Produsen Kesulitan Genjot Produksi Batu Bara di Tengah Kenaikan Harga

Perusahaan tambang batu bara mengalami beberapa kendala dalam menggenjot produksi.
Image title
29 September 2021, 17:59
batu bara, cina, krisis listrik, harga
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/hp.
Foto udara tempat penumpukan sementara batu bara di Muarojambi, Jambi, Selasa (21/4/2020).

Harga batu bara berpotensi terus mengalami kenaikan seiring permintaan yang meningkat. Permintaan batu bara dari Cina meningkat seiring krisis listrik dan kebutuhan di musim dingin.

Namun, perusahaan tambang dalam negeri mengalami beberapa kendala dalam menggenjot kapasitas produksi. Kendala tersebut di antaranya tingginya curah hujan di wilayah operasi tambang.

"Di dalam negeri cuaca menjadi tantangan utama bagi operasional. Curah hujan cukup tinggi di beberapa daerah di Kalsel dan Kaltim," ujar General Manager Legal & External Affairs PT Arutmin Indonesia Ezra Sibarani kepada Katadata.co.id, Rabu (29/9).

Meski demikian, Ezra mengatakan Arutmin Indonesia akan mengoptimalkan operasional tambang di lapangan. Terutama dalam memenuhi pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PT PLN. "DMO sudah kami lampaui. Selain itu kami akan tetap penuhi komitmen secara kontraktual kepada pelanggan luar negeri," ujarnya.

Adapun Head Of Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira menyatakan optimis prospek bisnis batu bata di semester II akan cerah. Adaro Energy akan memaksimalkan upaya untuk terus fokus terhadap keunggulan operasional bisnis inti.

"Adaro akan terus mengikuti perkembangan pasar dengan tetap menjalankan kegiatan operasi sesuai rencana di tambang-tambang milik perusahaan dengan terus berfokus untuk mempertahankan margin yang sehat dan kontinuitas pasokan ke pelanggan," katanya.

Harga batu bara terus mengalami kenaikan hingga menembus level US$ 200 per ton. Pada perdagangan Selasa, 28 September 2021, harga batu bara di ICE Newcastle (Australia) telah mencapai US$ 207,70 per ton.

Cina menghadapi krisis energi seiring konsumsi listrik yang terus meningkat sedangkan harga batu bara dan gas terus melonjak. Analis Morgan Stanley mengatakan 60-70% pembangkit listrik tenaga batu bara melaporkan kerugian karena harga yang tinggi. Selain itu, penambang tidak memenuhi kontrak pasokan jangka panjang.


 
Bloomberg menyebutkan krisis listrik ini membuat 20 dari 34 provinsi di wilayah Cina mengumumkan pemadaman listrik terutama bagi industri berat. Ke-20 provinsi tersebut menyumbang 66% terhadap produk domestik bruto (PDB) Cina.

Pembatasan penggunaan listrik termasuk di kawasan industri utama seperti Jiangsu, Zhejiang dan Guangdong. Tiga provinsi ini dikenal sebagao kekuatan industri yang menyumbang hampir sepertiga dari ekonomi Cina.

Cina meminta berbagai industri manufaktur dalam negeri, mulai dari peleburan aluminium, produsen tekstil hingga pabrik pengolahan kedelai, untuk mengurangi aktivitasnya atau menutup sama sekali.

Pemasok perusahaan besar seperti Apple dan Tesla pun terpaksa menutup sementara pabriknya karena kota tempat mereka beroperasi, yakni Shenyang dan Dalian menerapkan penjatahan listrik.

Economic Information Daily melaporkan, provinsi Guangdong yang merupakan pusat industri selatan dengan ekonomi lebih besar dari Australia telah membatasi penggunaan listrik sebanyak 15 gigawatt. Permintaan di provinsi ini melonjak hingga mencapai 141 gigawatt, naik 11% dari tahun lalu.

Selain meminta pabrik-pabrik menghentikan produksi, penduduk di Guandong juga diminta mengurangi penggunaan listrik dengan diminta mengandalkan cahaya alami, dan membatasi penggunaan AC.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait