Apple dan Tesla Setop Sementara Pabrik di Cina Efek Pembatasan Listrik

Kebijakan pemerintah Cina yang mulai membatasi pasokan listrik tenaga batu bara menyulitkan operasional pabrik Apple dan Tesla.
Image title
27 September 2021, 14:51
apple, tesla, cina
ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo/AWW/sa.
Siluet pengguna ponsel terlihat di ping proyeksi layar logo Apple dalam ilustrasi gambar yang diambil pada Rabu (28/3/2018).

Pemasok perangkat Apple dan Tesla di Cina terpaksa menghentikan produksinya sejak akhir pekan lalu. Kebijakan pemerintah Cina yang akan membatasi pasokan listrik tenaga batu bara dalam upayanya bergerak menuju energi hijau menyulitkan operasional pabrik mereka.

Pemasok Apple Unimicron Technology Corp menghentikan produksinya sejak Minggu (26/9) hingga Kamis (30/9) nanti. "Kami akan mematuhi kebijakan pembatasan listrik pemerintah setempat," kata Unimicron dikutip dari Reuters pada Senin (27/9).

Esson Precision Engineering yang merupakan perusahaan afiliasi dari perakit iPhone Foxconn, juga menghentikan produksinya di Kanshan, Cina.

Padahal, produksi iPhone sedang memasuki musim puncak. Tercatat ada lebih dari dua juta pemesanan atau pre-order iPhone 13 oleh konsumen di Cina melalui toko resmi hingga e-commerce seperti JD.com dan Tmall.

Tidak hanya Apple, pemasok suku cadang utama untuk produk mobil listrik Tesla juga menangguhkan produksinya di Kanshan dalam sepekan.

Penghentian produksi terjadi seiring dengan kebijakan pemerintah Cina yang membatasi pasokan energi batu bara. Selama ini pasokan listrik dari batu bara itu masih dibutuhkan oleh produsen perangkat teknologi seperti Apple dan Tesla.

Presiden Cina Xi Jinping mengatakan kepada Majelis Umum PBB bahwa Cina akan berhenti membangun pembangkit listrik tenaga batu bara dalam upaya untuk bergerak menuju energi hijau.

Xi berjanji akan menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang berbahan bakar batu bara baru di luar negeri.

"Cina akan meningkatkan dukungan untuk negara-negara berkembang lainnya dalam mengembangkan energi hijau dan rendah karbon, dan tidak akan membangun proyek pembangkit listrik tenaga batu bara baru di luar negeri," kata Xi dikutip dari Reuters, pekan lalu (22/9).

Langkah tersebut dapat secara signifikan membatasi pembiayaan pada proyek PLTU batu bara di negara berkembang. Cina sendiri telah berada di bawah tekanan diplomatik yang kuat untuk mengakhiri pembiayaan pada PLTU batu bara di luar negeri.

Kebijakan tersebut diyakini dapat mempermudah dunia untuk tetap berada di jalur memenuhi komitmen tujuan perjanjian Paris untuk mengurangi emisi karbon.

Menurut data Cabron Brief, Cina merupakan negara dengan kapasitas PLTU batu bara terbesar di dunia yakni mencapai 972,5 gigawatt (GW). Negara itu memiliki 97 GW dalam radius 250 kilometer sepanjang delta Sungai Yangtze sekitar Shanghai.

Selain Cina, Carbon Brief juga mencatat 10 negara lainnya dengan kapasitas PLTU terbesar di dunia, termasuk di antaranya Indonesia. Simak databoks berikut:

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait