Indonesia, Brasil dan Kongo Kaji Pembentukan Perdagangan Karbon Dunia

Muhamad Fajar Riyandanu
29 November 2022, 20:56
RI, Brasil dan Kongo Mulai Kaji Pembentukan Perdagangan Karbon Global
123rf.com/malp
Ilustrasi perdagangan karbon

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) menyampaikan kabar positif perihal perkembangan kerja sama untuk pengelolaan hutan hujan tropis antara Indonesia, Brasil dan Republik Demokratik Kongo.

Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan, pihaknya tengah serius menjalin komunikasi bersama Republik Demokratik Kongo dan Brazil untuk mengakselerasi restorasi dan pemanfaatan lahan gambut serta hutan hujan tropis di masing-masing negara.

Siti menjelaskan, kerja sama antar negara itu bakal fokus pada pemberdayaan kawasan hutan guna meningkatkan pengaruh dalam perundingan perubahan iklim di tingkat global. Selain itu, aliansi tiga negara tersebut juga berupaya untuk mengurangi penebangan hutan secara agresif pada sejumlah kawasan hutan nasional.

"Implementasi kerja sama bisa berupa analisis bersama dan koordinasi kekuatan di dalam posisi negosiasi terkait bagaimana posisi sebagai forest power terkait penilaian tentang karbon. Ada sisi-sisi pandang yang perlu diorganisasikan bersama-sama antara Indonesia, Brazil dan Kongo," kata Siti, saat ditemui di Gedung Nusantara I DPR Jakarta pada Selasa (29/11).

Mengutip data World Resources Institute, Brazil memiliki hutan hujan tropis seluas 315,4 juta hektare (ha). Sementara, Republik Demokratik Kongo memiliki 98,8 juta ha dan Indonesia memiliki 83,8 juta ha. Melalui sumber daya yang dimiliki, tiga negara tersebut digadang-gadang bisa memberi pengaruh pada pembentukan harga karbon pada perdagangan karbon global.

Menanggapi hal tersebut, Siti mengatakan ketiga negara masih melakukan kajian dan analisis soal potensi manfaat yang bakal ditimbulkan dari pengelolaan kawasan hutan hujan tropis. "Belum sampai ke sana juga sih, kami baru bicara standar dan analisis-analisisnya. Kalau jual menjual karbon seperti apa kita belum mengembangkan," ujar Siti.

Sebelumnya diberitakan, tiga negara penguasa 52% hutan hujan tropis dunia–Indonesia, Brasil, dan Republik Demokratik Kongo–meluncurkan kemitraan baru terkait pengelolan hutan dalam perhelatan COP27 di Sharm el Sheikh. Peluncuran kemitraan yang disebut ‘Tropical Forest for Climate and People’ itu dilakukan pada hari kedua COP27 di Paviliun Indonesia bertepatan dengan agenda High Level Segment.

 

Suasana Sidang penutupan COP27
Suasana Sidang penutupan COP27 (UNFCCC)

 

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan tiga negara ini merupakan pemilik hutan tropis, termasuk gambut dan mangrove terbesar di dunia. Oleh karena itu, penting bagi ketiga negara ini untuk memperkuat aliansi strategis guna meningkatkan pengaruh dalam perundingan perubahan iklim di tingkat global.

“Kami berkomitmen menjaga dan merestorasi hutan tropis yang merupakan aset kritikal sekaligus menjamin kesejahteraan masyarakat,” kata Luhut. 

Luhut mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain kunci dalam perdagangan karbon. Ia menyebut potensi blue carbon Indonesia dari ekosistem kelautan sangat mumpuni. Indonesia misalnya memiliki 3,3 juta hektar mangrove yang merupakan 23% dari luas mangrove dunia.

Advertisement

“Mangrove dianggap paling efektif dalam menyimpan dan menyerap karbon. Mangrove sangat potensial untuk skema perdagangan karbon,” katanya.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait