Tanpa PLTN, Indonesia Terancam Krisis Listrik

Hanya tenaga nuklir yang besar dan cepat dibangkitkan
Safrezi Fitra
20 November 2014, 15:43
PLN KATADATA | Arief Kamaludin
PLN KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Indonesia perlu segera membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), sebagai solusi untuk mengatasi krisis listrik ke depannya. Kebutuhan listrik yang besar tidak akan cukup jika hanya diatasi dengan energi lain.

Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo mengatakan pembangunan PLTN sangat penting bagi Indonesia. Jika tidak membangun PLTN, maka Indonesia akan kekurangan pasokan listrik hingga 4.000 megawatt pada 2025. (Baca: Krisis Listrik di Depan Mata, Pemerintah Perlu Bangun Pembangkit Baru)

Krisis listrik akan tetap terjadi meski semua sumber energi seperti gas dan batu bara sudah dioptimalkan. "Nuklir harus tetap dibangun,? ujar Susilo di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (20/11).

Kepala Bidang Perencanaan Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Sugiyono mengatakan kebutuhan listrik per kapita pada tahun 2025 sebesar 2.500 kilowatt jam (kWh). Kebutuhan ini akan terus meningkat menjadi 7.000 kWh pada tahun 2050.

Advertisement

Dia pun meragukan jika kebutuhan ini bisa dicukupi dengan membangun pembangkit lain, selain nuklir. "Hanya tenaga nuklir yang besar dan cepat dibangkitkan," ujarnya.

Agus mengakui bahwa sampai saat ini masih banyak kendala dalam pembangunan PLTN. Salah satunya, masih banyak masyarakat yang belum memahami nuklir secara  utuh. Banyak juga yang belum menyadari pentingnya tenaga nuklir dan dampak dari pembangunan PLTN. Makanya, hingga saat ini banyak masyarakat yang menolak lokasi pembangunan PLTN. (Baca: Pemerintah Kaji Tawaran Rusia Bangun PLTN

Direktur Eksekutif Center for Energy and Strategic Resources Indonesia (CESRI),Prima Mulyasari Agustini juga berpendapat sama. Dia meminta agar pemerintah terus mensosialisasikan teknologi nuklir untuk pembangkit ini kepada masyarakat.

"Selama ini ada ketakutan (dari masyarakat) yang enggak beralasan seperti hantu tapi hantunya enggak pernah liat," katanya.

Pembangunan PLTN ini seharusnya bisa menjadi program prioritas pemerintah. Bahkan, dia menilai dana penghematan dari kenaikan harga BBM bisa dialokasikan untuk pembangunan PLTN

Reporter: Arnold Sirait
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait