Dilema PB Djarum Mencari Bibit Atlet Bulu Tangkis

Penulis: Safrezi Fitra

11/9/2019, 07.49 WIB

Audisi pencarian bibit atlet bulu tangkis yang dilakukan PB Djarum dianggap melanggar aturan dan mengeksploitasi anak.

Telaah - Bulu Tangkis
Sirirat Dechmon/123rf

Bakti Olahraga Djarum Foundation memutuskan menghentikan Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis yang digelar PB Djarum mulai 2020. Keputusan ini menyusul tudingan Komisi Perlindungan Anak (KPAI) terkait adanya eksploitasi terhadap anak-anak dalam program pencarian bakat muda bulu tangkis tersebut.

“Tahun 2020 kami memutuskan untuk menghentikan audisi umum. Memang ini disayangkan banyak pihak. Tetapi demi kebaikan bersama kami hentikan dulu, biar reda dulu dan masing-masing pihak agar bisa berpikir dengan baik," kata Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin dalam laman resmi PB Djarum, akhir pekan lalu.

Keputusan ini pun menjadi sorotan dalam peringatan Hari Olahraga Nasional ke-36 yang digelar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (9/9). Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi berharap agar program tersebut tetap berjalan. "Hari ini berita yang berkembang audisi PB Djarum akan berhenti. Jangan pernah memimpikan audisi ini berhenti. Lakukan terus. Ini demi anak-anak kita," ujarnya.

(Baca: PB Djarum, Dari Pencetak Juara Dunia hingga Tuduhan Eksploitasi Anak)

Imam menilai tak ada eksploitasi terhadap anak-anak dalam kegiatan yang dilakukan PB Djarum. Menurutnya, audisi tersebut merupakan salah satu langkah untuk melahirkan atlet-atlet potensial. Banyak dari mereka yang sudah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Gelar-gelar dunia seperti All England, Thomas dan Uber Cup, Sudirman Cup, sampai Kejuaraan Dunia, sukses direngkuh atlet-atlet PB Djarum.

 

Sederet Kejuaraan yang Dimenangkan Atlet Jebolan PB Djarum

 

Salah satu contoh hasil audisi PB Djarum yang prestasinya pantas dibanggakan adalah Kevin Sanjaya. Saat ini dia menempati peringkat satu dunia untuk nomor ganda putra bersama rekannya Marcus Gideon. Predikat ini disematkan oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (WBF). Kevin merupakan hasil audisi PB Djarum 2007.

Atlet bulu tangkis ganda putra peringkat dua dunia Mohammad Ahsan juga menyayangkan keputusan PB Djarum. Menurutnya PB Djarum merupakan satu-satunya klub yang bersedia menjemput anak-anak berbakat hingga ke sejumlah daerah. Bahkan, dia pun merupakan salah satu atlet dari hasil audisi PB Djarum.

Ahsan yang baru saja memenangkan kejuaraan dunia badminton 2019 bersamaHendra Setiawan mengatakan niat klub mereka (PB Djarum) hanya ingin membantu pembibitan atlet nasional. "Kalau enggak ada lagi audisi, mungkin bakat-bakat di daerah tidak tahu mau ke mana. Bisa jadi tak tersaring atau tidak terpantau," ujarnya.

(Baca: Film Susi Susanti, Bangunkan Memori Emas Pertama RI di Olimpiade)

Sementara Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menilai kegiatan audisi yang dilakukan PB Djarum selama ini sangat membantu pencarian bibit atlet baru. Selama ini audisi PB Djarum telah memberi kesempatan kepada atlet-atlet muda daerah mewujudkan mimpi mereka. Apalagi, tidak semua orangtua calon atlet yang mampu membawa anaknya ke pusat pembinaan bulu tangkis yang kebanyakan di Jawa.

"Ini salah satu yang saya khawatirkan. Kita tidak bisa lagi mendapatkan pemain model Liliyana Natsir dari Manado, Rusana dari Sumatra, tidak dapat lagi atlet dari Aceh," kata Sekjen PBSI Achmad Budiharto. Dia menyesalkan aktivitas positif PB Djarum malah dianggap mengeksploitasi anak-anak.

Audisi Beasiswa PB DJarum Melanggar Aturan

Program audisi pencarian bibit pemain bulu tangkis oleh PB Djarum sudah rutin dilakukan setiap tahun sejak 2006. Namun, KPAI baru mempermasalahkan hal ini tahun lalu. Yoppy menceritakan pihaknya sudah sering bertemu dengan KPAI sejak tahun lalu. Setelah final audisi umum bulu tangkis 2018 di Kudus, KPAI memanggil Djarum Foundation.

"Kami dianggapnya mengeksploitasi anak," ujarnya kepada awak media di kantornya, GOR Djarum, Jawa Tengah, Senin (9/9). Pemasangan logo Djarum Badminton Club di kaos yang dipakai peserta audisi, dianggap mengeksploitasi anak. KPAI menilai logo tersebut identik dengan produk rokok.

Tudingan KPAI berlandaskan Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak. Pasal 13 menyebutkan setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari perlakuan eksploitas, baik ekonomi maupun seksual. Eksploitasi ekonomi yang dimaksud adalah memperalat atau memanfaatkan anak-anak untuk memperoleh keuntungan.

(Baca juga: Antara Juara Olahraga dengan Jago di Bisnis)

Selain itu, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan melarang kegiatan lembaga menggunakan logo atau merek produk tembakau. Larangan ini juga termasuk sponsor kegiatan dalam bentuk promosi atau pun tanggung jawab sosial perusahaan.

Namun, Djarum Foundation berpendapat itu adalah logo klub olah raga.  "KPAI selalu mempermasalahkan produk rokok, padahal Djarum Foundation itu bukan produk rokok," kata Yoppy seperti dikutip Kompas.com, Senin (9/9). Bahkan, menurutnya Federasi Bulu Tangkis Internasional (BWF), pun tak pernah mempermasalahkan keberadaan mereka. Papan iklan Djarum Foundation  tetap muncul di arena pertandingan Indonesia Open, walau brand Djarum tak lagi menjadi sponsor utama sejak 2014.

Terkait tudingan KPAI, Djarum Foundation pun sudah mengganti nama event mereka menjadi Audisi Umum, dengan tidak menyertakan embel-embel Djarum. Kaos berlogo Djarum juga tidak lagi diberikan kepada peserta audisi. Namun, PB Djarum tidak bisa menjamin mereka membeli kaos berlogo klub Djarum Badminton yang dijual di tempat lain, seperti toko online. Menurut Yoppy, para peserta sebagian besar mengaku bangga mengenakan kaos bergambar logo klub.

Masalahnya, kata Yoppy, KPAI terus menolak dan meminta tidak ada brand Djarum dalam bentuk apapun dalam event ini. Makanya, permasalahan ini sampai dibahas bersama Menteri Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, yang merupakan Ketua Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI). Namun, masalah ini belum bisa selesai, karena KPAI beralasan berpijak pada undang-undang. KPAI pun menyatakan tidak ada toleransi mengenai hal ini.

(Baca: Menpora Dorong Cabor Sepatu Roda Genjot Prestasi)

KPAI juga melakukan rapat dengan sejumlah kementerian, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Tujuannya, mendesak penghentian penggunaan logo produk rokok dalam audisi PB Djarum.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise pun mendukung KPAI dengan mengatakan audisi beasiswa bulu tangkis yang dilakukan industri rokok telah melanggar aturan. Dia mengacu UU Pelindungan Anak dan UU Kesehatan. "Sponsorship, termasuk di bidang olahraga, harus tunduk pada undang-undang. Undang-undang adalah hukum positif yang dibuat secara nasional," ujarnya seperti dikutip Antara.

Pada pertengahan Agustus KPAI berkoordinasi dengan pemerintah kota dan kabupaten tempat pelaksanaan audisi PB Djarum untuk mengkaji ulang pemberian izin aktivitas tersebut. Sebenarnya, KPAI tak melarang kegiatan seleksi Djarum Beasiswa Bulutangkis, asalkan tidak ada penyebutan atau pemasangan logo dan merek rokok.

(Baca: Kominfo Blokir Ratusan Konten Promosi Rokok di Media Sosial)

Akhirnya PB Djarum meminta izin audisi umum tetap digelar di tahun ini. Karena tak ingin dianggap melanggar aturan, PB Djarum memutuskan tidak akan menggelar kegiatan serupa tahun depan. Keputusan menghentikan audisi umum sifatnya sementara. "Sampai ada ruang gerak untuk Djarum. Kalau diberikan ruang gerak, kami lanjut. Kalau tidak, audisi umum berhenti," ujarnya.

Dia menegaskan PB Djarum hanya menghentikan kegiatan audisi umum. Adapun untuk pembinaan atlet akan tetap terus dilakukan. Saat ini ada sekitar 180 atlet bulu tangkis yang tengah dibina PB Djarum.

Agar polemik ini tidak berlarut, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir menyatakan akan mencari jalan tengah. Di satu sisi, KPAI ingin memberikan perlindungan kepada anak. Namun di sisi lain, olahraga Indonesia saat ini masih sangat bergantung dari peran dunia usaha dalam upaya membantu pembibitan atlet maupun prestasi.

“KPAI dan PB Djarum dua lembaga yang sama-sama dibutuhkan untuk bangsa Indonesia. Oleh sebab itu saya ingin kedua pihak duduk bersama sehingga mendapatkan solusi terbaik untuk bangsa kita khususnya dunia olahraga." ujarnya, Minggu (8/9). Apalagi, cabang olahraga bulu tangkis menjadi satu-satunya yang mampu menyumbang medali emas bagi Indonesia di kancah Olimpiade.

(Baca juga: Bali United Klub Bola Pertama yang Melantai di Bursa Efek Indonesia)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha