MIND ID dan ANTAM berkomitmen mendorong hilirisasi mineral Indonesia untuk menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Ekonomi Indonesia di bawah Presiden Prabowo mengarah pada state-led capitalism, ditandai dengan penguatan hilirisasi dan program besar seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.
Nikel Indonesia kuasai 60% produksi dunia, namun dominasi ini menghadapi tantangan pasar, tata kelola, dan ketergantungan investasi dari Tiongkok untuk hilirisasi.
Industrialisasi Hijau menjadi strategi Indonesia untuk memperkokoh ketahanan nasional, menjawab perubahan iklim melalui transisi energi dan prinsip ekonomi sirkular.
Perpaduan antara hilirisasi dan ekonomi hijau dinilai menjadi fondasi penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada eksplorasi sumber daya alam.
PT Bumi Etam Chemical (BEC) mengatakan hingga saat ini belum memiliki rencana hilirisasi batu bara lainnya, di luar proyek gasifikasi menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Investasi hilirisasi masih didominasi oleh penanaman modal asing (PMA) yang mencapai Rp 212,8 triliun atau 70,9% dari total investasi hilirisasi di Indonesia.
Potensi ekonomi akuakultur Indonesia belum dinikmati merata, masih didominasi pelaku bermodal besar seperti di sektor udang, sementara komoditas bernilai rendah lebih demokratis.
Indonesia berambisi capai pertumbuhan ekonomi 8% dengan strategi hilirisasi dan menghentikan kebocoran devisa agar nilai tambah menguat di sistem keuangan domestik.
CREA memperkirakan, jika seluruh proyek aluminium terealisasi, cadangan terbukti bauksit Indonesia yang mencapai 1 miliar ton akan habis dalam waktu kurang dari 12 tahun.
Pemerintah juga memperkuat iklim investasi melalui berbagai langkah deregulasi dan percepatan proyek strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah mengakselerasi industri nikel melalui hilirisasi dan PSN untuk transisi energi, namun ekspansinya menghadapi tantangan lingkungan dan kesenjangan ekonomi.