Hilirisasi nikel mendorong transisi energi dan Pekerjaan Hijau, namun sifat industri yang padat modal membuat penyerapan tenaga kerjanya masih terbatas dibanding sektor lain.
Kesepakatan tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai berpotensi lebih menguntungkan ekspor komoditas bahan mentah dibandingkan produk manufaktur bernilai tambah tinggi.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mulai mengebut pendirian 20 proyek hilirisasi lintas sektor dengan nilai investasi sekitar US$ 26 miliar atau setara Rp 404,25 triliun.
PT Garam (Persero) kini bersiap menjajaki tujuh proyek lanjutan yang akan mulai digarap pada 2026, termasuk kolaborasi besar dengan Pertamina di Balikpapan.
Ramainya proyek hilirisasi nasional yang akan digarap pemerintah tahun ini memberikan angin segar bagi sejumlah emiten di pasar modal, baik perusahaan pelat merah maupun swasta.
Badan Industri Mineral (BIM) menargetkan nilai hilirisasi dari logam tanah jarang (LTJ) mencapai US$ 7,42 miliar atau Rp 124,61 triliun pada 2030. Jumlah ini berasal dari nilai dasar LTJ
Pengelolaan Perminas pada proyek pilot ini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bisa menjadi pemain strategis di industri logam tanah jarang.
Menyehatkan ketenagalistrikan bukan agenda teknis semata. Ia adalah prasyarat bagi ketahanan energi, stabilitas ekonomi, dan keberhasilan transformasi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Jika dijalankan secara konsisten, hilirisasi tidak lagi sekadar strategi menaikkan ekspor jangka pendek, melainkan menjadi fondasi reindustrialisasi nasional.
Perjanjian dagang merupakan cermin dari pola lama: sumber daya Indonesia dieksploitasi, nilai tambah dinikmati pihak lain, dan kedaulatan dikorbankan atas nama perdagangan bebas.
Hilirisasi berada pada persimpangan besar. Di satu sisi ada peningkatan investasi, ekspor, dan lapangan kerja baru. Di sisi lain, ada tekanan lingkungan dan ketimpangan ekonomi.
Salah satu proyek hilirisasi yang akan digroundbreaking pada Januari adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG.