Tokopedia Tepis Kabar Soal Investasi dari Google & Temasek

Google & Temasek disebut sebagai calon investor yang paling aktif dalam melakukan negosiasi dengan Tokopedia.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
4 Juli 2020, 12:01
tokopedia
Tokopedia
Tokopedia dikabarkan dalam tahap pembicaraan dengan Google & Temasek Holdings Pte terkait investasi dalam putaran pendanaan perusahaan senilai US$ 500 juta Rp 7,2 triliun dan US$ 1 miliar atau Rp 14,5 triliun.

Tokopedia dikabarkan dalam tahap pembicaraan dengan Google & Temasek Holdings Pte terkait investasi dalam putaran pendanaan perusahaan senilai US$ 500 juta Rp 7,2 triliun dan US$ 1 miliar atau Rp 14,5 triliun. Namun, unicorn Tanah Air itu menepis kabar tersebut.

"Kami tidak berkomentar untuk spekulasi atau rumor pasar," ujar  VP of Corporate Communications Tokopedia Nuraini Razak kepada Katadata.co.id, Sabtu (4/7).

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (3/7), berdasarkan sumber yang mengetahui hal ini, Tokopedia yang didanai oleh Softbank Vision Fund juga tengah mengadakan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) lainnya, seperti Facebook Inc., Microsoft Corp.. dan Amazon.com Inc.

(Baca: Tokopedia Dikabarkan Dapat Pendanaan Rp 7,1 T dari Investor Singapura)

Namun,  menurut sumber tersebut, Google & Temasek disebut sebagai calon investor yang paling aktif dalam melakukan negosiasi dengan Tokopedia. Pembicaraan tersebut akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Sebelumnya, kabar investasi itu juga sempat dilaporkan oleh DealStreetAsia akhir Juni lalu.

Tokopedia memang dikabarkan menggalang pendanaan baru pada tahun ini. Pada Februari lalu, Nuraini sempat mengatakan bahwa perusahaan membidik investor yang bisa memberi nilai tambah, seperti Alibaba, Softbank, dan Sequoia Capital.

Nuraini pernah menyatakan, CEO Tokopedia William Tanuwijaya menilai ketiga investor tersebut memberikan nilai tambah bagi perusahaan. "Tidak hanya soal uangnya, tetapi juga best practice-nya. Bagaimana penerapan teknologi atau bisnis dari Alibaba di tempat lain misalnya," ujar Nuraini, Februari lalu. 

Penerapan dari teknologi maupun model bisnis yang Alibaba jalankan dinilai memberikan nilai tambah bagi Tokopedia ke depan. Oleh karena itu, ketika perusahaan menemukan investor yang cocok dan bisa memberikan nilai tambah, maka perusahaan bakal melakukan pendanaan. "Itu merupakan saat yang tepat bagi kami untuk menambah partner (investor)," ujarnya.

(Baca: Bersaing dengan Google, Alibaba Bakal Menambah Pusat Data Tahun Depan)

William juga sempat menyampaikan, dirinya berharap bisa menarik investor baru sebelum melantai di bursa saham. Rencananya, Tokopedia bakal melakukan penawaran perdana saham publik (Initial Public Offering/IPO) di dua bursa saham, yakni Indonesia dan negara lain. Kemungkinan di luar Asia. Namun, dia tidak mengungkapkan persis waktunya, Tokopedia disebut-sebut bakal IPO pada 2023. 

Sedangkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengisyaratkan akan ada startup yang menjadi unicorn dan decacorn tahun ini. Beberapa modal ventura menilai, perusahaan rintisan di bidang pendidikan dan kesehatan berpeluang menjadi unicorn tahun ini.

Unicorn merupakan sebutan bagi startup bervaluasi lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Sedangkan decacorn jika valuasinya melebihi US$ 10 miliar atau setara Rp 140 triliun.

Berdasarkan data CB Insight, valuasi Tokopedia melebihi US$ 7 miliar atau sekitar Rp 95,54 triliun. Perusahaan e-commerce itu dikabarkan dalam pembicaraan untuk mengumpulkan pendanaan US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 21 triliun.

Berbagai perusahaan teknologi di AS memang tengah meningkatkan perhatiannya ke Asia seiring dengan melambatnya perumbuhan ekonomi di negara tersebut dan Eropa. Sehingga, negara-negara dengan pertumbuhan penggunaan ponsel pintar (smartphone) yang tumbuh pesat seperti Indonesia pun menjadi sasaran.

(Baca: DJP Merilis Kriteria Perusahaan Digital yang Wajib Menyetorkan PPN)

Berdasarkan riset Google, Temasek, Bain & Co, pasar e-commerce di Indonesia diproyeksikan akan meningkat dari US$ 21 miliar pada 2019 menjadi US$ 82 miliar pada 2025.

Sebelumnya, Facebook juga menanamkan modal di salah satu platform digital di India, yakni Jio Platform. Sedangkan, salah satu unit bisnisnya, yakni WhatsApp, belum lama ini juga menyuntikkan dana kepada perusahaan ride hailing Gojek.

Video Pilihan

Artikel Terkait