Facebook hingga Twitter Dikritik Batasi Konten soal Israel Palestina

Banyak konten hoaks yang menyebar di media sosial seperti Facebook dan Twitter selama konflik Israel dan Palestina.
Image title
17 Mei 2021, 12:28
Israel, Palestina, Facebook
ANTARA FOTO/Didik Suhartono/foc.
Warga melakukan Aksi Bela Palestina di Surabaya, Jawa Timur, Senin (17/5/2021).

Platform media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp hingga Twitter membatasi penyebaran konten terkait konflik Israel dan Palestina. Para penggunanya mengecam pembatasan tersebut karena dianggap mengganggu kebebasan berpendapat.

Platform media sosial menjelaskan membatasi konten konflik Israel dan Palestina yang mengandung unsur hoaks. Salah satu contoh hoaks yang disebarkan di media sosial adalah video pernyataan juru bicara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Ofir Gendelman.

Dalam video tersebut Ofir mengatakan Palestina tampak meluncurkan serangan roket ke Israel dari daerah padat penduduk. Padahal, video berdurasi 28 detik itu telah direkayasa. Pernyataan Ofir yang sesungguhnya dalam konteks konflik Suriah dan Libya pada 2018 lalu.

Menurut analisis The New York Times, konten hoaks itu telah dibagikan ribuan kali di Twitter dan Facebook. Kemudian, konten juga menyebar ke grup WhatsApp dan Telegram yang memiliki ribuan anggota. Twitter kemudian menghapus video hoaks tersebut dan menandainya sebagai konten yang menyesatkan.

Analis politik dan peneliti independen Arieh Kovler mengatakan bahwa efek dari hoaks yang beredar di platform media sosial itu berpotensi memperpanjang ketegangan antara Israel dan Palestina. Sebab, dengan disebarkannya informasi salah itu, timbul kecurigaan dan ketidakpercayaan antara kedua pihak.

"Banyak rumor yang rusak, tetapi sekarang dibagikan karena orang sangat ingin berbagi informasi tentang situasi yang sedang terjadi," kata Kovler dikutip dari The New York Times pada akhir pekan lalu (15/5).

Namun, menurutnya kabar bohong itu sulit terdeteksi, karena berupa campuran dari klaim palsu dan hal-hal yang bersifat asli. "Para penyebar hoaks akan mengaitkan dengan tempat yang salah atau waktu yang salah," ujarnya.

Juru bicara WhatsApp, Christina LoNigro mengatakan bahwa perusahaan telah membatasi akses pada penggunanya untuk dapat meneruskan pesan yang mengandung konten disinformasi atau missinformasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Facebook juga telah menghapus beberapa kampanye disinformasi oleh Iran yang bertujuan untuk memicu ketegangan di antara Israel dan Palestina. Twitter juga menghapus jaringan akun palsu pada 2019. Akun itu digunakan untuk memfitnah penentang Netanyahu.

Kecaman Pembatasan Konten dari Pendukung Palestina


Tindakan platform media sosial yang membatasi konten hingga menghapus akun itu kemudian dikecam penggunanya. Beberapa pengguna media sosial juga mengeluh karena kesulitan mengakses konten terkait kondisi penduduk Palestina yang mengalami kekerasan.

Anggota Kebijakan dari lembaga pemikir Al Shabaka Marwa Fatafta mengatakan bahwa pengguna Instagram mengalami penyensoran secara terus menerus ketika ingin membagikan konten selama pekan lalu. Konten-konten itu terkait dengan kejadian serangan Israel ke kompleks Masjid Al Aqsa, jalur Gaza, termasuk kepada penduduk Syekh Jarrah.

Pengguna Instagram lainnya juga tidak bisa mengakses kondisi terkini konflik Israel dan Palestina. “Kami menuntut kejelasan tentang sensor ini," katanya dikutip dari Al Jazeera pekan lalu (12/5).

Rumah-rumah penduduk Palestina di Sheikh Jarrah memang telah mengalami penggusuran dan memicu ketegangan. Penduduk Palestina kemudian berjuang menuntut hak untuk kelangsungan hidup mereka.

"Namun, perusahaan media sosial membungkam suara Palestina saat mereka berjuang untuk kelangsungan hidup mereka," kata Marwa.

Penulis dari Palestina Mohammed el-Kurd juga beberapa kali memposting video dan cerita di fitur Instagram Stories tentang kekerasan yang dialami penduduk di Sheik Jarrah. Namun, ketika mengunggahnya, ia mendapatkan peringatan dari Instagram bahwa kontennya berpotensi dihapus.

Instagram mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pembaruan otomatis pekan lalu menyebabkan konten yang dibagikan ulang oleh beberapa pengguna tampak hilang. Hal itu memengaruhi postingan konten di Sheikh Jarrah. “Kami sangat menyesal ini terjadi," kata Instagram.

Tidak hanya konten yang disensor di Instagram, beberapa akun pro Palestina juga mengalami penangguhan di Twitter. Akun media sosial organisasi nirlaba 7amleh yang kerap menampilkan konten terkait dengan konflik Israel dan Palestina di Syekh Jarrah misalnya, mengalami penangguhan akun dari Twitter.

“Di Instagram, sebagian besar terjadi penghapusan konten. Di Twitter, kebanyakan kasus adalah penangguhan akun," kata penasihat advokasi di 7amleh, Mona Shtaya.

Twitter mengatakan akun tersebut ditangguhkan karena kesalahan oleh sistem otomatis platform. Namun, menurut Twitter konten telah dipulihkan.

Beberapa warganet juga mengeluhkan adanya penyensoran dan penangguhan akun pro Palestina. "Media sosial tidak pernah ditujukan untuk orang-orang yang terpinggirkan," kata warganet bernama @nooranhamdan di Twitter.

Pengguna Facebook bernama Fahmi Aviani Lestari mengatakan bahwa Instagram tidak menampilkan informasi seputar kekerasan di Palestina pada fitur explore mereka. "Setiap single post tentang Palestina atau postingan sejenis tidak akan pernah muncul di explore saya," katanya di akun Facebook-nya, Senin (17/5).

Menurutnya, akun-akun pro Palestina dengan pengikut tinggi juga tidak muncul di fitur home meski sudah mengikuti atau follow. "Jadi, pengguna harus kunjungi secara manual dengan ketik nama dia (akun pro Palestina)," kata Fahmi.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait