Manfaatkan Platform Digital, Pendapatan UMKM Naik 500% Selama Pandemi

Digitalisasi membuat UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Image title
25 Mei 2021, 19:59
umkm, digital, marketplace, toko online, online, roemah naskoen, kopiklinik, kemenkop, kominfo, internet
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp
Warga menggunakan perangkat elektronik untuk berbelanja daring di salah satu situs belanja daring di Bogor, Jawa Barat, Senin (26/4/2021).

Pendapatan sebagian besar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melonjak meski pandemi Covid-19, setelah mendigitalisasi bisnisnya. Digitalisasi membuat UMKM bisa menjangkau pasar yang lebih luas.

Pendiri UMKM Roemah Naskoen Didit Helditia mengatakan bisnisnya mengalami pertumbuhan pesat selama pandemi Covid-19. Pertumbuhan ini terbantu penjualan di channel online. "Pendapatan 500% meningkat selama pandemi, dan itu hanya melalui online," katanya dalam webinar Katadata bertajuk #BanggaBuatanIndonesia
Tuan Rumah di Negeri Sendiri pada Selasa (25/5).

Usahanya bergerak di sektor kuliner dengan menjual menu nasi kuning. Namun, selama pandemi UMKM ini mengandalkan penjualan dari online dan tidak mengandalkan sewa tempat. "Sebutan sekarang dapur hantu (ghost kitchen)," ujar Didit.

Begitu juga dengan UMKM asal Yogyakarta, Klinik Kopi. "Kami pakai marketplace. Penjualan besar sekali setelah digital," ujar Pendiri Klinik Kopi Firmansyah.

Bahkan, menurutnya, melalui channel online itu, usahanya bisa memperluas pasar ke banyak tempat. "Jangkauan lebih luas. Per hari ini, 30% pembeli ada dari Jakarta, 30% Kalimantan, sisanya baru Jawa Tengah dan lainnya," ujarnya.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) juga mencatat, ada 60% UMKM terpukul pandemi corona. Ini karena permintaan menurun di masa pagebluk.

Namun ada juga UMKM yang meraup untung di masa sulit ini. Umumnya mereka yang masuk ke eksositem digital.

 

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dengan Tokopedia bertajuk “Bertahan, Bangkit dan Tumbuhnya UMKM di Tengah Pandemi melalui Adopsi Digital”, banyak dari pelaku UMKM beralih ke platform online seperti marketplace untuk menjual produknya selama pandemi.

Mayoritas pelaku usaha mereka memilih berjualan online karena fleksibilitas waktu yang lebih baik (43,5%), kehilangan pendapatan karena PSBB di sejumlah daerah (41,6%), pencari nafkah yang kehilangan pendapatannya (35,4%), mengalami penurunan pemasukan dari bisnis offline (31,3%), dan diberhentikan dari pekerjaan sebelumnya (16%).

Pemerintah juga mencatat, selama 11 tahun terakhir hingga April 2020, telah ada 4 juta UMKM baru yang mendigitalisasi bisnisnya.

Secara keseluruhan, jumlahnya mencapai 12 juta atau 19% dari total sekitar 64 juta UMKM. Sedangkan, pemerintah juga menargetkan 30 juta UMKM terhubung ke ekosistem digital pada 2023.

Pemerintah Gencar Bangun Infrastruktur Digital

Demi mengakomodasi keperluan digitalisasi UMKM itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengaku gencar mengembangkan infrastruktur digital tahun ini. "Kami agendakan pembangunan infrastruktur menyeluruh di Indonesia. Kami akselerasi, tidak 3G lagi, tapi 4G," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo Mira Tayyiba.

Tahun lalu, Kominfo mencatat, ada 12.548 desa yang belum terakses internet 4G. Rinciannya, 9.113 desa masuk terdepan, terpencil dan tertinggal (3T), sementara 3.435 lainnya di luar wilayah itu.

Untuk mengentaskan jumlah desa yang belum terakses internet itu, Kominfo tahun lalu mampu membangun 1.200 base transceiver station (BTS). Tahun ini, kementerian juga menargetkan bisa membangun 4.200 BTS.

Kementerian juga sudah menyiapkan anggaran untuk pembangunan BTS di 3T tahun ini. Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kominfo pun telah menandatangani kontrak proyek penyediaan BTS di 2.700 desa pada awal tahun ini. Proyek itu terdiri dari paket satu dan dua yang mencakup Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, dan Sulawesi.

Selain itu, Kominfo juga menyiapkan pembangunan Satelit Satria yang bakal memiliki kemampuan tiga kali lipat dari sembilan satelit yang dimanfaatkan Indonesia saat ini. "Kami buat satelit, agar 150 ribu titik publik terlayani internet," ujarnya. Satelit Satria akan diluncurkan pada kuartal III 2023. 

Selain itu, seiring dengan penuntasan akses 4G, Kominfo juga mengembangkan akses internet generasi kelima atau 5G. "Ini akan berjalan seiring dengan 4G," ujarnya.

Kementerian Kominfo dan perusahaan telekomunikasi memang telah menguji coba jaringan 5G hingga 12 kali selama 2017 hingga tahun lalu. Salah satunya, dilakukan saat perhelatan Asian Games pada 2018.

 

"Intinya tahun ini sampai akhir 2024, kami pastikan infrastruktur digital sudah siap. Ini agar tidak ada kelompok masyarakat atau daerah yang tidak manfaatkan digital," ujar Mira.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait