Kemenkeu Bandingkan Utang Indonesia dan Argentina, Siapa Juaranya?

Abdul Azis Said
19 Desember 2022, 22:25
Agustin Marcarian Seorang pengunjuk rasa membawa papan dengan tulisan "Pemerintahan terburuk" saat memprotes pemerintah mengenai skandal vaksin "VIP", ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di depan Istana Kepresidenan Casa Rosada, di
ANTARA FOTO/REUTERS/Agustin Marcarian/HP/dj
Agustin Marcarian Seorang pengunjuk rasa membawa papan dengan tulisan "Pemerintahan terburuk" saat memprotes pemerintah mengenai skandal vaksin "VIP", ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di depan Istana Kepresidenan Casa Rosada, di Buenos Aires, Argentina, Sabtu (27/2/2021).

 Argentina keluar sebagai juara Piala Dunia Qatar 2022  setelah menumbangkan Perancis yang digelar Minggu (18/12). Menariknya, kemenangan itu diraih di tengah carut-marut perekonomian Argentina, termasuk utang negara yang bengkak hingga harus menjadi langganan 'pasien' Dana Moneter Internasional (IMF).

Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko atau DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan ikut berkomentar perilah ironi kemenangan Argentina di tengah pembengkakan utang yang dialami negara tersebut. Untuk diketahui, DJPPR, kantor Deni, merupakan bagian khusus di Kementerian Keuangan yang mengurusi soal utang negara.

"Selamat kepada Argentina yang memenangkan piala dunia melalui penalti dan Argentina bukan hanya jago mencetak gol, tapi juga mencetak utang," ujar Deni sembari bercanda dalam unggahan di akun instagram pribadinya @kangd3ni dikutip Senin (19/12).

Deni kemudian membandingkan level utang Indonesia dengan Argentina. Mengutip data IMF, rasio utang pemerintah pusat Argentina pada tahun lalu mencapai 80,9% dari PDB. Rasio tersebut dua kali dibandingkan Indonesia 40,7% dari PDB.

Meski demikian, pengelolaan utang negara Lionel Messi itu sudah semakin baik setelah sempat menyentuh 102,8% terhadap PDB pada tahun 2020. Utang Argentina pada 2020 jauh lebih besar dari ukuran ekonominya sendiri. Hal ini tidak mengejutkan mengingat saat tahun pertama pandemi memang banyak negara menumpuk utang untuk menangani pandemi Covid-19.

Utang Argentina sebetulnya sudah menanjak sejak 2012. Namun, lonjakan utang signifikan mulai terjadi pada 2018, saat itu rasio utangnya naik hampir 30 poin persentase terhadap PDB hanya dalam setahun. Pada saatyang sama, Argentina mulai menerima dana bailout dari IMF senilai US$ 50 miliar untuk menyelamatkan perekonomian.

Namun, rasio utang yang mencapai 102,8% pada 2020 bukanlah yang paling parah. Negara di Amerika Latin itu pernah mencapai rasio utang 147,2% PDB pada 2002. Bahkan dalam tiga tahun beruntun sejak 2002-2004, rasio utang di Argentina konsisten di atas 100% PDB sekalipun memang mulai terus turun.

Bagaimana dengan Indonesia?

Deni mengklaim pengelolaan utang Indonesia lebih baik dibandingkan Argentina sekalipun sepak bola tanah air berada jauh di bawah level negara Amerika Selatan tersebut.

"Argentina sudah beberapa kali mengalami default atau gagal bayar. Jadi sebetulnya dalam hal pengelolaan utang, Indonesia lebih baik dibandingkan dengan Argentina karena kita tidak pernah default," kata Deni.

Rasio utang pemerintah pusat Indonesia sebesar 40,7% dari PDB pada tahun lalu. Meski demikian, ada kesamaan dengan Argentina, terutama rasio utang yang trennya terus naik dalam beberapa tahun terakhir, meskipun tidak seagresif yang dialami Argentina. Selain itu, rasio utang Indonesia melonjak signifikan saat tahun pertama pandemi.

Utang luar negeri Indonesia pun tercatat yang terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara, seperti tercantum dalam grafik.

Argentina berhasil menjadi juara piala dunia 2022 setelah mengalahkan Perancis lewat drama adu penalti pada pertandingan Minggu (18/12). Lionel Messi dan timnya berhasil mengulang sejarah 1978 dan 1986, membawa sukacita bagi warga Argentina yang sedang menghadapi krisis perekonomian.

Reporter: Abdul Azis Said
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait