Gerak Saham Indosat yang Diisukan akan Kosolidasi dengan Tri

kabar konsolidasi kedua operator tersebut direspons negatif oleh pelaku pasar terhadap saham Indosat. Padahal, konsolidasi ini dinilai positif untuk bisnis perseroan.
Image title
22 Desember 2020, 17:09
indosat merger dengan tri, indosat, saham indosat, tri, ooredoo, saham, pasar modal, operator telekomunikasi, bumn, erick thohir, indosat jadi bumn, saham indosat naik
Arief Kamaludin|KATADATA
Indosat.

Dua operator telekomunikasi, PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia dikabarkan segera berkonsolidasi. Beredar kabar pemilik kedua perusahaan, yaitu QPSC Ooredoo Qatar dan CK Hutchison Holdings Ltd Hong Kong, sudah mendekati kesepakatan

Sayangnya, kabar konsolidasi kedua operator tersebut direspons negatif oleh pelaku pasar terhadap saham Indosat yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Padahal, konsolidasi ini dinilai positif untuk bisnis Indosat ke depannya.

Pada perdagangan Selasa (22/12) sekitar pukul 14.00 WIB, saham Indosat bergerak turun 5% di harga Rp 5.225 per saham. Meski begitu, saham Indosat sempat naik 9% di awal perdagangan menyentuh Rp 6.000 per saham.

Analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya mengatakan seharusnya dengan adanya konsolidasi ini, bisa mendorong kinerja Indosat di tahun yang akan datang. "Juga bisa membuat persaingan di industri telekomunikasi lebih sehat," katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (22/12).

Melansir Bloomberg, berdasarkan orang yang mengetahui soal rencana konsolidasi ini, CK Hutch sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk menggabungkan bisnis telekomunikasi Indonesia dengan PT Indosat Ooredoo, kata sumber tersebut. Ooredoo, memiliki 65% saham Indosat.

Sumber yang meminta untuk tidak disebutkan namanya itu mengatakan kesepakatan ini akan melibatkan penawaran tunai dan saham. Kedua perusahaan ditetapkan untuk menjadi pemegang saham signifikan dalam entitas gabungan, kata sumber tersebut.

Pengumuman konsolidasi ini bisa saja datang pada pekan ini. Meski begitu, struktur dari setiap kesepakatan potensial di Indonesia belum diselesaikan. Sehingga, negosiasi itu masih bisa ditunda atau bahkan dibatalkan, kata sumber tersebut.

Katadata.co.id mencoba untuk menanyakan prospek bisnis Indosat dengan adanya konsolidasi ini kepada Media Relations Manager Indosat Eni Nur Ifati. Meski begitu, hingga berita ini ditulis, Eni hanya berkata, "Kalau jawaban, segera ya," katanya.

Selama Desember 2020, Saham Indosat Naik 150%

Meski harga saham Indosat hari ini bergerak bak roller coaster, sejak awal Desember 2020 sahamnya terakumulasi naik signifikan. Akhir November, saham Indosat masih berada di harga Rp 2.200, sedangkan penutupan perdagangan Senin (21/12) sahamnya berharga Rp 5.500. Artinya, harga saham Indosat naik 150%.

Anissa mengatakan kenaikan harga saham Indosat tersebut memang sejalan dengan prospek bisnisnya yang masih bagus. Pasalnya, tahun ini Indosat menjadi salah satu provider seluler yang agresif dalam menambah jaringan 4G, sebagai salah satu langkah menyambut 5G.

"Tak hanya itu sentimen dari omnibus law juga bisa berdampak positif bagi industri telekomunikasi di tahun yang akan datang," kata Anissa.

Anissa menilai, kenaikan saham Indosat ini juga didorong oleh transfer kepemilikan saham milik pemerintah, dari Kementerian Keuangan kepada Kementerian BUMN pada awal bulan ini. Seperti diketahui, pemerintah memiliki 14,29% saham Indosat.

Anissa menilai, track record Menteri BUMN Erick Thohir cukup positif sehingga diharapkan bisa membawa kinerja positif Indosat. "Diharapkan bisa membawa kinerja Indosat lebih baik ke depan, terlebih Indosat masih membukukan kerugian," katanya.

Indosat membukukan kenaikan pendapatan 9,22%, menjadi Rp 20,59 triliun hingga kuartal III-2020. Meski pendapatannya naik, rugi bersih Indosat membesar menjadi Rp 457,5 miliar, dibandingkan kuartal III tahun lalu sebesar Rp 284,59 miliar.

Riset UOB Kay Hian terkait sektor telekomunikasi di Indonesia juga menilai kenaikan saham Indosat sejak awal bulan ini disebabkan adanya perpindahan pengelolaan saham pemerintah ke Kementerian BUMN. Hal itu membuat pelaku pasar berspekulasi adanya kerja sama antara Indosat dengan PT Telkom Indonesia Tbk yang 52% sahamnya dimiliki pemerintah.

"Apalagi Menteri BUMN Erick Thohir secara aktif mendesak Telkom untuk proaktif bekerja sama dengan pihak lain," seperti dikutip dari riset UOB Kay Hian.

Pergerakan harga saham Indosat ini akhirnya mendapat perhatian khusus dari Bursa Efek Indonesia. Pada Senin (21/12), BEI memasukkan saham Indosat dalam kategori di luar kebiasaan alias unusual market activity (UMA).

"Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal," seperti dijelaskan dalam surat pengumuman bertandatangan Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Lidia M. Panjaitan.

Video Pilihan

Artikel Terkait