Bahan Baku Mie, Gandum Lebih Banyak Dikonsumsi Orang RI Daripada Beras

Indonesia merupakan negara kedua yang mengimpor gandum terbesar dunia.
Andi M. Arief
11 Agustus 2022, 19:32
Mohamed Abd El Ghany Seorang pekerja mengumpulkan gandum di gudang gandum Benha di Al Qalyubia, Mesir, Kamis (19/5/2022).
ANTARA FOTO/REUTERS/Mohamed Abd El Ghany/aww/cf
Mohamed Abd El Ghany Seorang pekerja mengumpulkan gandum di gudang gandum Benha di Al Qalyubia, Mesir, Kamis (19/5/2022).

Kementerian Pertanian atau Kementan menyatakan pelaku industri pangan harus waspada akan potensi krisis pangan global. Potensi krisis terbesar datang dari kekurangan pasokan gandum dari negara pemasok.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, mengatakan Indonesia bergantung kepada Rusia dan Ukraina untuk pasokan gandum. Sedangkan kedua negara tersebut kini sedang terlibat konflik geopolitik.

“Perang Rusia - Ukraina juga sangat mempengaruhi pasokan gandum untuk kebutuhan global. Menurut laporan FAO, sekitar 50 negara menggantungkan sekitar 30% impor gandumnya dari Rusia dan Ukraina,” kata Kuntoro dalam keterangan resmi, Kamis (11/8).

Badan Pusat Statistik (BPS) mendata konsumsi gandum penduduk Indonesia per kapita pada 2019 mencapai 30,5 kilogram (kg) per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dari konsumsi per kapita beras pada tahun yang sama, yakni 27 kg per tahun.

Sebagian besar gandum di dalam negeri berasal dari Rusia dan Ukraina. Pada 2021, nilai impor gandum dari Rusia dan Ukraina mencapai sekitar US$ 936,88 juta. Sementara total nilai impor gandum pada 2020 adalah senilai US$ 2,6 miliar atau 5,4% dari total nilai impor gandum dunia saat itu.

Gandum yang diimpor akan diolah menjadi tepung sebelum pada akhirnya menjadi mie instan, kue, dan roti. Selain Rusia dan Ukraina, beberapa negara produsen gandum dunia adalah India, Serbia, Mesir, Afghanistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Kosovo.

Namun demikian, Food Policy Research Institute (IFPRI) menyatakan Rusia, India, Serbia, Mesir, Afghanistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Kosovo telah membatasi ekspor gandum sejak Juni 2022 dengan cara pelarangan maupun penaikkan pajak ekspor.

Kuntoro mengatakan potensi peningkatan bahan baku lebih dari 100% perlu diwaspadai. Kuntoro berharap semua pelaku industri pangan terus berkomitmen untuk menjaga harga jual produk ke masyarakat.

Subtitusi ke Sorgum

Jika harga gandum melonjak, Kuntoro mengusulkan agar industri pengguna gandum beralih menggunakan sorgum sebagai substitusi gandum. Selain itu, Kuntoro menilai singkong dan umbi-umbian juga menjadi alternatif.

“Gandum dapat disubstitusi sorgum yang sangat cocok dikembangkan disini. Pangan lokal dapat menyelamatkan kita dari krisis pangan. Sorgum salah satunya,” kata Kuntoro.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menggulirkan isu adanya potensi kenaikan harga mi instan hingga tiga kali lipat dari harga saat ini. Penyebabnya, perang Rusia dan Ukraina menyebabkan komoditas gandum sebagai bahan baku utama mi instan sulit didapat, dan mempengaruhi industri makanan di Indonesia.

Menanggapi hal itu, Komisaris Utama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Franciscus Welirang menilai, isu kenaikan harga mi instan hingga tiga kali lipat merupakan hal yang berlebihan.  

"Kalau dikatakan bisa naik tiga kali lipat, akal sehat juga mengatakan tidak akan mungkin. Tiga kali itu berlebihan lah," kata pria yang akrab disapa Franky ini kepada Katadata.co.id, Rabu (10/8).

Di Indonesia, terdapat lebih dari 30 merek mi instan. Menurut dia, persaingan yang ketat tersebut seharusnya menahan peningkatan harga mi instan. Tak hanya itu, di Indonesia, komoditas tepung terigu digunakan oleh 28 jenis industri. Jikapun terjadi kenaikan, tak hanya akan berdampak pada mi instan, tetapi juga pada industri pengguna tepung terigu lain.  

Pada dasarnya, sambung dia, harga gandum sudah melonjak 68% pada 2021 karena faktor perubahan iklim gagal panen di Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Perang Rusia dan Ukraina hanya menjadi faktor tambahan saja.  

Berdasarkan data impor sejak 2004 sampai 2022, Indonesia sudah mengimpor gandum dari 30 negara. Hal ini menyebabkan pelaku industri memiliki pengalaman dalam hal manajemen risiko pasokan atau supply risk management.

"Pelaku industri tidak menggantungkan diri hanya pada satu negara. Bisa dengan mudah berubah sasaran importir," katanya.

Advertisement

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) impor gandum dan meslin Indonesia mencapai 4,36 juta ton dengan nilai US$1,65 miliar sepanjang Januari-Mei 2022. Impor gandum Indonesia terbesar berasal dari Australia, yakni mencapai 1,57 juta ton dengan nilai US$585,6 juta dalam 5 bulan pertama tahun ini. Volume impor gandum Indonesia dari Negeri Kanguru tersebut mencapai 36% dari total impor.

Reporter: Andi M. Arief
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait