cina untuk kuartal I 2016 diperkirakan turun 400.000 barel per hari dibandingkan kuartal IV tahun lalu. Ini disebabkan melemahnya indikator ekonomi dan devaluasi mata uang yuan. OPEC juga memperkirakan permintaan minyak dunia kuartal I tahun ini turun 600.000 barel per hari dibandingkan kuartal sebelumnya.

Untuk kawasan Asia Pasifik, penurunan ICP dipengaruhi mulai diaktifkannya kembali reaktor nuklir berkapasitas 700 megawatt (MW) milik Korea Selatan. Di Jepang, permintaan tenaga listrik pada Januari 2016 juga menurun 6,3 persen dibandingkan Desember 2015.

Harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) turun US$ 5,55 menjadi US$ 31,78 per barel dan jenis Brent turun US$ 6,92 menjadi US$ 31,98 per barel. Harga Basket OPEC turun paling tinggi, yakni US$ 7,49, menjadi US$ 26,37 per barel. (Baca: Harga Minyak Rendah Dinilai Berefek Positif Bagi Ekonomi Indonesia)

Reporter: Miftah Ardhian
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait