Rupiah Berpotensi Menguat Didorong Rekor Baru PMI Manufaktur

Agatha Olivia Victoria
4 Mei 2021, 11:05
rupiah, PMI Manufaktur
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
Karyawan menunjukkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di tempat penukaran valuta asing, Jakarta, Rabu (6/1/2021).

Nilai tukar rupiah dibuka stagnan pada level Rp 14.450 per dolar AS pada pasar spot pagi ini, Selasa (4/5). Rupiah sempat menguat beberapa saat setelah pembukaan karena sentimen data dalam negeri yang membaik seperti rekor baru Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia.

Pergerakan mata uang Asia bervariasi pagi ini, seperti yen Jepang melemah 0,14%, dolar Singapura 0,23%, peso Filipina 0,01%, yuan Tiongkok 0,04%, ringgit Malaysia 0,09%, dan baht Thailand 0,08%. Sedangkan dolar Hong Kong menguat 0,01%, dolar Taiwan 0,02%, won Korea Selatan 0,08%, serta rupee India 0,2%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, membaiknya data aktivitas manufaktur dan stabilnya angka inflasi bulan April di Indonesia menguatkan rupiah. "Selain itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang kembali menurun ke kisaran 1,6% juga menjaga rupiah," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5).

Beberapa data dalam negeri menunjukkan optimisme. Salah satunya IHS Markit merilis Purchasing Managers’ Index atau PMI Manufaktur Indonesia yang mencetak rekor pada April 2021. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan data ini menunjukkan arah pemulihan ekonomi domestik terus terlihat. "Ini sejalan dengan menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia didukung program vaksinasi secara nasional," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: Hasil Rapat Berkala II KSSK Tahun 2021, kemarin.

Sri Mulyani menyebutkan sejak Maret 2021 sejumlah indikator dini ekonomi memang sudah menuju ke arah perbaikan. PMI Manufaktur Tanah Air telah berada di zona ekspansi yakni 53,2 dan terus menguat ke 54,6 pada April.



Kendati begitu, Ariston memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi tertekan hari ini terhadap dolar AS. "Kekhawatiran terhadap penularan varian baru Covid-19 di kawasan Asia Tenggara bisa menjadi alasan pelemahan tersebut," ujar dia.

Menurut ia, varian baru ini lebih cepat menginfeksi manusia dibandingkan varian sebelumnya. Potensi pergerakan rupiah hari ini antara Rp 14.430-14.500 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, rupiah berpeluang menguat dalam jangka pendek di tengah outlook pelemahan dolar AS pasca semalam data indeks manufaktur AS yang dirilis oleh ISM hasilnya lebih rendah dari estimasi. "Selain itu, pernyataan Ketua Bank Sentral AS, The Fed Jerome Powell yang cenderung dovish turut menjadi sentimen," kata Faisyal kepada Katadata.co.id, Selasa (4/5).

Powell mengatakan, AS belum keluar dari masalah meski ekonominya bekerja lebih baik. Hal ini memperkuat pernyataan sebelumnya bahwa kebijakan akomodatif di Negeri Paman Sam masih akan berlanjut.

Meski demikian, Faisyal memproyeksikan penguatan rupiah berpotensi terbatas jika pasar mencemaskan perkembangan pandemi Covid-19 global, khususnya di India yang semakin memburuk. Potensi rentang hari ini Rp 14.400 - 14.510 per dolar AS.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait