Catatan dari Xinjiang (3): Di antara Turisme dan Terorisme

Penulis: Metta Dharmasaputra

Editor: Redaksi

11/12/2019, 09.39 WIB

Dunia terbelah memandang persoalan Muslim Uighur. Meski kontroversi terus berlanjut, Xinjiang menjadi destinasi wisata favorit di ujung barat Tiongkok.

Xinjiang Islamic Institute
Katadata/Metta Dharmasaputra
Suasana di Xinjiang Islamic Institute, Xinjiang, Tiongkok.

Jumat, 15 November 2019

Selarik ayat suci Al Quran melantun indah. Seorang siswa berpeci khas Uighur membawakannya dengan khusyuk di sebuah kelas di Xinjiang Islamic Institute. Di tempat inilah, mereka dididik untuk menjadi imam dan khatib untuk mengajarkan agama Islam di seluruh Tiongkok.

Siang itu, saya dan sejumlah pemimpin media massa lainnya bersama Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk. Garibaldi Thohir berkunjung ke sana. Turut hadir Ustaz Omar Othman Shihab, da'i dan tokoh agama dari Indonesia lulusan Universitas Al Azhar Mesir.

Rektor Xinjiang Islamic Institute, Abdurekep Tumniyaz, dengan ramah menerima kedatangan kami. Sederet cangkir teh tradisional hangat ikut menyambut, membasahi kerongkongan yang dingin di luar sana.

"Fahri Hamzah pernah berkunjung ke sini," kata lelaki bertubuh besar dan berjenggot ini menyebut nama mantan Wakil Ketua DPR RI itu.

Xinjiang Islamic Institute
Abdurekep Tumniyaz, Rektor Xinjiang Islamic Institute. (Katadata/Metta Dharmasaputra)

 

Di hadapan para mahasiswa, Tumniyaz yang juga Wakil Ketua Asosiasi Islam Tiongkok, lantas menjelaskan tentang Institut yang dipimpinnya. Terletak di Urumqi, ibu kota Provinsi Xinjiang, kampus baru ini menempati lahan seluas 10 hektare atau 6,3 kali kampus lama yang dibangun sejak 32 tahun silam.

Total bangunannya mencapai 50 ribu meter persegi atau lima kali lebih besar dari kampus lama. Rupa-rupa fasilitas di dalamnya: asrama, ruang olahraga, kantin, kantor, dan masjid. Dibangun sejak 2014, areal ini baru selesai tiga tahun kemudian.

Sebanyak 1.100 mahasiswa kini menimba ilmu di sana—6,7 kali lebih banyak dari kampus lama. Mereka terbagi dalam dua program, yakni program sarjana (lima dan tiga tahun masa studi) dan vokasi (dua tahun). “Mahasiswa di sini rekrutan tahun 2015,” kata Tumniyaz. “Juni tahun depan lulus.”

Yang menarik, untuk jenjang S1 dengan masa studi tiga tahun, mahasiswanya rata-rata berumur 40-50 tahun. "Mereka dulunya pengajar agama atau imam dan sudah punya pengalaman,” Tumniyaz menambahkan, “Karena itu, tiga tahun saja kuliahnya.”

Mata kuliah yang diajarkan beragam, mulai dari soal kontitusi negara, hukum agama, hingga sejarah dan kebudayaan Tiongkok. Pengajaran dilakukan dengan menggunakan tiga bahasa, yakni Mandarin, Uighur, dan Arab.

Areal kampus ini boleh dibilang cukup mentereng. Pembangunannya menelan biaya 279 juta yuan (sekitar Rp 560 miliar). Berasal dari pemerintah pusat 250 juta yuan, sisanya dari pemerintah lokal. Sebanyak 60% murid juga mendapat beasiswa Rp 8-16 juta per tahun.

Xinjiang Islamic Institute
Para mahasiswa makan siang di kantin Xinjiang Islamic Institute. (Katadata/Metta Dharmasaputra)

 

Tanpa terasa, waktu untuk salat Jumat hampir tiba. Pertemuan segera diakhiri, dan semua bergegas menuju kantin. Setelah melewati halaman yang jembar, kami tiba di sebuah ruangan yang luas dan resik. Ratusan siswa sudah asyik bersantap siang di sana, sambil beberapa di antaranya menyimak pidato Presiden Xi Jinping di layar televisi.

Tak lama kemudian, ruangan pun kembali sepi. Para siswa menuju masjid untuk menunaikan ibadah salat Jumat pada sekitar pukul 15.00 waktu Urumqi, dipimpin oleh Tumniyaz selaku imam dan khatib.

(Baca: Catatan dari Xinjiang (1): Kembalinya Kejayaan di Jalur Sutra)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha