Alasan Jokowi Pilih Garuda dalam Kunjungan ke Italia, Inggris dan UEA

Rombongan Presiden Jokowi dan para menteri memilih maskapai Garuda Indonesia di antaranya dengan mempertimbangkan faktor kesehatan.
Image title
29 Oktober 2021, 11:56
Jokowi, Garuda Indonesia
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Pesawat Garuda di Hangar GMF,  Tanggerang,  Banten (2/3).

Presiden Joko Widodo mengunjungi tiga negara pada 29 Oktober-5 November 2021. Tidak seperti biasanya, Jokowi menggunakan maskapai Garuda Indonesia, bukan pesawat kepresidenan.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan, Jokowi memilih pesawat maskapai nasional tersebut karena alasan efisiensi waktu dan penghematan anggaran.

“Dengan menggunakan pesawat berbadan lebar ini, perjalanan menuju Roma selama 13 jam ini bisa dilakukan langsung tanpa perlu transit. Bila kita menggunakan Pesawat Kepresidenan BBJ, kita harus transit," kata Heru dalam keterangan yang diterima Katadata.co.id, Jumat (29/10).

Selain itu, pemilihan maskapai Garuda dengan mempertimbangkan faktor kesehatan. Sebab, kunjungan kerja tersebut dilakukan di tengah pandemi sehingga Kepala Negara harus berhati-hati pada pertemuan tatap muka saat transit.

Apabila Presiden dan rombongan harus transit, persiapan pelaksanaan protokol kesehatan harus dijalankan dengan baik. Beberapa protokol kesehatan itu seperti sterilisasi ruang tunggu, tes PCR untuk pramusaji di tempat transit, serta makanan dan minuman yang disajikan harus dipastikan dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, Istana juga mempertimbangkan efisiensi anggaran. Sebab, semua menteri yang hadir dalam kunjungan tersebut, turut serta pada rombongan presiden dalam pesawat Garuda.

Penggunaan anggaran jauh lebih hemat dengan turut sertanya para menteri dalam rombongan presiden, dibandingkan para menteri menggunakan pesawat komersial. Total ada enam menteri yang ikut dalam pesawat rombongan Jokowi, yaitu Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno L. P. Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawai, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Namun, tidak semua menteri bergabung dengan rombongan Jokowi dari Jakarta. Sebab, ada sejumlah menteri yang harus tiba terlebih dahulu di negara tujuan.

Sri Mulyani dan Retno Marsudi harus berangkat terlebih dahulu ke Roma karena ada pertemuan tingkat menteri. Mereka juga mempersiapkan kedatangan Presiden.

Setelah itu, para menteri akan terus mengikuti rombongan Jokowi saat perjalanan dari Roma ke Glasgow.

Penghematan anggaran lainnya ialah, semua pegawai yang tergabung dalam tim pendahulu ke Abu Dhabi dan Dubai akan bergabung dengan pesawat Garuda saat pulang ke Tanah Air.

“Jadi mereka tidak membeli tiket pesawat komersial untuk kembali ke Tanah Air,” ujar Heru.

Pesawat yang akan digunakan oleh Presiden dan rombongan ialah tipe Boeing 777-300ER. Selama digunanakan Jokowi, pesawat ini akan diberi lambang dan tulisan Republik Indonesia di badan pesawat karena secara protokoler, pesawat itu akan menjadi Pesawat Kepresidenan RI.

Jokowi akan memulai kunjungan kerja pada hari ini dengan lokasi pertama yang akan dihadiri Kepala Negara ialah Roma, Italia pada 30-31 Oktober.

Jokowi akan berpartisipasi pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Pada akhir KTT G20, Presiden akan menerima Keketuaan Presidensi G20 dari Italia. Dengan begitu per 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022, Indonesia akan memegang Keketuaan Presidensi G20.

Selanjutnya, Jokowi akan melanjutkan perjalanan ke Glasgow, Skotlandia untuk menghadiri KTT perubahan iklim Climate Change Conference (COP26) pada 1-2 November.

Dari Glasgow, Jokowi akan mengunjungi Persaturan Emirat Arab pada 3-4 November. Kunjungan tersebut akan menjadi yang pertama selama masa pandemi.

Rencananya akan ada kerja sama investasi senilai US$ 10 miliar atu Rp 142 triliun antara perusahaan Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA).

Duta Besar RI Untuk Persatuan Emirat Arab Husin Bagis mengatakan setidaknya memorandum of understanding (MoU) kerja sama investasi sudah diamankan perwakilan RI di UEA. "Angkanya bisa berubah US$ 7 miliar-12 miliar (Rp 99,4 triliun-Rp 170,4 triliun) sampai Pak Jokowi datang, ini masih terus berproses," kata Husin, kepada Katadata, akhir pekan lalu.

 

Reporter: Rizky Alika
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait