Mampukah Vaksin Covid-19 Bawa IHSG Tembus 6.000 di Akhir Tahun?

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik signifikan 2,07% menyentuh level 5.930, nyaris menyentuh level 6.000, pada perdagangan awal pekan ini, Senin (7/12).
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
7 Desember 2020, 19:07
ihsg, saham, pasar modal, pasar saham, indeks saham, ihsg 6000, vaksin virus corona, vaksin, covid-19, corona, update ihsg, update saham, ihsg akhir tahun, saham akhir tahun
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.
Karyawan mengamati layar yang menampilkan informasi pergerakan harga saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup naik signifikan 2,07% menyentuh level 5.930, nyaris menyentuh level 6.000, pada perdagangan awal pekan ini, Senin (7/12). Kenaikan indeks hari ini, dipengaruhi euforia kedatangan vaksin Covid-19 Sinovac ke Tanah Air, Minggu (6/12) malam.

Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan, kedatangan 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 ini memang membuat IHSG hari ini melambung naik. Dengan begitu, ia percaya indeks bisa kembali tembus di atas 6.000 meski ada beberapa pertimbangan lain.

Menurutnya, kenaikan indeks secara lebih lanjut, dipengaruhi oleh seberapa cepat pemerintah bisa mendatangkan vaksin gelombang berikutnya. Catatan lainnya, vaksin tersebut tidak menimbulkan efek negatif pada tubuh penerima vaksin.

"Kita asumsikan semua berjalan baik, jumlah semakin banyak dan makin cepat, bisa membuat indeks akhir tahun minimal 6.000, bisa ke 6.100 malah kalau semuanya lancar," kata Edwin kepada Katadata.co.id, Senin (7/12).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjanjikan jutaan vaksin serupa akan tiba di Indonesia awal Januari tahun depan. Selain vaksin jadi, pemerintah juga akan mendatangkan bahan baku 15 juta dosis vaksin bulan ini dan 30 juta pada Januari.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama juga menilai indeks Tanah Air hari ini sangat kental dipengaruhi oleh kedatangan vaksin Covid-19. Sehingga, dia yakin IHSG pada bulan ini bisa bergerak menembus level di atas 6.000.

"Euforia ini memberikan harapan vaksinasi secepatnya sehingga memberikan optimisme penangan Covid-19 akan berjalan sesuai rencana. Ini otomatis bisa memberikan katalis positif untuk market," katanya kepada Katadata.co.id, Senin (7/12).

Kenaikan indeks pada perdagangan hari ini, juga ditandai dengan aktivitas di pasar saham yang kembali ramai. Hal ini terlihat dari total volume saham yang diperdagangkan sebanyak 25,84 miliar unit saham dengan frekuensi mencapai 1,32 juta kali. Total nilai transaksi juga tercatat mencapai Rp 17,32 triliun hari ini.

Vaksin ini juga berdampak pada pergerakan saham-saham sektor farmasi pada hari ini, terutama perusahaan milik negara. Sebut saja saham PT Indofarma Tbk (INAF) yang meroket 24,78% menjadi di harga Rp 4.230 per saham.

BUMN lain yang sahamnya naik yaitu PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sebesar 24,79% menjadi di harga 4.430 per saham. Lalu, saham anak usahanya, PT Phapros Tbk (PEHA) juga melambung hingga 24,78% menjadi di harga Rp 2.090 per saham.

Sementara, dari sektor swasta, saham distributor alat kesehatan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) juga tercatat mengalami kenaikan signifikan 24,68% menjadi di harga Rp 1.440 per saham. Sedangkan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menguat meski hanya 0,68% menjadi Rp 1.485 per saham.

Kenaikan signifikan saham-saham farmasi BUMN, khususnya Indofarma dan Kimia Farma, membuat harganta sudah masuk kategori premium. Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, investor perlu waspada karena risiko tinggi, harganya bisa jadi naik tinggi namun tidak menutup pintu malah rugi semakin besar.

"Kalau dua saham itu (Indofarma dan Kimia Farma) pergerakannya tidak mengikuti fundamental, tapi lebih kepada sentimen," kata Suria kepada Katadata.co.id, Senin (7/12).

VAKSIN COVID-19 TIBA DI TANAH AIR
VAKSIN COVID-19 TIBA DI TANAH AIR (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.)

 

Hal yang sama juga disampaikan Edwin Sebayang. Menurutnya, valuasi saham Indofarma dan Kimia Farma saat ini sudah terlalu mahal jika dibandingkan dengan kinerjanya. "Saham-saham BUMN itu sudah mahal banget, super mahal," kata Edwin.

Indofarma misalnya, hingga triwulan III 2020 masih mencatatkan rugi bersih senilai Rp 18,88 miliar, meski membaik dari periode sama tahun sebelumnya yang rugi hingga Rp 34,84 miliar. Sementara Kimia Farma memang mencatatkan laba Rp 37,19 miliar, tapi turun hingga 11,08% secara tahunan.

Kedatangan vaksin Covid-19 ke Indonesia, memang menjadi sentimen bagi emiten farmasi pelat merah, tapi hanya sentimen sesaat saja. Jika vaksin sudah sudah mulai didistribusikan dan merata, sentimen positifnya pindah ke sektor-sektor saham lainnya seperti infrastruktur, konstruksi, properti, semen, maupun perbankan.

Menurutnya, pelaku pasar akan mencari sektor-sektor yang memiliki prospek yang bisa bertumbuh lebih baik dengan kembali pulihnya perekonomian. Sementara setelah kondisi kembali pulih, vaksin Covid-19 dianggap sama seperti vaksin-vaksin penyakit lainnya yang sudah ada sebelumnya.

"Jadi pengaruh (kedatangan vaksin Covid-19) hanya short term. Sehingga emiten dari farmasi tersebut nanti menjadi ditinggalkan," kata Edwin.

Sehingga, Edwin menyarankan untuk investor menerapkan strategi trading jangka pendek pada kedua saham farmasi BUMN tersebut. Pelaku pasar saham, bisa memantau pergerakan kedua saham tersebut dalam 2-3 hari ke depan, untuk kemudian bisa mengambil untung.

"Jika sudah punya sahamnya, jangan disimpan karena ini sifatnya hanya sentimen. Strateginya harus trading, memanfaatkan euforia ini," kata Edwin.

Video Pilihan

Artikel Terkait