Pemerintah Akan Buka 86 Ribu Hektare Lahan Baru Jagung di 4 Provinsi

Presiden Joko Widodo memerintahkan Kementerian Pertanian menanam jagung seluas total 141.000 hektar di wilayah Papua Barat, NTT, Maluku Utara dan Kalimantan Utara.
Tia Dwitiani Komalasari
1 Agustus 2022, 17:53
Penjabat Gubernur Gorontalo, Hamka Hendra Noer (kiri) naik kendaraan Combine Corn Harvester saat melakukan panen jagung di Desa Ombulo, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (13/6/2022). Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan produksi jagung yang menja
ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/tom.
Penjabat Gubernur Gorontalo, Hamka Hendra Noer (kiri) naik kendaraan Combine Corn Harvester saat melakukan panen jagung di Desa Ombulo, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Senin (13/6/2022). Pemerintah Provinsi Gorontalo menargetkan produksi jagung yang menjadi komoditas unggulan daerah pada tahun 2022 ini mencapai 1,4 juta ton.

Kementerian Pertanian akan melaksanakan perintah Joko Widodo (Jokowi) untuk menanam jagung seluas 141.000 hektar di wilayah Papua Barat, NTT, Maluku Utara dan Kalimantan Utara. Dari luas lahan tersebut, sebanyak 86.000 diantaranya merupakan lahan baru.

"Hari ini kami dapat kepastian dari Bapak Presiden untuk melakukan upaya-upaya peningkatan produksi dari hulu, pasca panen sampai dengan offteker atau marketnya," ujar Mentan seusai rapat terbatas dengan Presiden Jokowi dan Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (1/8).

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, semua lahan intensifikasi maupun lahan ekstensifikasi akan dilakukan pengolahan secara maksimal. Kementan akan menyiapkan berbagai perlengkapan seperti mesin dryer, alat tanam maupun alat panen.

"Sehingga toksin dan lain-lain bisa dikurangi sampai kadar air yang tadinya di atas 20 bisa jadi 14. Dengan begitu produksi kita sangat layak untuk di market atau di industrikan," katanya.

Advertisement

Sejauh ini, kata Syahrul, produksi jagung nasional menunjukan perkembangan yang cukup bagus. Bahkan di tiga tahun terakhir ini Indonesia mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Jadi bukan hanya beras yang sudah sukses tidak impor, melainkan jagung juga sudah tidak impor.

"Saya ingin sampaikan bahwa bukan hanya beras sebenarnya kita sudah tidak impor tetapi juga jagung. Kecuali yang berkaitan dengan kebutuhan industri termasuk pemanis dan lain-lain," katanya.

Syahrul menambahkan, kebutuhan jagung sejauh ini mencapai 14,7 juta pertahun. Angka tersebut cukup baik karena produksi yang ada mencapai 18 juta, sehingga Indonesia masih memiliki surplus sekitar 3 juta.

"Saya pastikan dalam 100 hari ke depan, kalau kita mau kerja keras termasuk untuk mempersiapkan kelompok-kelompok tani dan lahan-lahan intensifikasi maupun ekstensifikasi kita akan berhasil. Saya berharap Konsep ini Insya Allah dalam satu dua minggu akan kami siapkan," katanya.

Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa saat ini harga jagung di pasar global mencapai US$335 per ton atau setara dengan Rp 5000 perkilo. Karena itu, Airlangga berharap produksi jagung dapat ditingkatkan dengan penggunaan bibit unggul seperti varietas pertiwi 3, F1, PC, NK perkasa, singa, bima, dahsyat dan varietas P36.

"Artinya berbasis hibrida nasional. Yang pasti Bapak Presiden memberi perhatian pada penggunaan alaintan baik dryer mapun alat lainya," ujarnya.

Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) yang dipublikasikan Kementerian Pertanian (Kementan), rata-rata produksi jagung Indonesia pada 2014-2018 sebesar 24,27 juta ton. Capaian produksi jagung Indonesia tersebut berkontribusi sebesar 2,19% terhadap produksi jagung dunia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait