Sigma Energy Tawarkan Harga IPO Rp 190—Rp 230 per Saham

Sigma Energy menargetkan dapat meraup dana segar maksimal Rp62,1 miliar dari IPO dengan melepas sebanyak 29,67% saham kepada publik.
Image title
16 Maret 2022, 17:29
Calon Emiten Baru, Sigma Energy Tawarkan Harga IPO Rp 190—Rp 230 per saham
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Pegawai melintas di dekat monitor pergerakan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/12/2021). Indeks Harga?Saham?Gabungan (IHSG) menguat 55,45 poin atau 0,85 persen di level 6.602 pada penutupan perdagangan Selasa (7/12).

PT Sigma Energy Compressindo Tbk berencana melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022 mendatang. Dalam proses penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 270 juta saham dengan rentang harga Rp 190—Rp 230 per saham.

Dengan penawaran 29,67% dari total saham perseroan, Sigma Energy menargetkan dapat meraup dana segar maksimal Rp 62,1 miliar. Adapun, masa penawaran awal atau bookbuilding sudah dimulai sejak 15 Maret 2022 hingga 18 Maret 2022.

Selanjutnya, tanggal efektif diperkirakan berlangsung pada 29 Maret 2022. Kemudian, masa penawaran pada 31 Maret- 5 April 2022, masa penjatahan pada 5 April 2022, dan perkiraan distribusi secara elektronik pada 6 April 2022.

Sigma Energy akan tercatat di papan bursa dengan kode SICO menargetkan akan tercatat di papan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 April 2022 mendatang. Adapun, yang bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek yakni PT NH Korindo Sekuritas Indonesia.

Advertisement

Bersamaan dengan IPO, perseroan juga menerbitkan waran sebanyak-banyaknya 27 juta saham atau sebanyak-banyaknya 4,22% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Waran seri I diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi pemegang saham baru yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal penjatahan.

Setiap pemegang 10 saham baru perseroan berhak memperoleh satu waran seri I, dengan setiap satu waran seri I memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu saham baru perseroan yang dikeluarkan dalam portepel. Waran seri I yang diterbitkan mempunyai jangka waktu pelaksanaan enam bulan sejak diterbitkan.

Dari dana hasil IPO, sebanyak 16% akan digunakan untuk membayar utang perseroan kepada PT Bank KEB Hana Indonesia. Kemudian, sebesar 51% akan digunakan untuk pengembangan usaha perseroan.

Sementara itu, sebesar 33% akan digunakan untuk modal kerja, dengan rincian sekitar 48,50% untuk pembelian Sparepart Kompresor, sekitar 30,30% akan digunakan untuk pembelian kendaraan operasional proyek dilapanga, dan 15,10% digunakan untuk pembelian kendaraan operasional kantor pusat.

"Lalu, sekitar 6,10% akan digunakan untuk renovasi kantor, mess dan workshop," demikian tertulis dalam prospektus yang diterbitkan perseroan, dikutip Rabu (16/3).

Sedangkan, dana yang diperoleh perseroan dari pelaksanaan Waran Seri I, jika dilaksanakan oleh pemegang waran, maka akan digunakan juga untuk modal kerja.

Berdasarkan laporan keuangan, aset Sigma Energy per September 2021 lalu tercatat tumbuh 2,37% menjadi Rp 70,7 miliar dari posisi Desember 2020 senilai Rp 69,1 miliar.  Sementara itu, total ekuitas tumbuh sebesar 22,69% dari posisi Rp 33,26 miliar menjadi Rp 40,81 miliar.

Liabilitas perseroan juga tercatat turun 16,48% dari sebelumnya Rp 35,83 miliar menjadi Rp 29,92 miliar. Di sisi lain, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 55,02 miliar atau naik 3,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 53,04 miliar. Sementara, laba bersih tercatat tumbuh 8,91% menjadi Rp 6,84 miliar.

Perseroan bergerak dalam bidang usaha jasa penyewaan alat-alat untuk monetisasi minyak dan gas suar bakar dengan menggunakan teknologi kompresi untuk penurunan emisi gas rumah kaca.

BEI mencatat, sampai saat ini terdapat 23 perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham. Rinciannya, berdasarkan sektor, perusahaan yang akan IPO tersebut terdiri dari 1 perusahaan berasal dari sektor barang baku, 2 perusahaan di sektor perindustrian, 1 perusahaan di sektor transportasi dan logistik, 2 perusahaan di sektor barang konsumer primer,  6 perusahaan dari sektor barang konsumen non-primer.

Kemudian, sebanyak 2 perusahaan berasal dari sektor teknologi, 2 perusahaan di sektor kesehatan, 3 perusahaan di sektor energi, 3 perusahaan di sektor properti dan real estat, dan 1 perusahaan di sektor infrastruktur.

 

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait