PLTS Saja Tak Cukup, Danone Dorong Skema Power Wheeling

Power wheeling atau pemanfaatan bersama jaringan listrik dianggap memberikan manfaat lebih besar dibandingkan PLTS.
Image title
22 Oktober 2021, 11:09
PLTS, power wheeling
ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc.
Pekerja membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (2/2/2021).

Beberapa perusahaan swasta menunjukkan komitmen menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam kegiatan operasinya. Salah satunya, Danon Indonesia yang memasang pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS di pabrik produksi air mineral merek Aqua.

Head of Climate & Water Stewardship, Danone Indonesia, Ratih Anggraeni mengatakan penggunaan PLTS saja sebenarnya tak cukup memenuhi kebutuhan energi bersih. Dia mengatakan swasta bisa berpeluang juga memanfaatkan sumber lain seperti panas bumi, angin, air dan matahari.

Namun, swasta masih terkendala dalam memanfaatkan sumber energi bersih tersebut. Dia berharap pemerintah dapat membukakan pintu kepada sektor swasta yang ingin terlibat dalam mendukung transisi ke energi bersih.

Misalnya melalui implementasi dari mekanisme power wheeling atau pemanfaatan bersama jaringan listrik. Kemudian sertifikasi EBT atau Renewable Energy Certificate dari pembangkit baru, atau skema power purchase agreement (PPA).

Ratih mengatakan, akses bersama jaringan listrik  akan jauh lebih besar manfaatnya dari PLTS. "Yang kemudian semua lebih kompetitif dan affordable karena penggunaan PLTS saja sebenarnya hanya bisa menggantikan sekitar 10-15% dari total kebutuhan sehingga sisanya kita perlu accelerate," ujarnya dalam acara Katadata & Landscape Indonesia - Road to COP26, Jumat (22/10).

Ratih mengusulkan pemerintah mengatur regulasi sehingga swasta dapat memenuhi kebutuhan pasokan energi dari sumber energi bersih lain untuk operasional perusahaan. Penggunaan energi bersih ini pun sejalan dengan visi pemerintah untuk memenuhi target bauran EBT 23% pada 2025.

Di sisi lain, sebagai bagian dari perusahaan Renewable Electricity (RE) 100, perusahaan juga berkomitmen untuk mencapai 100% penggunaan energi terbarukan pada 2030, serta mencapai net zero emission di sepanjang rantai pasoknya pada tahun 2050.

"Target 100 persen untuk carbon neutral 2050 reduction emission kita sudah mencapai hampir 25% compare 2015," ujarnya.

Sejumlah perusahaan nasional dan multinasional telah berkomitmen untuk transisi ke energi baru terbarukan (EBT). Salah satu kunci yang menentukan keberhasilan transisi ini adalah implementasi pemanfaatan bersama jaringan listrik atau power wheeling.

Head of Energy and Environment Policy Asia-Pacific, Amazon Web Services (AWS), Ken Haig, sebelumnya mengatakan bahwa Indonesia sudah memiliki regulasi yang mengatur power wheeling. Namun perusahaan masih bingung untuk mengimplementasikan aturan ini.

"Sebelum laksanakan harus jelas apa syarat syarat project power wheeling," katanya beberapa waktu lalu.

Beberapa perusahaan bahkan mengaku siap untuk menguji coba implementasi power wheeling melalui suatu pilot project untuk mulai merumuskan detail teknis mekanisme ini. Pasalnya hingga kini belum ada petunjuk teknis secara mendetail mengenai power wheeling di Indonesia.

Salah satu perusahaan yang menyatakan siap menjadi pelaksana pilot project yaitu PT Multi Bintang Indonesia. "Dengan adanya interest ini, ada kesempatan untuk melakukan pilot project sambil belajar bersama-sama PLN dan pemerintah. Kami siap berkolaborasi," kata Corporate Affairs Director Ika Noviera.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait