Facebook Tak Akan Rilis Libra Sampai Penuhi Aturan Otoritas AS

Lembaga otoritas AS ragu akan keamanan dan khawatir dengan risiko terjadinya kejahatan pencucian uang lewat transaksi menggunakan Libra.
Cindy Mutia Annur
17 Juli 2019, 12:00
otoritas AS larang Libra, Facebook tidak rilis libra
ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic
Logo Facebook yang dicetak 3D berdiri di motherboard PC terlihat dalam gambar ilustrasi, 26 Oktober 2017.

Facebook mengumumkan tidak akan merilis mata uang digital (cryptocurrency) Libra sampai mereka telah memenuhi peraturan perundang-undangan. Saat ini regulator Amerika Serikat (AS) khawatir terhadap mata uang kripto Libra yang dianggap berbahaya.

Head of Calibra David Marcus mengatakan hal itu kepada Komite Perbankan AS saat sidang mengenai mata uang digital tersebut berlangsung. "Ya, Libra akan mematuhi semua peraturan AS dan tidak diluncurkan sampai kekhawatiran anggota parlemen AS telah dijawab," ujar David seperti dikutip dari TechCrunch, Selasa (16/7).

David melanjutkan, instansinya akan menerima kompensasi dari Libra sebagai bukti kepercayaan terhadap mata uang digital milik Facebook tersebut.  Menurutnya, untuk menjual atau memonetisasi data pengguna secara langsung, maka platform itu akan meminta izin untuk menggunakan data pengguna secara khusus untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut.

(Baca: AS Siapkan Aturan Larang Perusahaan Teknologi Rilis Mata Uang Kripto)

Ketika berulang kali ditanya mengapa Facebook mendorong Libra untuk diluncurkan, David mengatakan bahwa teknologi blockchain tidak dapat dihindari dan jika AS tidak memimpin dalam membangun dan mengaturnya, teknologi tersebut akan datang dari tempat di luar jangkauan aparat keamanan nasional.

Menurutnya, AS seharusnya yang 'memimpin dunia' soal pembuatan aturan untuk cryptocurrency. Namun, akhirnya Asosiasi Libra memilih untuk berkantor pusat di Swiss. Bukan untuk menghindari tanggung jawab terhadap pengawasan, tetapi karena di situlah kelompok keuangan internasional seperti Bank untuk Penyelesaian Internasional berada, meskipun Calibra akan tetap diatur oleh Departemen Penegakan Kejahatan Keuangan Departemen Keuangan AS.

Baca: Sejumlah Tantangan Bayangi Perkembangan Mata Uang Kripto di Indonesia)

Alasan Regulator AS Khawatir dengan Libra

Lembaga regulator AS bereaksi terhadap gagasan bahwa Facebook dapat memanfaatkan 2 miliar penggunanya untuk menciptakan mata uang global.

Pertumbuhan pendapatan Facebook telah melambat dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga, perusahaan tersebut dianggap mencari cara baru untuk menghasilkan uang di luar iklan dari platformnya. 

Advertisement

Libra dianggap berpotensi membuka peluang pendapatan baru dalam pembayaran dan perdagangan. Mitra Facebook dalam proyek Libra, seperti Visa Inc. dan Uber Technologies Inc.

(Baca: Facebook dan Pebisnis Mata Uang Digital Klaim Libra Kebal Penipuan)

Sebelumnya, anggota Kongres AS dari kedua partai politik telah mengajukan pertanyaan tentang keamanan dan praktik Facebook, termasuk salah langkah yang menyebabkan Komisi Perdagangan Federal mendenda perusahaan senilai US$ 5 miliar.

Presiden AS Donald Trump mengunggah cuitan dalam Twitternya bahwa dia 'bukan penggemar' koin digital secara umum. Kemudian, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan kepada anggota parlemen dia memiliki kekhawatiran serius tentang mata uang digital tersebut.

Sedangkan, Sekretaris Bendahara Steven Mnuchin menggambarkan Libra sebagai masalah keamanan nasional karena peluang untuk pencucian uang dan kegiatan ilegal lainnya. Beberapa bank seperti Bank Sentral Eropa, Bank Inggris dan Menteri Keuangan Prancis juga khawatir terhadap Libra.

Namun, David  percaya bahwa ia dapat mengatasi kekhawatiran regulator AS dan para politisi tersebut. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis sebelum kesaksian senatnya, dia berjanji bahwa mata uang tidak akan digunakan sampai semua masalah telah diselesaikan.

(Baca: Delapan Keunggulan Libra, Mata Uang Digital Facebook )

Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait